Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR) Sumatera, menegaskan hunian sementara pascabencana telah membawa kembali kebahagiaan bagi penyintas. Peninjauan di Desa Tunyang, Bener Meriah, Aceh, menunjukkan perubahan signifikan kondisi warga.
Pada Jumat (24/4), Tito menyaksikan langsung senyum dan tawa warga yang sebelumnya diliputi kesedihan mendalam. Kehadiran huntara yang dilengkapi fasilitas publik memadai menjadi kunci pemulihan mereka.
Program ini bertujuan memastikan keberlangsungan hidup penyintas sambil menunggu pembangunan hunian tetap. Berbagai bantuan juga disalurkan untuk meringankan beban ekonomi mereka.
Advertisement
Advertisement
Transformasi Hidup di Hunian Sementara Pascabencana
Tito Karnavian menyoroti perubahan drastis kondisi penyintas di Desa Tunyang. Dua bulan lalu, mereka masih dalam kesedihan setelah bencana hidrometeorologi. Kini, suasana telah berganti menjadi penuh harapan.
Hunian sementara atau huntara di lokasi tersebut dibangun dengan sangat rapi dan dilengkapi fasilitas lengkap. Tersedia sanitasi, tempat bermain anak, fasilitas olahraga, aula, serta masjid. Ini mendukung kegiatan masyarakat dan pemulihan psikologis.
"Ini (huntara) luar biasa saya enggak banyak melihat yang seperti ini," kata Tito. Ia menambahkan, "Sangat rapi dan mereka juga terlihat sekali wajah masyarakat jauh beda waktu kita dua bulan lalu datang, mereka menangis, di sini mereka sudah tersenyum tertawa."
Advertisement
Keberadaan fasilitas ini krusial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Lingkungan yang mendukung proses pemulihan pascabencana bagi seluruh keluarga.
Advertisement
Bantuan Berkelanjutan dan Percepatan Pendataan Hunian Tetap
Selain huntara, Satgas PRR juga memastikan penyaluran aneka bantuan kepada penyintas. Bantuan ini meliputi jaminan hidup (jadup) sebesar Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan.
Ada pula bantuan isi hunian senilai Rp3 juta dan bantuan ekonomi sebesar Rp5 juta per kepala keluarga. Skema bantuan ini penting untuk menjamin keberlangsungan hidup mereka.
Tito juga menekankan pentingnya percepatan pendataan penerima hunian tetap (huntap) kepada Pemerintah Kabupaten Bener Meriah. Terdapat dua model huntap yang memerlukan validasi data.
Advertisement
"Jadi saya memerlukan data itu secepat mungkin," ujar Tito. Ia meminta Bupati Bener Meriah untuk mendatangi warga guna mengetahui pilihan mereka terkait huntap in-situ atau komunal.
Advertisement
Kisah Kartini: Dari Duka Menuju Harapan di Hunian Sementara Pascabencana
Salah satu penyintas, Kartini, mengungkapkan rasa harunya saat bertemu Tito Karnavian. Ia mengingat kembali pertemuannya dua bulan lalu dalam suasana duka mendalam.
Kartini kehilangan suaminya akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025. Kala itu, ia bingung memikirkan nasib anak-anaknya setelah kehilangan tulang punggung keluarga.
"Waktu itu saya cerita, dan Pak Tito tahu, saya kehilangan suami saya," kenang Kartini. Ia menambahkan, "Waktu itu Pak Tito bilang bakal secepatnya bangunkan huntara, supaya saya dan anak-anak tinggal (di hunian) layak."
Advertisement
Kini, Kartini dan kedua anaknya merasa jauh lebih baik tinggal di huntara. Ia menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan pemerintah. "Jujur sangat meredakan (kesulitan hidup) kami ketimbang waktu di tenda," kata Kartini.
Sumber: AntaraNews