Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti Sampaikan Pesan Idulfitri Muhammadiyah: Serukan Penyucian Diri Menyeluruh

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, menyampaikan Pesan Idulfitri yang mengajak umat Islam mencapai penyucian diri secara intelektual, spiritual, lingkungan, dan material pasca-Ram

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti Sampaikan Pesan Idulfitri Muhammadiyah: Serukan Penyucian Diri Menyeluruh
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, menyampaikan Pesan Idulfitri yang mengajak umat Islam mencapai penyucian diri secara intelektual, spiritual, lingkungan, dan material pasca-Ram (AntaraNews)

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyerukan umat Islam untuk mengakhiri bulan Ramadan dengan mencapai penyucian diri yang menyeluruh. Seruan ini disampaikan dalam khotbah salat Idulfitri yang diselenggarakan oleh organisasi Islam Muhammadiyah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Jumat, 20 Maret 2026.

Dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti menekankan pentingnya membersihkan diri secara intelektual, spiritual, lingkungan, dan material setelah sebulan penuh berpuasa. Ajakan ini menjadi momentum krusial bagi umat Muslim untuk merefleksikan dan mengimplementasikan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.

Muhammadiyah telah menetapkan 20 Maret sebagai 1 Syawal 1447 Hijriah, menandai Hari Raya Idulfitri tahun 2026, sementara pemerintah secara resmi mendeklarasikan hari suci tersebut jatuh pada 21 Maret.

Dalam khotbahnya, Abdul Mu'ti memperkenalkan konsep "kemurnian material" sebagai fondasi awal penyucian diri. Ia menegaskan urgensi bagi umat Muslim untuk memperoleh dan menggunakan kekayaan dengan cara halal dan sah. Mu'ti secara tegas mengimbau masyarakat agar menjauhi praktik korupsi serta gaya hidup mewah yang berlebihan.

Bulan puasa telah mengajarkan kita untuk menahan diri dari berbagai godaan duniawi. Setelah Ramadan, kita diajak untuk hidup bersahaja dan menghindari pemborosan. Hal ini penting demi kebaikan diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan lingkungan sekitar.

Selain kemurnian material, Mu'ti juga menggarisbawahi pentingnya "kemurnian intelektual" pasca-Ramadan. Umat Islam didorong untuk lebih giat mengekang pikiran negatif dan memupuk pikiran yang bersih. Upaya ini akan membantu membentuk karakter yang lebih positif dan konstruktif.

Dengan memurnikan harta dan pikiran, diharapkan umat Muslim dapat berkontribusi lebih maksimal. Kontribusi ini mencakup pembangunan sosial, ekonomi, dan moral bangsa secara keseluruhan.

Konsep "kemurnian spiritual" juga menjadi fokus utama dalam Pesan Idulfitri Abdul Mu'ti. Ia mengajak umat Muslim untuk memperdalam iman dan hubungan mereka dengan Tuhan. Peningkatan spiritualitas ini menjadi kunci untuk mencapai kedamaian batin dan ketenangan jiwa.

Setelah sebulan penuh beribadah dan introspeksi, Ramadan menjadi landasan kuat untuk terus meningkatkan kualitas spiritual. Dengan jiwa yang bersih, umat diharapkan dapat menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.

Mu'ti juga menekankan bahwa penyucian pasca-Ramadan harus meluas hingga pada kepedulian terhadap lingkungan hidup. Ia menyerukan kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan dan menghindari praktik-praktik yang dapat merusak kelestarian lingkungan.

Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan cerminan dari masyarakat yang beradab dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, menjaga bumi adalah bagian integral dari ajaran agama.

Lebih lanjut, Abdul Mu'ti menyatakan bahwa perayaan Idulfitri harus dipandang sebagai momentum penting. Ini adalah kesempatan bagi setiap individu untuk melakukan perbaikan diri dan memperbarui komitmen. Komitmen tersebut adalah untuk berkontribusi kepada masyarakat.

Kontribusi ini termasuk memperjuangkan persatuan dan harmoni, yang ia pandang sebagai modal penting. Modal ini diperlukan untuk mentransformasi Indonesia menjadi negara maju dan bermartabat.

Selain itu, Mu'ti juga menyinggung kekhawatiran terkait meningkatnya masalah keamanan global. Ia mendesak pihak-pihak yang berkonflik untuk menahan diri dan mengakhiri kekerasan. Pesan ini relevan mengingat kondisi geopolitik dunia saat ini.

Dengan semangat Idulfitri, diharapkan perdamaian dan toleransi dapat terus ditegakkan. Hal ini berlaku baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi