Peneliti Kanada Temukan Konsumsi Keju Bisa Picu Mimpi Buruk
Selain menyebabkan mimpi buruk, mengonsumsi keju juga diketahui dapat mengganggu kualitas tidur seseorang.
Jika Anda sering mengalami mimpi buruk atau kesulitan tidur setelah mengonsumsi makanan tertentu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hal tersebut bukan hanya sekadar mitos.
Penelitian yang mengeksplorasi hubungan antara pola makan, kualitas tidur, dan mimpi menemukan bukti kuat bahwa konsumsi produk susu dapat berkontribusi pada munculnya mimpi buruk, terutama bagi mereka yang memiliki intoleransi laktosa.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology melibatkan lebih dari 1.000 mahasiswa dan menunjukkan bahwa gangguan pencernaan akibat intoleransi laktosa pada malam hari dapat memengaruhi kualitas tidur dan isi mimpi.
"Tingkat keparahan mimpi buruk sangat berkaitan dengan intoleransi laktosa dan alergi makanan lainnya," ungkap Dr. Tore Nielsen, peneliti utama dari Universit de Montréal, seperti yang dikutip dari situs Frontiersin.org pada Rabu (28/1).
Menurut Dr. Nielsen, perubahan sederhana dalam pola makan dapat membantu mengurangi frekuensi mimpi buruk pada individu dengan sensitivitas terhadap makanan tertentu.
"Ini juga dapat menjelaskan mengapa produk susu sering dianggap sebagai penyebab mimpi buruk," tambahnya.
Penelitian ini melibatkan 1.082 mahasiswa dari Universitas MacEwan di Kanada, di mana para responden diminta untuk melaporkan kebiasaan makan mereka, kualitas dan durasi tidur, serta frekuensi mimpi dan mimpi buruk yang dialami, termasuk kondisi kesehatan fisik dan mental mereka.
Sekitar sepertiga dari peserta mengaku mengalami mimpi buruk secara teratur. Hasil survei menunjukkan bahwa perempuan lebih cenderung mengingat mimpi, melaporkan kualitas tidur yang buruk, dan hampir dua kali lebih mungkin dibandingkan laki-laki untuk mengalami intoleransi atau alergi makanan.
Selain itu, sekitar 40 persen responden meyakini bahwa makan larut malam atau mengonsumsi makanan tertentu dapat memengaruhi kualitas tidur mereka, sementara seperempat lainnya merasa bahwa makanan tertentu dapat memperburuk tidur.
Para peneliti menemukan bahwa pola makan yang tidak sehat berkorelasi dengan meningkatnya frekuensi mimpi buruk dan menurunnya kemampuan untuk mengingat mimpi.
Sebaliknya, kebiasaan makan yang lebih sehat berhubungan dengan kualitas tidur yang lebih baik dan ingatan mimpi yang lebih jelas.
Hasil Penelitian
Banyak responden yang mengaitkan masalah tidur dengan konsumsi makanan, terutama makanan manis, pedas, dan produk susu.
Meskipun hanya 5,5 persen dari peserta yang merasa makanan berdampak pada suasana mimpi mereka, kelompok ini secara konsisten mengidentifikasi produk susu sebagai penyebab mimpi yang lebih mengganggu atau aneh.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa intoleransi laktosa berkaitan erat dengan gejala gastrointestinal, kualitas tidur yang buruk, dan mimpi buruk.
Para peneliti berpendapat bahwa ketidaknyamanan fisik, seperti perut kembung atau nyeri saat malam hari, dapat memengaruhi isi mimpi seseorang.
"Mimpi buruk cenderung lebih parah pada penderita intoleransi laktosa yang mengalami gangguan pencernaan berat dan tidur terganggu," ungkap Nielsen.
Ia juga menambahkan bahwa mimpi buruk yang terjadi berulang kali dapat membangunkan individu dalam keadaan tidak nyaman, yang kemudian memicu perilaku menghindari tidur, sehingga kualitas istirahat semakin memburuk.
Perlu Kajian Lebih Mendalam
Walaupun demikian, para peneliti menekankan bahwa hubungan antara diet dan tidur perlu diteliti lebih dalam. Ada kemungkinan bahwa pola makan berpengaruh terhadap kualitas tidur, atau sebaliknya, gangguan tidur dapat menyebabkan seseorang memilih pola makan yang tidak sehat.
Selain itu, faktor lain juga mungkin berkontribusi dalam memengaruhi kedua aspek tersebut. Nielsen menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut dengan melibatkan berbagai usia dan latar belakang sangat penting untuk memastikan apakah temuan ini dapat diterapkan secara umum.
Ia juga mendorong dilakukannya penelitian eksperimental, termasuk uji coba konsumsi makanan tertentu sebelum tidur, untuk menilai dampaknya terhadap tidur dan mimpi.
"Masih banyak yang perlu dipelajari. Namun temuan ini membuka peluang bahwa intervensi diet sederhana dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan," ujarnya.