Wakil Ketua Muhammadiyah Wilayah Jawa Tengah, Rozihan, menyampaikan pandangannya mengenai makna Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Ia mengibaratkan momen suci ini seperti kelahiran seorang bayi yang membawa semangat baru. Pandangan ini disampaikan dalam khotbah Shalat Idul Fitri di Halaman RS Roemani Semarang pada Jumat lalu.
Menurut Rozihan, Idul Fitri merupakan tolok ukur keberhasilan umat Islam dalam menjalankan ibadah Ramadan. Sama seperti bayi yang baru lahir, Idul Fitri diharapkan menghadirkan kepedulian mendalam terhadap sesama. Semangat solidaritas kemanusiaan menjadi inti pesan yang disampaikan dalam perayaan ini.
Khotbah tersebut menyoroti pentingnya kepedulian sosial dan persatuan di tengah masyarakat. Pesan ini relevan untuk seluruh umat, tanpa memandang latar belakang perbedaan. Perayaan Idul Fitri menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan.
Advertisement
Advertisement
Rozihan menjelaskan bahwa bayi yang baru lahir secara inheren memiliki sifat peduli terhadap orang lain dan semangat solidaritas yang tinggi. Sifat alami ini menjadi cerminan ideal bagi umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa. Idul Fitri diharapkan dapat memupuk kembali nilai-nilai kemanusiaan tersebut.
Seorang bayi tidak memedulikan perbedaan agama, suku, maupun organisasi yang ada di sekitarnya. Hal ini menjadi analogi kuat untuk semangat Idul Fitri yang seharusnya. Momen ini adalah waktu untuk meleburkan sekat-sekat perbedaan yang mungkin ada di masyarakat.
Oleh karena itu, Idul Fitri memiliki peran penting dalam memperkuat semangat solidaritas kemanusiaan. Perayaan ini mengingatkan umat untuk selalu berempati dan saling membantu. Solidaritas ini mencakup semua aspek kehidupan bermasyarakat.
Advertisement
Advertisement
Rozihan juga menyoroti bahwa perbedaan dalam merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah adalah sesuatu yang indah. Perbedaan pandangan atau pelaksanaan tidak seharusnya menjadi penghalang. Justru, hal tersebut dapat memperkaya makna perayaan.
"Perbedaan itu sesuatu yang biasa, perbedaan itu indah," tegas Rozihan dalam khotbahnya. Pernyataan ini menekankan pentingnya toleransi dan saling menghargai. Umat diajak untuk melihat perbedaan sebagai anugerah.
Semangat ini sejalan dengan nilai-nilai kebersamaan yang diajarkan dalam Islam. Dengan menerima perbedaan, umat dapat menciptakan harmoni sosial yang lebih baik. Idul Fitri menjadi momentum untuk merajut persatuan di tengah keberagaman.
Advertisement
Advertisement
Selain solidaritas, Rozihan juga menekankan pentingnya bersedekah sebagai bagian dari upaya membangun negara. Sedekah bukan hanya amalan spiritual, tetapi juga kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Ini menunjukkan dimensi sosial dari ibadah.
Ia menegaskan bahwa negara tidak bisa dibangun hanya oleh pemerintah saja. Peran serta masyarakat melalui sedekah sangat dibutuhkan untuk mencapai kemajuan. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi.
Dengan bersedekah, umat turut serta dalam memajukan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Ini adalah bentuk nyata dari solidaritas yang diibaratkan seperti bayi baru lahir. Kontribusi ini memperkuat fondasi pembangunan nasional.
Advertisement
Sebagai bentuk persiapan, pengurus Muhammadiyah setempat telah menyiapkan lokasi Shalat Idul Fitri. Sebanyak 50 tempat di Kota Semarang disediakan untuk pelaksanaan ibadah ini. Hal ini memastikan kelancaran perayaan bagi seluruh warga Muhammadiyah.
Sumber: AntaraNews