Prabowo Subianto: Bangsa Mustahil Makmur Jika Pemimpin Saling Hasut, Ibaratkan Tim Sepak Bola yang Solid
Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya Prabowo Persatuan Pemimpin demi kemakmuran bangsa, mengingatkan bahwa saling hasut hanya menghambat pertumbuhan ekonomi.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa kemakmuran suatu bangsa tidak akan pernah tercapai apabila para pemimpinnya saling menjelekkan dan menghasut satu sama lain. Pernyataan ini disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Trans Convention Centre, Kota Bandung, Jawa Barat, pada hari Sabtu.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo Subianto mengibaratkan proses demokrasi yang sehat dengan kerja sama tim sepak bola yang solid dalam upaya mencetak gol. Menurutnya, tanpa adanya sinergi dan kolaborasi, tujuan bersama untuk memajukan bangsa akan sulit diwujudkan.
Ia menyoroti bahwa ambisi kekuasaan yang berujung pada perpecahan dan penyebaran ketakutan hanya akan menurunkan optimisme masyarakat. Hal ini menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.
Pentingnya Kerja Sama dalam Demokrasi Kekeluargaan
Prabowo Subianto secara tegas menyatakan bahwa bangsa tidak akan mungkin makmur jika pimpinannya terus-menerus gontok-gontokan. Ia menekankan pentingnya Prabowo Persatuan Pemimpin sebagai fondasi utama untuk mencapai kemajuan.
"Tidak mungkin satu tim bisa masukin gol, kalau tidak kerja sama. Tidak mungkin, bangsa tidak mungkin makmur kalau pimpinannya gontok-gontokan, kalau pimpinannya karena ambisi ingin berkuasa, menjelek-jelekkan, menghasut menimbulkan ketakutan, menurunkan optimisme," kata Presiden Prabowo dalam sambutannya.
Ia juga menegaskan bahwa sistem demokrasi di Indonesia seharusnya berlandaskan pada prinsip kekeluargaan, di mana perbedaan pandangan disikapi dengan musyawarah untuk mufakat. Saling menjelekkan sesama anak bangsa hanya akan memperlebar jurang perpecahan, padahal tantangan yang dihadapi adalah sama.
Dampak Negatif Konflik Pemimpin terhadap Ekonomi dan Pembangunan
Kepala Negara mengungkapkan rasa sedihnya melihat sesama bangsa Indonesia saling menjatuhkan, padahal semua pihak menghadapi masalah krusial yang sama, yaitu peningkatan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Menurut Prabowo, ekonomi nasional tidak akan dapat tumbuh dengan cepat jika para pemimpinnya terus-menerus saling menjelekkan dan menebar kebencian.
Prabowo juga menyinggung tindakan anarkis yang dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan aktivis demokrasi. Ia mengkritik keras aksi pembakaran gedung lembaga demokrasi, seperti DPR, yang notabene dibangun dengan uang rakyat. Tindakan merusak fasilitas umum seperti terminal bus juga menjadi sorotannya.
"Katanya aktivis demokrasi, tapi membakar lembaga-lembaga demokrasi, membakar gedung DPR yang dibayar dengan uang rakyat, yang dibayar dengan uang rakyat, merusak terminal bus. Yang pakai bus itu orang yang enggak punya mobil," ujarnya, menyoroti ironi di balik tindakan tersebut.
Komitmen Prabowo untuk Bangsa Indonesia
Meskipun demikian, Prabowo Subianto meyakini bahwa mayoritas rakyat Indonesia tidak akan mudah terpengaruh oleh hasutan dan perpecahan. Ia menyatakan komitmennya untuk terus bekerja keras demi kemajuan bangsa.
Bersama dengan koalisi partai dan organisasi yang mendukungnya, Prabowo mengaku tidak ragu sedikit pun dalam melaksanakan tugasnya untuk Indonesia. Ia bertekad untuk fokus pada pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Adapun kehadiran Presiden Prabowo Subianto di UKRI adalah dalam rangka Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Mahasiswa Baru Sarjana dan Magister Tahun Ajaran 2025/2026, serta Wisuda Sarjana dan Dies Natalis UKRI Tahun 2025. Acara ini juga mencakup prosesi penyematan simbolis kepada perwakilan mahasiswa baru dan wisudawan terbaik.
Sumber: AntaraNews