UPH Lantik Lima Guru Besar, Wakil Ketua MPR Tekankan Peran Strategis Akademisi
Universitas Pelita Harapan (UPH) menyelenggarakan sidang terbuka untuk mengukuhkan lima guru besar yang berasal dari berbagai disiplin ilmu.
Universitas Pelita Harapan (UPH) menyelenggarakan sidang terbuka untuk mengukuhkan lima guru besar dari berbagai disiplin ilmu. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menekankan bahwa peran guru besar tidak hanya terbatas pada dunia akademis, melainkan juga sebagai penjaga nalar publik dan pengarah kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan demi kemaslahatan bangsa.
"Peran guru besar tidak berhenti di ruang kampus, tetapi harus hadir menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Hari ini adalah bukti bahwa UPH terus bertumbuh sebagai institusi yang tidak henti-hentinya menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa," ungkap Lestari dalam video pengukuhan guru besar UPH, Senin (20/4).
Lestari juga menyatakan kebanggaannya menjadi bagian dari keluarga besar UPH. Sebagai alumni Prodi Doktor Manajemen UPH angkatan 2019, ia merasakan langsung bagaimana institusi tersebut membentuk kecerdasan sekaligus karakter mahasiswanya.
"UPH bukan hanya sekadar nama institusi besar, tetapi sebuah kawah candradimuka. Saya sendiri merasakan bagaimana kecerdasan dan karakter dibentuk, disertai kasih serta dukungan yang luar biasa," tambahnya.
Pengukuhan para guru besar berlangsung di Auditorium Grand Chapel, Kampus Utama UPH Lippo Village, Tangerang, pada Senin (20/4), dengan lima guru besar yang berasal dari bidang pendidikan, hospitality dan pariwisata, ilmu politik, audit dan forensik keuangan, serta manajemen sumber daya manusia.
Kelima guru besar tersebut adalah Khoe Yao Tung dari Fakultas Pendidikan Pascasarjana (FPP); Juliana dari Fakultas Hospitality dan Pariwisata (FHospar); Thomas Tokan Pureklolon dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP); serta Tanggor Sihombing dan Ardi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Rektor UPH Jonathan L Parapak, saat melantik guru besar, menyampaikan rasa bangganya atas bertambahnya jumlah profesor di UPH.
Menurutnya, pencapaian ini merupakan anugerah dan wujud nyata komitmen UPH untuk memberikan yang terbaik melalui pengembangan ilmu pengetahuan.
"Atas nama UPH, saya menyampaikan selamat dan rasa bahagia. Dengan pengukuhan lima profesor kali ini, UPH telah memiliki 45 profesor. Pencapaian ini menjadi langkah penting bagi UPH untuk terus berkembang dan memajukan pendidikan tinggi di Indonesia," ujarnya.
Melalui tayangan video, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III Henri Togar Hasiholan Tambunan menilai bahwa pengukuhan lima guru besar secara bersamaan merupakan pencapaian yang luar biasa. Ia menyatakan bahwa capaian ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengembangan kualitas akademik perguruan tinggi. Henri berharap agar para guru besar UPH dapat berperan aktif dalam membangun regenerasi akademisi di kampus.
"Menorehkan sejarah dengan mengukuhkan lima guru besar secara bersamaan bukanlah hal yang biasa. Bagi kami di LLDikti Wilayah III, ini adalah lompatan besar yang sangat menggembirakan. Kelima kepakaran ini merupakan amunisi yang luar biasa bagi UPH," pesannya.
Self-Mindset Development sebagai Paradigma Antikorupsi
Ardi, yang terpilih sebagai guru besar tetap bidang manajemen sumber daya manusia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (SK Mendiktisaintek) Nomor 94871/M/07/2024 TMT 1 September 2024, memperkenalkan pendekatan baru dalam isu korupsi. Dalam penelitiannya yang berjudul Embrace the Corruptor, ia mengajak individu untuk menyadari bahwa potensi koruptif ada dalam diri setiap orang.
Ardi menawarkan pendekatan Self-Mindset Development, yang menekankan pada perubahan pola pikir dan karakter manusia sebagai bagian dari upaya pemberantasan korupsi. "Strategi antikorupsi yang holistik memerlukan perbaikan sistem dan tata kelola, serta pembentukan mindset, karakter, dan spiritualitas individu," jelasnya.
Pariwisata Inklusif dan Kolaboratif untuk Membangun Indonesia Bahagia
Juliana, melalui penelitiannya yang berjudul 'Model CITRA (Collaborative Inclusive Tourism Resilience Architecture)', menghadirkan perspektif baru dalam sektor pariwisata. Ia menyoroti pentingnya pergeseran paradigma pembangunan pariwisata yang berpusat pada manusia, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi. Model CITRA mengajak masyarakat untuk melihat pariwisata sebagai ruang kolaborasi antara masyarakat lokal, wisatawan, budaya, dan teknologi, di mana masyarakat menjadi pencipta pengalaman wisata.
"Pembangunan pariwisata Indonesia bukan sekadar meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi membangun ekosistem terpadu yang melibatkan pengalaman, kreativitas, dan partisipasi masyarakat," ujarnya.
Bonum Commune sebagai Makna Kekuasaan Politik
Thomas Tokan Pureklolon, yang juga dikukuhkan sebagai guru besar tetap bidang ilmu politik, membahas konsep bonum commune atau kebaikan bersama. Penelitiannya mengajak publik untuk merefleksikan makna kekuasaan dalam konteks kehidupan bernegara. Menurutnya, kekuasaan seharusnya dipahami sebagai tanggung jawab moral untuk mewujudkan kebaikan bersama, bukan sebagai alat dominasi.
"Implementasi bonum commune dalam demokrasi adalah keharusan. Kekuasaan harus dijalankan secara etis, dan partisipasi publik perlu diperkuat," katanya.
Pendidikan Masa Depan Berbasis Personalized Learning dan AI
Khoe Yao Tung, yang dikukuhkan sebagai guru besar tetap bidang ilmu pendidikan, menyoroti pentingnya personalized learning yang didukung oleh teknologi Artificial Intelligence (AI). Dalam penelitiannya, ia menjelaskan bahwa peran guru kini bertransformasi dari penyampai materi menjadi perancang pengalaman belajar. "Future of learning is personalization learning. Penggunaan AI dalam desain pembelajaran memberi peluang bagi guru untuk memahami proses belajar siswa secara lebih mendalam," ujarnya.
Peran Audit dalam Integritas Informasi Keuangan
Tanggor Sihombing, yang menjadi guru besar tetap bidang financial audit and forensic audit, menegaskan bahwa laporan keuangan memiliki risiko tinggi. Dalam penelitiannya, ia menekankan pentingnya peran auditor dalam memastikan informasi keuangan disajikan secara akurat dan dapat dipercaya.
"Untuk mengurangi praktik fraud, diperlukan langkah strategis, termasuk memperkuat sistem pengawasan internal dan menegakkan hukum secara konsisten," ungkapnya.