MPR: Keseimbangan Ilmu dan Iman, Kunci Generasi Muda Berdaya Saing, Ternyata Sumpah Palapa Berasal dari Mojokerto!
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menekankan pentingnya Keseimbangan Ilmu dan Iman bagi generasi muda. Ia juga mengingatkan sejarah Majapahit dan Sumpah Palapa yang berlokasi di Mojokerto.
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan pentingnya keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan iman dalam membentuk karakter generasi muda. Pernyataan ini disampaikan Lestari dalam acara Temu Muda Inspiratif yang berlangsung di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur, pada Selasa (01/10).
Dalam kesempatan tersebut, Lestari Moerdijat menekankan bahwa keseimbangan ini merupakan fondasi utama untuk menciptakan generasi muda yang tidak hanya berkarakter kuat tetapi juga memiliki daya saing tinggi di kancah global. Ia mengingatkan bahwa pembangunan Indonesia di masa depan akan sangat bergantung pada peran aktif para pemuda.
Acara yang dihadiri oleh para santri ini menjadi wadah bagi Lestari untuk menyampaikan pesan inspiratif mengenai pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab. Ia juga menyoroti pentingnya meneladani nilai-nilai luhur dari sejarah bangsa untuk kemajuan Indonesia.
Pentingnya Keseimbangan Ilmu dan Iman untuk Masa Depan Bangsa
Lestari Moerdijat secara lugas menyatakan bahwa ilmu dan iman adalah "senjata penting untuk menguasai dunia." Menurutnya, memiliki ilmu tanpa diimbangi iman hanya akan berujung pada kehampaan, sehingga kedua aspek ini harus berjalan seiringan. Keseimbangan Ilmu dan Iman menjadi krusial dalam membentuk individu yang utuh dan berintegritas.
Ia juga menyoroti peran generasi muda sebagai penerus pembangunan bangsa. Di tangan mereka, masa depan Indonesia akan ditentukan, sehingga pembekalan karakter dan kemampuan bersaing menjadi prioritas. Pembentukan karakter yang kuat melalui Keseimbangan Ilmu dan Iman akan membekali mereka menghadapi tantangan zaman.
Selain itu, Lestari mengingatkan agar perkembangan teknologi yang pesat dapat dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab. Generasi muda diharapkan mampu menguasai teknologi bukan untuk tujuan negatif, melainkan sebagai alat untuk berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Pemanfaatan teknologi dengan landasan iman akan mencegah penyalahgunaan.
Meneladani Sejarah Bangsa dari Mojokerto: Sumpah Palapa dan Bhinneka Tunggal Ika
Dalam sambutannya, Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, mengungkapkan bahwa sejarah Indonesia mencatat bangsa ini sebagai bangsa yang besar dan kaya akan nilai-nilai luhur. Ia secara khusus menyoroti kejayaan Kerajaan Majapahit yang berlokasi di Mojokerto, Jawa Timur.
Rerie mengingatkan kembali tentang Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Patih Gajah Mada pada zaman Majapahit. Sumpah tersebut merupakan tekad Patih Gajah Mada untuk tidak akan beristirahat atau menikmati kesenangan (amukti palapa) sebelum berhasil mempersatukan seluruh Nusantara. Semangat persatuan ini relevan hingga kini.
Lebih lanjut, anggota Komisi X DPR RI ini juga menyebutkan Mpu Tantular, penyair sastra Jawa Kuno, yang menggagas ungkapan "Bhinneka Tunggal Ika" dalam Kitab Sutasoma. Ungkapan yang berarti "berbeda-beda tetapi tetap satu" ini menjadi filosofi bangsa Indonesia. Rerie menegaskan bahwa "Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak perlu dipertentankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia."
Cita-cita Tinggi dan Kerja Keras sebagai Fondasi Kesuksesan Generasi Muda
Sebelumnya, Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Kyai Asep Saifuddin Chalim, turut memberikan pesan inspiratif kepada para santri. Kyai Asep menekankan bahwa generasi muda harus memiliki "nilai" yang tinggi, yang tidak hanya dilihat dari penampilan semata.
Menurut Kyai Asep Saifuddin, nilai seorang pemuda justru terletak pada tingginya cita-cita yang mereka miliki. Ia menegaskan, "Cita-cita seorang pemuda harus tinggi dan pada saatnya cita-cita itu harus menjadi kenyataan." Pesan ini mendorong para santri untuk berani bermimpi besar.
Untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan, Kyai Asep Saifuddin menegaskan bahwa semuanya harus diawali dengan cita-cita yang tinggi, diikuti dengan kerja keras dan usaha sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Dengan demikian, Keseimbangan Ilmu dan Iman akan semakin lengkap dengan semangat juang yang tinggi.
Sumber: AntaraNews