Khatib Romadlon: Korupsi Musuh Utama Peradaban, Pengkhianatan Terhadap Tuhan
Khatib Romadlon menegaskan korupsi musuh peradaban yang merusak tatanan sosial dan mengkhianati Tuhan, menyerukan hijrah kolektif di momen Idul Fitri.
Khatib Romadlon dalam Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Temanggung dengan lantang menyatakan korupsi sebagai musuh utama peradaban. Pernyataan ini disampaikan di Halaman Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Temanggung pada Jumat, 20 Maret 2026. Ia menekankan pentingnya umat Islam menentang segala bentuk praktik koruptif dalam bingkai Islam yang berkeadaban.
Di hadapan sekitar 3.000 warga Muhammadiyah setempat, Romadlon menjelaskan bahwa korupsi bukan sekadar tindak pidana pencurian uang negara. Lebih dari itu, korupsi merupakan pengkhianatan terhadap Tuhan dan perusakan tatanan keadilan sosial yang fundamental.
Momen Idul Fitri, yang menandakan kembalinya kesucian, seharusnya menumbuhkan rasa muak terhadap praktik kotor seperti suap-menyuap dan gratifikasi. Oleh karena itu, 1 Syawal harus dijadikan sebagai titik tolak untuk melakukan hijrah kolektif menuju perbaikan mentalitas dan perilaku.
Korupsi: Pengkhianatan Terhadap Tuhan dan Perusakan Keadilan Sosial
Romadlon mengibaratkan korupsi sebagai rayap yang secara perlahan menggerogoti tiang-tiang penyangga kesejahteraan umat. Praktik ini menyebabkan kebenaran menjadi samar dan kebatilan seolah-olah mendapatkan pembenaran. Korupsi secara fundamental merusak struktur masyarakat dan nilai-nilai moral yang dipegang teguh.
Khatib tersebut menegaskan bahwa korupsi melampaui batas tindak pidana biasa. Ini adalah bentuk pengkhianatan spiritual kepada Tuhan dan tindakan destruktif terhadap fondasi keadilan sosial. Dampaknya tidak hanya kerugian materiil, tetapi juga kerusakan moral dan kepercayaan publik yang mendalam.
Idul Fitri, dengan makna kembali kepada fitrah dan kesucian, harus menjadi pemicu kesadaran kolektif. Manusia diharapkan mengembangkan penolakan keras terhadap segala bentuk praktik kotor, termasuk suap, gratifikasi, dan tindakan koruptif lainnya. Ini adalah panggilan untuk introspeksi dan pembersihan diri secara menyeluruh.
Momentum Hijrah Kolektif Menuju Mentalitas Amanah
Romadlon menyerukan agar momentum 1 Syawal ini dijadikan sebagai saat untuk melakukan hijrah kolektif. Ia menjelaskan bahwa hijrah tidak hanya berarti berpindah tempat secara fisik, melainkan perpindahan mentalitas dan perilaku secara berjamaah menuju arah yang lebih baik. Ini adalah transformasi internal yang mendalam.
Perubahan ini menuntut pergeseran dari mentalitas koruptif menuju mentalitas amanah, dari budaya "aji mumpung" menuju budaya integritas yang kuat. Selain itu, diperlukan pula perubahan dari sikap apatis menjadi kepedulian kolektif terhadap permasalahan sosial. Hijrah kolektif ini merupakan fondasi untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil.
Untuk mewujudkan hijrah kolektif, penting untuk membangun sistem sosial yang transparan dan akuntabel. Proses ini harus dimulai dari kejujuran dalam lingkungan keluarga, dilanjutkan dengan transparansi di berbagai organisasi, hingga mencapai integritas dalam tata kelola negara. Setiap individu memiliki peran dalam menciptakan sistem yang bersih.
Peran Keluarga dan Pendidikan dalam Membangun Bangsa Berintegritas
Khatib Romadlon menekankan bahwa perubahan besar dalam melawan korupsi harus dimulai dari unit terkecil dan paling fundamental dalam masyarakat, yaitu keluarga dan pendidikan. Keluarga disebut sebagai rahim pertama tempat nilai-nilai kejujuran disemai. Di sinilah fondasi moral seorang individu dibentuk sejak dini.
Pendidikan, di sisi lain, berfungsi sebagai kawah tempat karakter kemajuan ditempa. Mustahil mengharapkan sebuah bangsa yang bersih dan beradab jika benih-benih integritas belum tertanam kuat di dalam rumah tangga. Proses pendidikan harus menjadi sarana untuk membangun karakter yang kokoh dan berprinsip.
Romadlon juga mengemukakan pentingnya pendidikan berkeadaban, yang mengutamakan adab di atas nilai akademik semata. Pendidikan semacam ini mengajarkan bahwa lebih mulia mendapatkan nilai kecil dengan kejujuran daripada mencapai nilai sempurna melalui kecurangan. Ini adalah prinsip dasar untuk membentuk generasi yang berintegritas tinggi.
Sumber: AntaraNews