Kemenag Salurkan Bantuan Rp2 Miliar untuk Gereja Katolik Terdampak Bencana di Sumatera
Kementerian Agama melalui Wamenag menyalurkan bantuan Rp2 miliar untuk gereja Katolik yang terdampak bencana di Sumatera, sebagai upaya pemulihan fisik dan psikis umat agar kembali beribadah.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Raden Muhammad Syafii secara simbolis menyerahkan bantuan Kementerian Agama (Kemenag) senilai Rp2 miliar. Bantuan ini ditujukan untuk percepatan pemulihan rumah ibadah, khususnya gereja Katolik yang terdampak bencana di wilayah Sumatera. Penyerahan bantuan Kemenag ini merupakan wujud kepedulian pemerintah terhadap kondisi masyarakat pascabencana.
Dana tersebut dialokasikan untuk beberapa keuskupan, dengan Keuskupan Agung Medan menerima Rp200 juta dan Keuskupan Agung Sibolga mendapatkan Rp1,7 miliar. Selain itu, umat Katolik di Aceh juga menerima bantuan sebesar Rp100 juta melalui Pembimbingan Masyarakat Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Aceh. Distribusi bantuan ini diharapkan dapat menjangkau wilayah yang paling membutuhkan.
Aksi tanggap darurat ini dilakukan menyusul serangkaian bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang melanda Sumatera Utara dan Aceh. Musibah tersebut telah menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur dan mempengaruhi kehidupan ribuan warga. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan dampak serius dari bencana hidrometeorologi ini.
Aksi Tanggap Kemenag untuk Pemulihan Rumah Ibadah
Wamenag Romo Raden Muhammad Syafii menegaskan bahwa penyerahan bantuan Kemenag ini adalah bentuk kepedulian Kementerian Agama untuk merehabilitasi rumah ibadah. Fokus utama adalah pada gereja Katolik yang mengalami kerusakan akibat bencana alam. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat proses rehabilitasi fasilitas keagamaan.
Lebih lanjut, Romo menyampaikan bahwa bantuan kemanusiaan ini diberikan agar seluruh jemaat terdampak bencana bisa kembali beribadah dengan khusyuk dan tenang. Pemulihan pascabencana tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga sangat penting untuk memulihkan kondisi psikis umat. Dukungan ini esensial untuk mengembalikan ketenangan spiritual.
Dengan adanya bantuan Kemenag ini, diharapkan rumah ibadah yang rusak dapat segera diperbaiki sehingga umat dapat kembali melaksanakan ibadah. Pemulihan fasilitas ibadah menjadi prioritas untuk mendukung proses penyembuhan komunitas. Hal ini juga bertujuan untuk mempererat silaturahim dan persaudaraan antarumat beragama.
Skema Bantuan dan Dampak Bencana Hidrometeorologi
Wamenag Romo menjelaskan bahwa Kementerian Agama memiliki dua skema dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana. Skema pertama adalah mengumpulkan bantuan peduli bencana dari Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag. Skema kedua adalah memberikan bantuan melalui alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebelumnya, Kementerian Agama telah menyalurkan bantuan sebesar Rp500 juta yang berasal dari donasi ASN Kemenag. Bantuan tersebut telah disalurkan melalui Kanwil Kemenag Sumatera Utara. Ini menunjukkan komitmen berkelanjutan dari Kemenag dalam mendukung penanganan dampak bencana.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh mencapai 1.140 orang hingga Ahad (28/12). Selain itu, 163 warga masih dinyatakan hilang dan total pengungsi mencapai 399.172 jiwa tersebar di titik pengungsian terpusat. Angka-angka ini menggarisbawahi skala besar dampak bencana yang terjadi.
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Utara, Ahmad Qosbi, menyatakan harapannya agar bantuan Kemenag ini dapat memberikan manfaat besar bagi para korban bencana hidrometeorologi. Ia juga menambahkan bahwa bantuan ini diharapkan dapat memberi semangat baru bagi umat Katolik. Pertemuan penyerahan bantuan juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahim dan persaudaraan.
Sumber: AntaraNews