Wali Kota Denpasar Ajak Desa Adat Sukseskan Pengelolaan Sampah dengan Teba Modern
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mendorong desa adat mengelola sampah secara mandiri melalui inovasi Teba Modern. Simak bagaimana sistem ini bekerja dan dampaknya!
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, secara tegas meminta seluruh desa adat di wilayahnya untuk aktif berpartisipasi dalam program penanganan sampah. Permintaan ini disampaikan dalam Paruman Madya Majelis Desa Adat (MDA) Bali Tingkat Kota Denpasar. Beliau menekankan pentingnya peran lembaga adat dalam mengendalikan masyarakat dari tingkat Banjar hingga desa.
Inisiatif utama yang didorong adalah penggunaan sistem pengelolaan sampah inovatif yang dikenal sebagai Teba Modern. Sistem ini diharapkan menjadi solusi efektif untuk mengurangi timbunan sampah organik di Denpasar. Acara penting tersebut berlangsung di Gedung Santi Graha Denpasar pada hari Minggu.
Jaya Negara berharap Majelis Desa Adat dapat menjadi garda terdepan dalam menyukseskan program ini. Sinergi antara pemerintah kota dan desa adat dinilai krusial untuk mencapai tujuan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi seluruh masyarakat Denpasar.
Mengenal Inovasi Teba Modern untuk Pengelolaan Sampah
Teba Modern merupakan sebuah inovasi sistem pengomposan sampah organik skala rumah tangga yang efisien dan ramah lingkungan. Konsep ini melibatkan pembuatan lubang beton sedalam dua meter yang berfungsi mengurai sampah organik menjadi pupuk kompos. Sistem ini menawarkan solusi praktis bagi masyarakat untuk mengelola sampah dari sumbernya.
Selain mengolah sampah organik menjadi kompos alami, pembangunan Teba Modern juga memiliki manfaat ganda. Lubang ini dapat berfungsi sebagai sumur resapan air hujan, berkontribusi dalam mencegah banjir dan mengisi cadangan air tanah. Dengan demikian, Teba Modern tidak hanya mengatasi masalah sampah tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan.
Wali Kota Denpasar, Jaya Negara, meminta seluruh masyarakat desa adat untuk bersinergi dengan program pemerintah terkait penanganan sampah ini. Beliau menekankan pentingnya gerakan masif dalam penyediaan Teba Modern. "Terkait dengan program pengelolaan sampah ini, kami mohon sinergi desa adat untuk ikut menyediakan teba modern. Tentunya jika gerakan ini dilakukan secara masif, maka kita akan dapat melakukan penanganan sampah," ujarnya.
Jaya Negara optimistis bahwa jika setiap desa adat mengadopsi Teba Modern secara luas, dampaknya akan signifikan. "Meski teba modern ini kecil, namun jika masing-masing desa adat memiliki 10 teba modern, maka akan ada 350 teba modern yang tersedia. Jumlah ini tentunya saya rasa akan dapat mengurangi sampah," tambahnya.
Sinergi Majelis Desa Adat dalam Mendukung Program Lingkungan
Majelis Desa Adat (MDA) diharapkan menjadi kendaraan utama dalam mengendalikan masyarakat dari tingkat Banjar hingga desa terkait pengelolaan sampah di hulu. Peran MDA sangat strategis mengingat jangkauan dan pengaruhnya dalam komunitas adat. Keberadaan lembaga ini menjadi kunci keberhasilan program Teba Modern.
Penyarikan Agung MDA Provinsi Bali, Dewa Nyoman Rai Asmara Putra, menegaskan komitmen kuat MDA Bali untuk mendukung kebijakan pemerintah daerah. Sebagai mitra strategis, jajaran MDA selalu berupaya berperan aktif dalam mensukseskan berbagai program pemerintah. "Kami terus berupaya untuk bersinergi dengan pemerintah daerah, demi menjaga Bali agar tetap ajeg dan lestari," ungkapnya.
Sinergi antara pemerintah kota dan MDA ini bukan hanya terbatas pada program Teba Modern. Wali Kota Jaya Negara juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus MDA Kota Denpasar atas kerja sama yang telah terjalin. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan dan budaya Bali.
Sumber: AntaraNews