Gus Lilur Berharap Muktamar NU Ke-35 Hasilkan Pemimpin Pemersatu Umat
Tokoh muda NU, Gus Lilur, berharap Muktamar NU Ke-35 yang akan datang mampu melahirkan pemimpin pemersatu warga nahdliyin dan mengakhiri konflik internal yang berkepanjangan.
Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Khalilur Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menyuarakan harapannya menjelang Muktamar Ke-35 NU. Ia berharap forum tertinggi ini dapat menghasilkan kepemimpinan yang mampu mempersatukan seluruh warga nahdliyin.
Pernyataan Gus Lilur disampaikan dalam sebuah keterangan di Jakarta pada hari Sabtu, menekankan pentingnya figur yang bisa mengakhiri konflik berkepanjangan di tubuh organisasi. NU membutuhkan sosok yang teduh dan sederhana.
Muktamar Ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung pada tanggal 1 hingga 5 Agustus 2026, menjadi momen krusial bagi masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
Harapan Pemimpin Pemersatu dalam Muktamar NU
Gus Lilur menegaskan bahwa NU sangat membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan berbagai elemen, bukan justru menambah fragmentasi di dalamnya. Ia mencari figur yang dapat menjadi perekat seluruh unsur jam'iyah, demi menjaga soliditas organisasi. Persatuan ini dinilai esensial mengingat peran strategis NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dalam menjaga keutuhan bangsa dan kerukunan umat.
Menurutnya, sejarah panjang NU telah mencatat nama-nama Rais Aam yang dikenang karena keteladanan kepemimpinannya, seperti Kiai Haji Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz. Kedua tokoh ini dikenal tidak hanya karena kedalaman ilmunya yang mumpuni dalam bidang agama, tetapi juga kesederhanaan hidup yang patut dicontoh oleh para pemimpin masa kini. Keteladanan mereka menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Selain itu, Kiai Haji Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz juga memiliki keteduhan sikap serta kemampuan luar biasa dalam menjaga persatuan di lingkungan NU. Keteladanan mereka dalam berorganisasi dan berinteraksi dengan umat menjadi cerminan kepemimpinan ideal yang mampu merangkul semua pihak. Gus Lilur meyakini bahwa kepemimpinan dengan karakter seperti itulah yang sangat dibutuhkan oleh NU saat ini untuk menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.
Jadwal dan Pesan PBNU untuk Muktamar NU
Muktamar Ke-35 NU telah ditetapkan akan berlangsung selama lima hari penuh, mulai dari 1 hingga 5 Agustus 2026. Jadwal penting ini merupakan hasil keputusan dalam Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026. Penetapan ini menunjukkan keseriusan PBNU dalam mempersiapkan forum tertinggi organisasi.
Sebelumnya, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf telah berulang kali menyampaikan harapannya agar muktamar tidak dijadikan ajang batu loncatan menuju Pemilihan Umum (Pemilu) 2029. Pesan ini telah menjadi perhatian utama selama hampir lima tahun masa kepemimpinannya di PBNU, menunjukkan komitmen untuk menjaga independensi organisasi.
PBNU akan berupaya maksimal untuk memastikan bahwa forum tertinggi organisasi ini tidak dimanfaatkan sebagai arena kepentingan politik elektoral, yang dapat mengganggu fokus pada agenda keumatan. Integritas Muktamar NU harus tetap terjaga dari intervensi kepentingan sesaat.
Terkait mekanisme pencalonan dalam muktamar, Yahya menjelaskan bahwa tidak ada kewajiban bagi calon untuk mengundurkan diri dari jabatan struktural, termasuk di pemerintahan. Namun, terdapat ketentuan jelas mengenai larangan rangkap jabatan yang harus dipatuhi oleh setiap calon dan pengurus, demi menghindari konflik kepentingan dan memastikan dedikasi penuh.
Sumber: AntaraNews