Wamenag Apresiasi WMSJ 2025: Jambore Pramuka Muslim Pertama di Dunia Lahirkan Pemimpin Masa Depan
Wakil Menteri Agama mengapresiasi WMSJ 2025, jambore pramuka Muslim pertama di dunia yang digelar di Cibubur, sebagai wadah penting kaderisasi pemimpin muda dan duta perdamaian.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i memberikan apresiasi tinggi terhadap World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025. Acara ini merupakan jambore pramuka Muslim pertama di dunia yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Ia menyebutnya sebagai momentum sejarah penting bagi generasi muda.
Kegiatan akbar ini berlangsung dari tanggal 9 hingga 14 September 2025, melibatkan ribuan peserta dari berbagai negara. Wamenag menyoroti peran WMSJ 2025 sebagai wadah efektif untuk membentuk jiwa kepemimpinan dan kemandirian. Ini sejalan dengan nilai-nilai pendidikan yang diusung oleh pesantren.
Romo Syafi’i menekankan bahwa WMSJ 2025 bukan sekadar perkemahan biasa, melainkan pusat pembentukan karakter. Ia berharap acara ini dapat melahirkan pemimpin Muslim masa depan yang inklusif dan mampu merangkul semua kalangan.
WMSJ 2025: Wadah Pendidikan Kepemimpinan dan Inklusivitas
Wamenag Romo Muhammad Syafi’i menegaskan bahwa WMSJ 2025 adalah platform krusial untuk pendidikan kepemimpinan. Ia melihat semangat pramuka yang mengajarkan kemandirian sangat selaras dengan nilai-nilai pesantren. Oleh karena itu, ia memberikan dukungan penuh terhadap perhelatan akbar ini.
"Yang saya soroti adalah pendidikan kepemimpinan dan kemandirian yang menjadi jiwa pramuka. Semuanya ada di pesantren, semuanya ada di WMSJ," ujar Romo Syafi’i. Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya kegiatan ini dalam membentuk karakter peserta.
Selain itu, Wamenag juga menyoroti aspek inklusivitas yang diusung oleh kepramukaan. Para peserta dari berbagai latar belakang negara dan budaya belajar untuk saling menghargai. Mereka menjalin persaudaraan yang kuat melampaui perbedaan yang ada.
"Dalam pramuka, adik-adik belajar bahwa perbedaan bukan penghalang. Justru dari sinilah lahir pemimpin yang bisa merangkul semua kalangan," tambahnya. Hal ini menggarisbawahi potensi WMSJ 2025 dalam menciptakan pemimpin yang toleran dan berwawasan luas.
Melahirkan Duta Perdamaian di Tengah Krisis Moralitas Global
Sekretaris Jenderal Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG), Anang Rikza Masyhadi, memandang WMSJ 2025 sebagai respons terhadap krisis moralitas dunia. Ia berharap jambore ini dapat melahirkan generasi muda yang membawa misi damai. Mereka diharapkan mampu menyebarkan nilai-nilai kasih sayang dan persaudaraan.
Anang Rikza menekankan bahwa di tengah maraknya konflik global, WMSJ 2025 hadir sebagai alternatif solusi. Kegiatan ini mempertemukan anak-anak muda dari berbagai penjuru dunia. Mereka berinteraksi dan belajar untuk menjadi agen perdamaian.
"Ketika moralitas dunia sedang turun, WMSJ hadir sebagai alternatif. Di sini anak-anak muda bertemu, berinteraksi, dan belajar membawa misi damai—bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk dunia," tuturnya. Pernyataan ini menegaskan visi besar di balik penyelenggaraan WMSJ 2025 yang berorientasi global.
Detail Penyelenggaraan WMSJ 2025
World Muslim Scout Jamboree 2025 diikuti oleh total 15.333 peserta. Jumlah ini terdiri dari 7.149 peserta putra dan 6.349 peserta putri. Selain itu, terdapat 1.718 pembina yang turut mendampingi kegiatan ini, menunjukkan skala besar acara tersebut.
Acara akbar ini merupakan bagian integral dari rangkaian peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Hal ini menunjukkan akar historis dan nilai-nilai pendidikan yang kuat di balik penyelenggaraan jambore, yang berlandaskan pada tradisi pesantren.
Dengan tema "We Are Muslim, Civilized United, and Peaceful", WMSJ 2025 diselenggarakan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Kegiatan ini berlangsung selama enam hari, dari tanggal 9 hingga 14 September 2025. Tema tersebut mencerminkan tujuan mulia untuk persatuan, peradaban, dan perdamaian global.
Sumber: AntaraNews