Saksi Bisu Hilangnya Nyawa Diplomat Kemlu
Lokasi tewasnya diplomat Kemlu itu memiliki sistem pengamanan yang ketat.
Siang itu, Jalan Gondangdia Kecil di Jakarta tampak sepi. Sesekali terdengar deru kendaraan melintas. Sebuah bangunan bercat putih kusam berdiri di areal cukup luas.
Sebuah papan besar bertuliskan “RUMAHTUAVAPE” terpasang mencolok di bagian atas, terlihat paling menonjol di antara kusamnya dinding.
Gerbang menuju kamar-kamar kos berada tepat di sisi kiri dan kanan toko vape itu, dipisahkan pagar putih yang catnya mulai pudar dimakan usia. Di sisi kanannya, menempel keypad digital berawarna hitam, tanda hanya mereka yang memiliki akses yang bisa masuk.
Lorong itu mengarah ke deretan pintu kamar bercat putih kusam. Di sisi kiri, jendela-jendela kaca dengan bingkai kayu tampak tertutup rapat.
Di seberangnya, ada taman kecil sejajar dengan jalur setapak beton. Di ujung itulah kamar 105 berada, tempat tewasnya diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), ADP (39), pada Selasa (22/7/2025) lalu.
Seorang pria berdiri di depan pintu mengenakan kaus polo putih bersih dengan logo buaya kecil di dada kirinya. Kedua lengannya bersilang di dada, wajahnya tenang. Namanya Helmi. Sudah tiga tahun lebih ia menghuni kamar kos di Gondia Guest House itu. Namun, ia mengaku tak mengenal dekat penghuni kost lain, termasuk ADP.
"Tidak begitu kenal karena kita punya privasi masing-masing. Saya tahu nama gak terlalu familiar," kata Helmi saat ditemui baru-baru ini.
Menurut dia, suasana di sekitar kawasan ini cenderung sunyi. Hal itu pula yang membuat mereka nyaris tak berinteraksi.
"Dia kamar paling depan, jadi sama kita agak jauh. Hanya tegur sapa biasa, kalau ada saling sapa," ucap dia.
Helmi ingat terakhir kali melihat korban mungkin setahun lalu. "Dia suka cuci mobil, dan saya hanya menyapa saja," ucap dia.
Selain soal itu, Helmi juga membeberkan sistem keamanan di rumah kos itu memang relatif ketat untuk sekelas guest house. Pintu pagar hanya bisa dibuka dengan kartu akses, begitu juga dengan pintu masing-masing kamar.
"Akses tiap bulan diperbarui, kalau dia tidak bayar gak bisa masuk," ucap dia.
Sementara jika kehilangan kartu akses, penghuni mesti menghubungi langsung pemilik kos bernama Pak Rudi yang tinggal di Bintaro untuk mendapat pengganti.
"Iya (pengamanan ketat) penjaga kos tidak bisa masuk kamar. Saya pernah kehilangan kartu, itupun saya harus menunggu pemilik kos untuk kirim kartu. Jadi kalau hilang saya lapor pemilk minta ganti, bayar biaya ganti Rp 100 ribu," ucap dia.
Tak cuma itu, siapa pun yang membawa tamu harus bertanggung jawab sepenuhnya. "Pemilik sangat ketat dia ngontrol," ucap dia.
Setelah kejadian, suasana rumah kos tak banyak berubah. Police line yang sempat dipasang di depan kamar korban kini telah dicopot. Sebagian penghuni tetap tinggal, termasuk di antaranya Helmi. Dia mengaku tak merasa takut.
"Enggak takut, kan kita juga bakal meninggal. Hal-hal seperti itu biasa lah," ucap dia.
Helmi mengaku tak berniat pindah dari tempat yang sudah dia tempati bertahun-tahun. Selain akses yang gampang, menurut dia harganya juga ramah di kantong. Harga sewanya berkisar Rp 3 juta hingga Rp 3,5 juta per bulan, tergantung ukuran kamar. Sistemnya bulanan.
"Enggak akan pindah. Aman sih di sini," kata dia.