Abdul Mu'ti Minta Muhammadiyah Hindari 3K: Konflik, Korupsi, dan Kerusakan
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menyerukan warga Muhammadiyah untuk menghindari 3K: konflik, korupsi, dan kerusakan, demi keberlangsungan organisasi yang kredibel.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Abdul Mu'ti MEd, menegaskan pentingnya menjaga integritas dan kerukunan dalam berorganisasi. Ia secara khusus meminta seluruh warga Muhammadiyah untuk menghindari tiga hal krusial, yang disebutnya sebagai '3K'. Seruan ini disampaikan saat peringatan Milad Ke-113 Muhammadiyah di Surabaya.
Peringatan Milad Muhammadiyah tersebut berlangsung di Aula Mas Mansur, Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada hari Sabtu. Mu'ti, yang juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, menekankan bahwa ketiga prinsip mendasar ini merupakan kunci utama bagi keberlangsungan dan kemajuan Muhammadiyah di masa mendatang.
Dalam sambutannya, Mu'ti menjelaskan secara rinci mengenai bahaya konflik internal, praktik korupsi, serta kerusakan moral dan lingkungan. Pesannya bertujuan untuk memperkuat fondasi organisasi agar tetap relevan dan bermanfaat bagi umat serta bangsa. Kehadiran tokoh penting lainnya turut memeriahkan acara tersebut, baik secara langsung maupun daring.
Menghindari Konflik Internal Organisasi
Abdul Mu'ti secara tegas mengingatkan pentingnya kerukunan di antara sesama warga Muhammadiyah. Ia menekankan bahwa konflik internal dapat menghambat kemajuan organisasi dan merusak citra Muhammadiyah di mata masyarakat. "Hindari konflik, ojok tarung, ojok padu (jangan tarung, jangan bertengkar)," ujarnya.
Menurutnya, organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menjaga keharmonisan di antara para pengurus dan anggotanya. Ketiadaan persatuan akan membuat Muhammadiyah sulit berkembang dan mencapai tujuan-tujuan luhurnya. Oleh karena itu, Mu'ti meminta agar tidak ada konflik di antara pengurus Muhammadiyah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen Muhammadiyah untuk selalu mengedepankan musyawarah dan mufakat dalam menyelesaikan setiap perbedaan. Menciptakan lingkungan yang kondusif dan saling mendukung adalah prasyarat mutlak untuk menjaga soliditas organisasi. Dengan demikian, energi organisasi dapat difokuskan pada program-program yang lebih produktif.
Melawan Korupsi Dana Pendidikan
Aspek kedua yang disoroti oleh Abdul Mu'ti adalah bahaya korupsi, khususnya terkait pengelolaan dana pendidikan. Ia mengingatkan para pengelola lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk menjaga amanah dengan sebaik-baiknya. Integritas dalam pengelolaan keuangan sangat krusial demi menjaga kepercayaan publik dan keberlangsungan lembaga.
"Jangan sampai korupsi dana pendidikan, apalagi dana sekolah. Banyak orang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Allah sudah mengingatkan bahwa suatu bangsa akan hancur jika korup," tegas Mu'ti. Pernyataan ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang tergoda untuk menyalahgunakan dana yang seharusnya digunakan untuk kemajuan pendidikan.
Mu'ti memberikan contoh jenaka namun mengena mengenai praktik menaikkan harga barang secara tidak wajar. Ia menggambarkan, “Barang harga 250 ditambahi angka nol jadi 2.500. Kalau 250 juta ditambahi nol jadi 2,5 miliar. Don’t make any corruption on earth. Supaya tetap bertahan, kita harus kredibel." Pesan ini menegaskan bahwa kredibilitas adalah modal utama bagi Muhammadiyah.
Menjaga Keseimbangan Dunia dan Rohani
Terakhir, Mu'ti mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk menghindari kerusakan, baik kerusakan moral maupun lingkungan, dengan menyeimbangkan aspek duniawi dan rohani. Ia menyoroti kecenderungan manusia modern yang seringkali terlalu fokus mengejar materi tanpa dibarengi penguatan spiritual yang memadai.
Keseimbangan antara pencapaian material dan kekuatan spiritual sangatlah penting untuk mencegah tindakan yang merugikan. "Kadang mengejar materi tapi membuat kerusakan. Tidak diimbangi kekuatan spiritual," ujarnya. Ini adalah panggilan untuk refleksi diri agar setiap tindakan didasari oleh nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan.
Dengan menjaga keseimbangan ini, Muhammadiyah diharapkan dapat terus berkontribusi positif bagi masyarakat tanpa mengorbankan prinsip-prinsip etika dan moral. Kehadiran Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir secara daring, serta Ketua PWM Jawa Timur Prof Dr dr Sukadiono MM, dan pengurus lainnya, menunjukkan dukungan terhadap pesan-pesan penting ini.
Sumber: AntaraNews