Teror 30.000 Dolar Bitcoin di Sekolah Internasional: Istana Ingatkan Waspada Ancaman Bom Sekolah Hoaks
Istana mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap informasi bohong menyusul insiden Ancaman Bom Sekolah Hoaks di Jakarta yang meminta tebusan 30.000 dolar Bitcoin. Mengapa kita harus lebih kritis?
Menteri Sekretaris Prasetyo Hadi mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya hoaks menyusul ancaman bom di sekolah internasional di Jakarta yang terbukti tidak benar. Kejadian ini menjadi pengingat penting akan bahaya penyebaran informasi palsu. Pemerintah menekankan kewaspadaan terhadap kabar bohong, terutama yang menyangkut keamanan publik.
Insiden ini melibatkan North Jakarta Intercultural School (NJIS) yang menerima ancaman teror bom via SMS dari nomor asing pada Selasa (7/10) sekitar pukul 05.09 WIB. Pelaku mengklaim telah menanam bom dan meminta tebusan 30.000 dolar AS dalam bentuk Bitcoin. Ancaman ini segera dilaporkan ke pihak kepolisian untuk penanganan lebih lanjut.
Polsek Kelapa Gading bersama tim Penjinak Bom Detasemen Gegana Polda Metro Jaya segera melakukan penyisiran di seluruh area sekolah. Hasil penyisiran menunjukkan tidak ada benda mencurigakan atau bahan peledak yang ditemukan. Pihak berwenang kini tengah menelusuri jejak digital pengirim pesan ancaman tersebut.
Imbauan Istana: Waspada Ancaman Bom Sekolah Hoaks dan Informasi Palsu
Menteri Sekretaris Prasetyo Hadi secara tegas mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Ia menyoroti fenomena maraknya hoaks yang seringkali tidak berdasar setelah dilakukan pengecekan. Kejadian ancaman bom di sekolah internasional menjadi contoh nyata bagaimana informasi palsu dapat menimbulkan keresahan.
Prasetyo menekankan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap penyebaran kabar bohong, khususnya yang berkaitan dengan isu keamanan publik. "Apalagi, mohon maaf kalau sudah bicara misalnya itu menyangkut gangguan keamanan, apalagi di situ bom, apalagi lokasinya tempat pendidikan, itu kan sangat-sangat sensitif," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi dampak serius dari hoaks semacam itu.
Pemerintah meminta masyarakat untuk tidak sembarangan menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi, terutama jika menyangkut keselamatan dan keamanan. Pesan Presiden Joko Widodo yang berulang kali disampaikan adalah agar masyarakat selalu waspada dan melakukan cek ulang terhadap setiap informasi. Semangat ini diharapkan dapat membangun bangsa yang lebih kritis dalam menerima berita.
Istana juga menegaskan pentingnya fokus pada hal-hal produktif dan tidak mudah terjebak pada isu yang sengaja dibuat oleh pihak tidak bertanggung jawab. Ada banyak pekerjaan rumah yang lebih substansial daripada sekadar menanggapi provokasi dari informasi yang meresahkan. Ini adalah upaya untuk menjaga stabilitas dan ketenangan di tengah masyarakat.
Kronologi Ancaman Teror Bom di NJIS
Insiden ancaman teror bom ini menargetkan North Jakarta Intercultural School (NJIS) yang berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ancaman tersebut dikirimkan dari nomor asing dengan kode negara +234, yang diidentifikasi berasal dari Nigeria. Pesan ini diterima melalui pesan singkat (SMS) pada Selasa (7/10) sekitar pukul 05.09 WIB oleh pihak marketing sekolah.
Isi pesan ancaman tersebut sangat spesifik dan meresahkan. Pelaku mengklaim telah menanam bom di lingkungan sekolah dan mengancam akan meledakkannya dalam 45 menit. Mereka juga menuntut tebusan sebesar 30.000 dolar AS yang harus dibayarkan dalam bentuk mata uang kripto Bitcoin.
"Pesan untuk semua, kami punya bom di sekolahmu. Bomnya akan meledak dalam 45 menit. Jika kamu tidak setuju, bayar 30.000 dolar Amerika ke alamat Bitcoin kami," demikian bunyi ancaman yang diterima oleh NJIS. Ancaman ini jelas dirancang untuk menciptakan kepanikan dan memaksa pembayaran.
Ancaman serius ini segera ditindaklanjuti oleh pihak sekolah dengan melaporkannya kepada kepolisian. Respons cepat ini menunjukkan keseriusan dalam menangani potensi bahaya, meskipun pada akhirnya terbukti sebagai ancaman palsu. Pihak berwenang bergerak cepat untuk memastikan keamanan.
Respons Cepat Aparat dan Penelusuran Jejak Digital
Setelah laporan diterima, Polsek Kelapa Gading segera berkoordinasi dengan tim Penjinak Bom Detasemen Gegana Polda Metro Jaya. Tim gabungan ini langsung bergerak cepat melakukan penyisiran menyeluruh di seluruh area sekolah pada Rabu (8/10) pagi. Sebanyak 21 personel Gegana dikerahkan untuk operasi ini.
Penyisiran dilakukan secara detail, mencakup setiap sudut sekolah, mulai dari ruang kelas, laboratorium, hingga area bermain anak-anak. Kapolsek Kelapa Gading Kompol Seto Handoko memastikan bahwa "Penyisiran dilakukan untuk memastikan keamanan lingkungan sekolah. Tidak ditemukan benda mencurigakan atau bahan peledak." Ini menegaskan bahwa ancaman tersebut adalah hoaks.
Prasetyo Hadi juga menambahkan bahwa koordinasi telah dilakukan dengan berbagai lembaga terkait seperti Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan Polri. Sinergi antarlembaga ini penting untuk menangani isu keamanan, termasuk ancaman palsu yang berpotensi mengganggu ketertiban.
Saat ini, pihak kepolisian masih terus menelusuri jejak digital pengirim pesan ancaman bom tersebut. Penyelidikan ini bertujuan untuk mengidentifikasi pelaku di balik Ancaman Bom Sekolah Hoaks ini dan mencegah kejadian serupa terulang. Upaya ini menunjukkan komitmen aparat dalam menjaga keamanan dan memberantas penyebaran informasi palsu.
Sumber: AntaraNews