Wamenag Soal Ormas Minta THR: Budaya Lebaran di Indonesia Sejak Dulu, Tak Perlu Dipersoalkan
Wamenag menilai, fenomena ormas meminta Tunjangan Hari Raya (THR) ke para pengusaha adalah budaya saat lebaran di Indonesia
Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi'i menilai, fenomena ormas meminta Tunjangan Hari Raya (THR) ke para pengusaha adalah budaya saat lebaran di Indonesia sejak lama. Menurutnya, hal tersebut tidak perlu dipersoalkan.
"Saya kira itu fenomena budaya Lebaran di Indonesia sejak dahulu kala, tidak perlu kita persoalkan," ujar Syafi’i dikutip Selasa (25/3).
Syafi'i berkelakar, terkadang ormas-ormas memang mendapatkan THR dan juga tidak. Jika pun dapat, ada jumlah THR nya yang juga lebih maupun kurang.
"Ya, mungkin ada yang lebih, ada yang kurang dan sebagainya. Ya, kadang-kadang dapat, kadang-kadang enggak," kata politisi Gerindra ini.
Desak Polisi Tangkap Preman Berkedok Ormas
Sebelumnya, anggota Komisi III DPR RI, Abdullah mendesak pihak kepolisian menangkap preman berkedok organisasi kemasyarakatan (ormas) yang meminta tunjangan hari raya (THR) secara paksa.
Aparat bisa membuka posko pengaduan terkait aksi premanisme itu. Abdullah mengatakan, keberadaan preman berkedok ormas itu sudah lama dikeluhkan masyarakat, instansi pemerintah, pengusaha, dan pihak-pihak yang selama ini menjadi korban pemalakan. Mereka sering menebar teror.
"Preman berkedok ormas itu selalu berulah dan memalak masyarakat. Mereka merasa menjadi penguasa wilayah, sehingga bisa seenaknya memalak," kata Abdullah, Sabtu, (22/3).
Aksi mereka semakin mencolok menjelang hari raya. Mereka keliling ke beberapa lokasi untuk meminta THR. Mereka datang ke lembaga pendidikan, instansi pemerintah, pabrik-pabrik, toko, dan tempat-tempat yang bisa mereka palak.
Tahun ini, aksi mereka ramai menjadi sorotan, karena terekam kamera, kemudian viral di media sosial. Semua masyarakat pun mengecam aksi premanisme berkedok ormas yang sangat meresahkan.
Aksi pemalakan preman itu tidak hanya terjadi di satu daerah, tapi terjadi di beberapa lokasi. Bahkan, para preman itu kerap melakukan kekerasan kepada korbannya, jika permintaan mereka tidak dikabulkan.
"Mereka membawa senjata tajam dan melakukan kekerasan terhadap korban. Jelas itu bentuk premanisme yang tidak boleh dibiarkan," tegasnya.