Islah PBNU Jelang Abad Kedua: Pelajaran Penting di Era Digital
Islah PBNU antara Rais Aam dan Ketua Umum sukses tercapai jelang abad kedua Nahdlatul Ulama, membawa pelajaran berharga tentang literasi digital dan tantangan di era modern.
Surabaya, 27 Desember 2025 – Nahdlatul Ulama (NU) menerima kado istimewa menjelang peringatan usia dua abadnya pada 31 Januari 2026. Sebuah forum konsultasi yang berlangsung di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada 25 Desember 2025, berhasil menorehkan sejarah dengan tercapainya islah antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
Pertemuan penting ini, yang diinisiasi oleh Syuriyah PBNU, secara efektif mengakhiri dinamika internal organisasi yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir, yakni November hingga Desember. Keberhasilan forum yang berlangsung khidmat ini mempertemukan kedua pucuk pimpinan PBNU yang sebelumnya berselisih dalam satu meja, menandai rekonsiliasi yang sangat dinantikan oleh seluruh Nahdliyin.
Lebih dari sekadar penyelesaian konflik internal, momentum islah PBNU ini juga memberikan pelajaran berharga bagi seluruh struktur dan kultur organisasi. Khususnya dalam menghadapi tantangan era digital yang terus berkembang pesat, NU kini memiliki pekerjaan rumah besar untuk meningkatkan literasi digital anggotanya.
Konsolidasi Internal PBNU Menuju Muktamar Ke-35
Forum konsultasi di Pesantren Lirboyo dihadiri lengkap oleh jajaran syuriyah, mustasyar, dan tanfidziyah PBNU, menunjukkan keseriusan dan komitmen seluruh pihak untuk mencapai rekonsiliasi. Beberapa tokoh penting yang hadir dari jajaran Mustasyar PBNU antara lain KH Ma'ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH Machasin.
Dari jajaran Syuriah, hadir Rais Aam KH Miftachul Akhyar beserta sejumlah kiai terkemuka lainnya, sementara dari jajaran Tanfidziyah tampak Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan H. Amin Said Husni. "Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak menyepakati untuk menyelenggarakan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama secara bersama-sama dalam waktu segera," kata Gus Yahya setelah pertemuan, menegaskan hasil utama dari konsensus tersebut.
Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan islah PBNU ini, panitia bersama akan segera dibentuk untuk mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU. Katib Aam PBNU Prof Dr KH Mohammad Nuh turut menyampaikan bahwa forum konsultasi syuriyah dengan Mustasyar PBNU ini menyepakati muktamar dalam waktu dekat sebagai ikhtiar menjaga ketertiban organisasi dan demi keutuhan jam'iyah.
Selain itu, Prof Dr KH Mohammad Nuh menambahkan bahwa Rais Aam dan Wakil Rais Aam juga menunjukkan sikap kebesaran jiwa dengan memberikan maaf atas permohonan maaf Ketua Umum PBNU. Permohonan maaf ini terkait ketidakcermatan dan kecerobohan dalam mengundang Peter Berkowitz pada kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU), sebuah insiden yang memicu dinamika internal. Sikap ini dipandang sebagai bagian dari tradisi NU yang mengedepankan akhlak, tabayun, dan penyelesaian masalah secara arif, dengan semangat kebersamaan dan menjaga keutuhan organisasi.
Dinamika Digital dan Tantangan Literasi NU
Perselisihan internal PBNU yang berakhir bahagia ini justru menghasilkan pelajaran berharga, terutama karena dinamika tersebut terjadi di era digital. Selama dua bulan, perselisihan ini menjadi yang terburuk sepanjang sejarah, diwujudkan dengan pelampiasan caci maki melalui media sosial yang justru membuka borok di depan publik dan sangat "menampar" NU secara organisasi.
Banyak "pengamat amatir" berseteru di grup-grup WhatsApp (WAG) yang merusak marwah jam'iyah, bahkan ada yang melampiaskan nafsu "sok analisis" lewat siniar atau podcast yang "menelanjangi" jam'iyah di depan publik. Kondisi ini menyoroti lemahnya literasi digital di kalangan Nahdliyin, meskipun Indonesia memiliki jumlah pengguna digital terbanyak di dunia, namun adab media sosialnya terburuk di ASEAN berdasarkan survei Digital Civility Index (DCI) 2021.
Era disrupsi yang ditandai perubahan fundamental akibat teknologi digital ini menempatkan NU di persimpangan jalan. Memasuki abad kedua, NU memiliki pekerjaan rumah besar dalam literasi digital agar warganet NU dapat menyikapi perselisihan dengan menahan diri dan berdoa untuk keselamatan jam'iyah dan nahdliyin. "Allahumma allif baina qulubina, washlih dzata bainina, wahdina subulas-salam," adalah doa yang tepat untuk berharap keharmonisan di tengah kegaduhan digital.
Serangan narasi di media sosial seringkali memelintir persepsi publik (framing) dan memengaruhi emosi masyarakat lewat hoaks. Kritik dan caci maki sering disamakan, padahal kritik semestinya terkait kebijakan, bukan personal. Jika terkait person, itu bukan kritik, melainkan caci maki. Kelebihan media sosial adalah kecepatan dan keilmuan, namun "kelemahannya" adalah sifat sepihak, anti-tabayyun, mengabaikan kompetensi/sanad, mengabaikan konteks, serta fokus pada kuantitas daripada kualitas.
Menangkal Jebakan Digital dan Radikalisme
Pentingnya literasi digital bagi NU menjelang abad kedua bukan hanya pendekatan baru untuk menjaga marwah organisasi dari "tamparan" digital, tetapi juga krusial untuk dakwah NU dalam menghadapi tantangan era yang penuh jebakan. Informasi dan perbedaan pandangan yang tanpa batas di era digital dapat menjadi bumerang jika tidak disikapi secara cerdas.
Jebakan digital tidak hanya berupa informasi dinamika internal PBNU yang gaduh dan terbuka, tetapi juga bersifat ideologi. Jika tidak disikapi dengan bijak, jebakan ideologi ini dapat mengubah pandangan seseorang menjadi radikal, bahkan anti-agama. Oleh karena itu, NU harus memperkuat pemahaman Islam wasathiyah (moderat) di tengah arus informasi yang bias.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sendiri terus melakukan berbagai upaya deradikalisasi bersama mitra, termasuk mantan narapidana terorisme. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan dialog dan penguatan Islam wasathiyah, seperti menggandeng ulama kharismatik KHA Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam Silaturahmi Kebangsaan di LP3IA Rembang, Jawa Tengah, pada 22 Desember 2025.
Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi Eddy Hartono menyebut Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang mencantumkan definisi terorisme secara formal dalam peraturan perundang-undangan. Ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menanggulangi terorisme secara tepat sasaran dan legal, melalui pendekatan hukum serta pencegahan dan pembinaan. Gus Baha menegaskan bahwa dialog adalah metode utama para nabi dan rasul dalam menyampaikan kebenaran Islam, bukan kekerasan. Pelajaran berharga dari dinamika internal PBNU di era digital ini adalah bahwa NU harus menjawab tantangan abad kedua dengan "dakwah" melalui literasi digital untuk menjaga marwah NU dari "tamparan" digitalisasi secara internal, sekaligus mengantisipasi jebakan digital fatal dari ormas yang sudah dibubarkan namun masih aktif di dunia digital dan menunggangi entitas politik untuk menggaet simpatisan.
Sumber: AntaraNews