Gus Yahya Terbuka Islah, PBNU Berupaya Jaga Tatanan Organisasi
Ketua Umum PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf, menyatakan dirinya terbuka untuk islah usai silaturahim di Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia berharap tatanan organisasi NU tetap terjaga.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Yahya Cholil Staquf, menyatakan kesiapannya untuk melakukan islah atau rekonsiliasi. Pernyataan ini disampaikan usai menghadiri pertemuan penting di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Gus Yahya merasa terharu atas kepedulian para sesepuh NU terhadap jam'iyah.
Dalam forum silaturahim PBNU sesi kedua tersebut, Gus Yahya diberikan kesempatan untuk menjelaskan berbagai persoalan internal organisasi. Ia secara tuntas menjawab semua kebutuhan klarifikasi yang sebelumnya disampaikan melalui utusan Rais Aam. Penjelasan ini juga dilengkapi dengan dokumen pendukung.
Gus Yahya menegaskan niat tulusnya dalam berkhidmah di PBNU bersama jajarannya. Ia menitipkan pesan khusus kepada para kiai agar tatanan organisasi NU yang telah diwariskan para pendiri tetap terjaga dengan baik. Ini menjadi langkah strategis untuk masa depan NU.
Klarifikasi Gus Yahya dan Komitmen Menjaga Organisasi
Dalam kesempatan silaturahim tersebut, Gus Yahya menjelaskan secara lengkap berbagai isu yang ditujukan kepadanya. Ia menyatakan bahwa seluruh kebutuhan klarifikasi yang disampaikan Rais Aam telah dijawab tuntas. Penjelasan ini diperkuat dengan dokumen dari Bendahara Umum PBNU Sumantri Suwarno dan Sekjen Amin Said Husni.
Gus Yahya juga menyampaikan pesan penting kepada para kiai terkait masa depan organisasi NU. Ia menekankan bahwa dirinya dan jajaran PBNU berkhidmah dengan niat tulus sejak awal. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga struktur yang telah diwariskan oleh para pendiri Nahdlatul Ulama.
Ia mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama didirikan dengan aturan dan struktur yang ketat sejak awal. Bahkan Rais Akbar Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari sendiri memiliki wewenang yang dibatasi oleh anggaran dasar organisasi. “Maka mari kita berpikir tetap dengan betul agar tatanan ini tidak diruntuhkan dan membawa jam’iyah ini mundur 100 tahun,” ujarnya.
Sorotan Gus Yahya Terhadap Rapat Syuriyah dan Rencana Pleno PBNU
Terkait pernyataan bahwa pertemuan di Pesantren Tebuireng tidak memengaruhi risalah rapat syuriyah, Gus Yahya memiliki pandangan berbeda. Ia menilai rapat harian syuriyah yang dimaksud justru sudah bermasalah sejak awal. Menurutnya, rapat tersebut telah membuat keputusan di luar wewenangnya.
“Mau pengaruh atau tidak pengaruh, monggo. Tapi sudah menjadi persepsi bahwa apa yang terjadi dengan harian syuriyah itu sangat bermasalah, membuat keputusan di luar wewenangnya. Jadi ini bermasalah. Semua ikutannya dari keputusan ini bermasalah semua,” tegas Gus Yahya.
Gus Yahya juga mengkritisi rencana Rapat Pleno PBNU yang akan diselenggarakan pada 9 Desember 2025. Ia khawatir rapat tersebut akan mendasarkan diri pada keputusan yang dianggapnya bermasalah. “Kalau itu didasarkan pada rapat harian syuriyah tanggal 20 November 2025, itu berarti mendasarkan diri pada keputusan yang bermasalah. Pengambilalihan jabatan ketua umum untuk dirangkap oleh Rais Aam sangat-sangat bermasalah,” tambahnya.
Untuk mencari penyelesaian terbaik, Gus Yahya berencana untuk terus berkomunikasi aktif. Ia akan menjalin dialog dengan para kiai sepuh, serta Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di seluruh Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keutuhan dan stabilitas organisasi.
Sumber: AntaraNews