Mengenal Tugu Keadilan Ekologis di Sumba: Simbol Perjuangan Martabat Bangsa dan Astacita Prabowo
Peresmian Tugu Keadilan Ekologis di Waingapu, Sumba Timur, menjadi penanda penting perjuangan lingkungan hidup. Simak bagaimana monumen ini merefleksikan Astacita Presiden Prabowo dan Deklarasi Hari Keadilan Ekologis Sedunia.
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan B Najamudin secara resmi meresmikan Tugu Keadilan Ekologis di Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Monumen ini menjadi simbol penting dalam upaya mewujudkan lingkungan hidup yang berkelanjutan sesuai Astacita Presiden Prabowo.
Peresmian yang berlangsung pada Sabtu, 20 September, ini juga menandai Deklarasi Hari Keadilan Ekologis Sedunia. Acara tersebut merupakan puncak dari Pekan Raya Lingkungan Hidup Ke-14 yang diselenggarakan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Lebih dari 800 aktivis lingkungan dari seluruh Indonesia serta perwakilan dunia turut hadir memeriahkan agenda ini.
Tugu ini bukan sekadar monumen biasa, melainkan representasi perjuangan martabat bangsa dalam menjaga kelestarian alam. Keadilan ekologis ditekankan sebagai hak fundamental bagi sungai untuk mengalir tanpa racun, hak hutan untuk tumbuh tanpa dibakar, serta seluruh makhluk hidup untuk hidup dalam keseimbangan yang adil.
Tugu Keadilan Ekologis: Simbol Perjuangan dan Kolaborasi
Sultan B Najamudin menegaskan bahwa Tugu Keadilan Ekologis memiliki makna mendalam, melampaui sekadar struktur fisik. Monumen ini menjadi simbol perjuangan martabat bangsa yang berlandaskan pada prinsip keadilan ekologis. Hal ini mencakup hak fundamental sungai untuk mengalir bebas polusi dan hak hutan untuk tumbuh tanpa ancaman kebakaran.
"Melalui Tugu Keadilan Ekologis, kita tegaskan bahwa perjuangan ekologis adalah perjuangan martabat bangsa," ujar Sultan. Ia menambahkan bahwa peresmian ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara rakyat, aktivis lingkungan, dan negara dalam menjaga kelestarian alam. Inisiatif ini menunjukkan komitmen kolektif terhadap isu-isu lingkungan.
DPD RI juga aktif mendukung perjuangan ini dengan mengusulkan dua Rancangan Undang-Undang (RUU) prioritas. RUU Pengelolaan Perubahan Iklim dan RUU Perlindungan Masyarakat Adat diharapkan menjadi payung hukum yang kuat. Kedua RUU ini bertujuan menghadapi krisis iklim serta melindungi ruang hidup dan hak-hak masyarakat adat.
Sejalan dengan Visi Lingkungan Presiden Prabowo dan Green Democracy
Agenda peresmian Tugu Keadilan Ekologis ini sangat selaras dengan Astacita Ke-8 Presiden Prabowo Subianto. Visi tersebut menekankan pentingnya lingkungan hidup berkelanjutan sebagai prioritas pembangunan nasional. Pemerintah menargetkan pembangunan yang ramah lingkungan, mendorong ekonomi hijau, dan menjaga keanekaragaman hayati.
Sultan B Najamudin juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan semua pihak dalam perjuangan ekologis. Ia menyerukan agar negara, rakyat, dan masyarakat sipil bersatu padu. "Demokrasi kita harus menjadi green democracy, yakni mendengarkan suara rakyat sekaligus suara alam yang harus dijaga," tegasnya.
Sultan mengajak seluruh elemen bangsa agar perjuangan ekologis tidak hanya berhenti pada seremoni peresmian tugu. Ia berharap momentum ini menjadi pemicu gerakan nasional yang berkelanjutan. Tanggal 20 September diharapkan menjadi pengingat kolektif bahwa bumi adalah titipan yang harus diwariskan dalam keadaan lebih baik.
Kemeriahan Peresmian dan Komitmen Pelestarian
Peresmian Tugu Keadilan Ekologis ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Sultan B Najamudin. Turut hadir pula sejumlah tokoh daerah, termasuk tiga anggota DPD RI dari NTT: Abraham Paul Liyanto, Hilda Manafe, dan Angelius Wake Kako. Ustadz Zuhri M Zyasali dari Bangka Belitung juga turut menyaksikan momen bersejarah ini.
Acara berlangsung meriah dengan partisipasi ribuan warga dan karnaval budaya dari empat kabupaten di Pulau Sumba. Puluhan penunggang kuda Sandelwood berbusana kain adat ikut memeriahkan parade tersebut. Sebagai simbol pelestarian flora endemik, penanaman pohon cendana juga dilakukan bersama Sultan dan tokoh masyarakat.
Sebelum acara utama, Sultan B Najamudin juga menyempatkan diri mengunjungi rumah adat Sumba. Ia berdialog dengan ibu-ibu penenun dan membagikan buku kepada anak-anak sekolah, menunjukkan kepedulian terhadap budaya dan pendidikan lokal. "Sumba adil bagi alam, alam adil bagi manusia. Di situlah letak keadilan sejati," pungkas Sultan.
Sumber: AntaraNews