Awas! Ini 5 Dampak Buruk Konsumsi Keju Berlebihan untuk Kesehatan
Makan keju terlalu banyak bisa berdampak buruk bagi tubuh. Pelajari gejala yang muncul akibat kelebihan keju dan cara mengatasinya sebelum terlambat.
Keju adalah makanan yang banyak digemari karena rasanya lezat dan teksturnya yang kaya. Selain enak, keju juga dikenal bergizi karena mengandung protein, kalsium, vitamin, dan mineral penting lainnya.
Tak hanya itu, keju juga cocok dipadukan dengan berbagai makanan sehat, seperti biskuit gandum utuh dan irisan buah segar. Namun, mengonsumsi keju terlalu banyak ternyata bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
Dilansir dari timesofindia.indiatimes.com, artikel ini akan membahas beberapa tanda yang perlu diwaspadai jika tubuh mulai bereaksi akibat kelebihan konsumsi keju.
1. Masalah Pencernaan Akibat Intoleransi Laktosa
Salah satu tanda paling umum dari konsumsi keju berlebihan adalah gangguan pencernaan. Keju mengandung laktosa, yakni gula alami dalam susu, yang membutuhkan enzim laktase untuk bisa dicerna dengan baik oleh tubuh. Sayangnya, banyak orang dewasa mengalami defisiensi enzim ini sehingga kesulitan mencerna laktosa.
Akibatnya, mereka bisa mengalami gejala seperti perut kembung, produksi gas berlebih, hingga diare. Gejala ini umumnya muncul dalam rentang waktu 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi keju, terutama pada mereka yang memiliki intoleransi laktosa. Studi tahun 2012 dari The Journal of Pediatrics bahkan menunjukkan bahwa menghilangkan susu sapi dari pola makan anak dapat mengurangi gejala refluks asam.
2. Kenaikan Berat Badan Tanpa Sebab yang Jelas
Banyak orang menganggap keju sebagai camilan yang sehat, tetapi lupa bahwa keju juga merupakan sumber kalori dan lemak jenuh yang tinggi. Mengonsumsi keju dalam jumlah besar dapat dengan mudah menyebabkan kelebihan asupan kalori harian tanpa disadari.
Jika Anda mengalami kenaikan berat badan meskipun tidak ada perubahan signifikan dalam pola makan atau aktivitas fisik, bisa jadi keju adalah penyebab utamanya. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan porsi dan jenis keju yang dikonsumsi. Tips sederhana untuk menyiasati hal ini adalah memilih keju dengan rasa yang tajam atau kuat, sehingga Anda cenderung merasa cukup hanya dengan porsi kecil.
3. Dampak Buruk bagi Jantung dan Tekanan Darah
Banyak jenis keju mengandung kadar sodium yang tinggi. Asupan garam berlebih diketahui dapat meningkatkan tekanan darah dan memperberat kerja sistem kardiovaskular. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Selain natrium, keju juga tinggi akan lemak jenuh yang berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol LDL, atau kolesterol "jahat" dalam darah. American Heart Association menyarankan agar orang dengan risiko penyakit jantung menghindari keju dengan kandungan lemak dan garam yang tinggi, serta memilih varian rendah lemak dan rendah sodium untuk mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan jantung.
4. Gangguan Kulit Seperti Jerawat dan Eksim
Konsumsi keju yang berlebihan juga bisa berdampak pada kesehatan kulit. Kandungan hormon dalam produk susu dapat merangsang produksi sebum atau minyak berlebih di kulit, yang pada akhirnya menyumbat pori-pori dan memicu munculnya jerawat.
Selain jerawat, beberapa individu yang memiliki intoleransi terhadap produk susu juga melaporkan munculnya ruam kulit dan eksim. Hal ini diperkuat oleh sebuah tinjauan ilmiah pada tahun 2015 dalam Postgraduate Medical Journal, yang menemukan bahwa penderita intoleransi laktosa kerap mengalami gangguan kulit setelah mengonsumsi produk olahan susu.
5. Sendi Kaku dan Rasa Nyeri Akibat Peradangan
Tanda lain dari konsumsi keju berlebih yang mungkin tidak banyak disadari adalah nyeri sendi dan rasa kaku yang muncul secara tiba-tiba. Dalam kasus tertentu, hal ini bisa disebabkan oleh protein dalam susu seperti casein, yang dapat memicu respon peradangan pada sebagian orang.
Jika Anda merasa sendi-sendi menjadi nyeri atau tubuh terasa kaku setelah mengonsumsi keju, kemungkinan besar tubuh Anda menunjukkan reaksi terhadap kandungan tersebut. Mengganti produk susu dengan alternatif berbasis nabati atau mengurangi frekuensi konsumsi keju bisa membantu meredakan gejala ini.
Walau mengandung banyak nutrisi bermanfaat, keju sebaiknya tetap dikonsumsi dalam jumlah wajar. Jika tubuh menunjukkan gejala seperti masalah pencernaan, kulit, atau tekanan darah setelah makan keju, mungkin waktunya untuk mengurangi porsinya atau memilih jenis keju yang lebih sehat. Bila perlu, konsultasikan dengan ahli gizi agar konsumsi keju tetap aman dan sesuai kebutuhan tubuh.