Jakarta, 12 April 2026 – Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinantikan umat Muslim di seluruh dunia, menandai berakhirnya sebulan penuh ibadah puasa Ramadan. Namun, di Aceh, perayaan tahun ini memiliki makna yang lebih mendalam, di tengah upaya pemulihan pasca bencana banjir yang melanda beberapa bulan sebelumnya.
Tim Bangkit Sumatera ANTARA, yang memulai perjalanan dari Jakarta pada 15 Maret 2026, lima hari sebelum Idul Fitri, tiba di lokasi bencana untuk mengabadikan suasana Lebaran. Mereka bertujuan memotret ketangguhan dan harapan yang tak pernah padam di tengah puing-puing sisa banjir.
Kunjungan ini berfokus pada beberapa titik terdampak parah di Aceh Tamiang dan Aceh Timur, termasuk RSUD Muda Sedia, Desa Sekumur, dan Dusun Rantau Panjang Rubek di Desa Sijudo. Perjalanan ini mengungkap kisah-kisah inspiratif tentang bagaimana masyarakat bangkit dari keterpurukan.
Advertisement
Advertisement
Jejak Pemulihan di RSUD Muda Sedia
Empat bulan pasca bencana banjir, RSUD Muda Sedia di Aceh Tamiang, yang sempat menjadi sorotan media sosial, menunjukkan progres pemulihan yang signifikan. Rumah sakit ini sebelumnya viral karena pasien dan tenaga medis terpaksa bertahan di lantai dua saat lantai dasar terendam air bah.
Kini, lumpur telah dibersihkan sepenuhnya, dan aktivitas medis kembali berjalan normal. Beberapa bagian bangunan bahkan telah diperbaiki dan dicat ulang, menandakan semangat kebangkitan dari keterpurukan yang mendalam.
Meskipun belum mencapai 100 persen, upaya pemulihan di RSUD Muda Sedia menjadi simbol nyata dari proses bangkitnya infrastruktur vital di wilayah terdampak. Tim ANTARA merekam dan mewawancarai beberapa pihak untuk mendokumentasikan kemajuan ini.
Advertisement
Advertisement
Ketangguhan Warga Sekumur dan Lautan Kayu
Perjalanan tim ANTARA berlanjut ke Desa Sekumur, Sekerak, Aceh Tamiang, sebuah desa pedalaman yang menunjukkan kerusakan lebih parah. Untuk mencapai desa ini, tim harus menyeberangi Sungai Tamiang menggunakan rakit sederhana, alat transportasi penting bagi mobilitas warga.
Desa Sekumur dipenuhi dengan tumpukan kayu gelondongan sisa banjir yang belum sepenuhnya dibereskan, membentang sejauh mata memandang. Salah seorang anggota tim, Bang Aloy, bahkan kesulitan memeluk sebatang kayu yang saking besarnya.
Di tengah pemandangan tersebut, Kakek Mukhtar Sulaiman, 65 tahun, menunjukkan ketangguhan luar biasa. Ia memanfaatkan kayu gelam sisa banjir sepanjang 10 meter dengan diameter lebih dari satu meter untuk membuat sampan besar.
Advertisement
Sampan ini bukan untuk dijual, melainkan sebagai bentuk sedekah bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan. “Ini saya gunakan sebagai sedekah saya untuk masyarakat ini, karena mereka cukup banyak menolong kami dari luar, mengapa kita tidak bisa?” ujar Mukhtar, dengan kapak di tangan.
Selain keahlian memahat, Kakek Mukhtar juga bersenandung spontan, menciptakan lirik tentang bencana banjir yang menyimpan kepedihan mendalam. “Tuhan, dosa apakah yang kami perbuat selama ini, hingga akhirnya Kau menurunkan musibah ini?” senandungnya, dengan tatapan nanar.
Advertisement
Harapan Nursiah dan Kebersamaan di Sijudo
Tak jauh dari rumah Kakek Mukhtar, tim bertemu Nursiah yang tengah memandang suaminya mengolah kayu sisa banjir untuk membangun kembali rumah mereka yang hanyut. Berbeda dengan Mukhtar, keluarga Nursiah menggunakan kayu tersebut sebagai bahan utama pembangunan hunian baru.
Nursiah mengungkapkan harapannya agar rumah sederhana mereka cepat rampung sebelum Lebaran, sehingga anak dan cucu dapat berkumpul. “Sebelum Lebaran ini maunya, biar kumpul anak cucu. biar gabung di sini. Biarpun makan kayak mana, yang penting ngumpul,” katanya penuh harap.
Perjalanan berlanjut ke Dusun Rantau Panjang Rubek, Desa Sijudo, Aceh Timur, tempat tim menghabiskan tiga hari dua malam, bahkan merayakan Lebaran bersama warga. Dusun ini dihuni 46 kepala keluarga, dengan hanya satu rumah yang masih kokoh berdiri pasca bencana.
Advertisement
Meskipun masih dalam pemulihan, warga Sijudo menyambut tim dengan hangat, memperlakukan mereka layaknya keluarga. Kebersamaan ini terlihat jelas saat mereka bergotong royong membuat “timpan”, kudapan khas Lebaran berbahan dasar labu yang bisa diisi pisang atau kelapa.
Advertisement
Takbir dalam Luka, Kemenangan dalam Harapan
Suasana Lebaran di Dusun Rantau Panjang Rubek terasa sangat berbeda. Malam takbiran dirayakan dengan obor-obor yang dinyalakan, mengiringi gema takbir dari pengeras suara sederhana di musala darurat.
Warga dan tim ANTARA berjalan berkeliling kampung, melantunkan takbir di antara puing-puing rumah dan pohon pinang yang “bersujud” akibat banjir. Jahidin, Kepala Dusun Rantau Panjang Rubek, menyampaikan pesan mendalam, “Ini pelajaran agar kita lebih bersujud lagi kepada Allah, Pohon-pohon pinang itu saja bersujud karena banjir yang merupakan kuasa Allah. Kita sebagai manusia seharusnya lebih dari itu.”
Hari kemenangan tiba, dan salat Idul Fitri dilaksanakan di tanah lapang beralaskan terpal, dikelilingi pemandangan luka yang belum sembuh. Momen ini tidak hanya dirasakan berbeda oleh warga, tetapi juga oleh tim ANTARA yang bertugas jauh dari keluarga.
Advertisement
Pengalaman tiga hari dua malam di Desa Sijudo mengajarkan banyak hal tentang ketangguhan manusia, makna kebersamaan, dan harapan yang tak pernah pupus. Meskipun kehilangan banyak hal, warga Aceh membuktikan bahwa kekuatan sejati mereka terletak pada semangat untuk bangkit dan harapan yang selalu ada.
Sumber: AntaraNews