DPR Minta Menlu Bentuk Tim Investigasi Independen Atas Kematian Diplomat Kemlu Arya Daru dan Buka Kembali Ekshumasi

Setelah kematian Arya Daru, keluarga mendapat sejumlah teror.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
DPR Minta Menlu Bentuk Tim Investigasi Independen Atas Kematian Diplomat Kemlu Arya Daru dan Buka Kembali Ekshumasi
Kuasa Hukum keluarga almarhum Arya Daru Pangayunan, Nicholay Aprilindo, melaporkanberbagai teror yang dialami keluarga korban ke Komisi XII DPR. (Antara) (© 2025 Liputan6.com)

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meminta kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono untuk membuat tim investigasi independen. Hal ini dimintanya terkait kematian diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan alias ADP (39).

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi XIII DPR Andreas Hugo Pareira dalam rapat bersama dengan keluarga Arya Daru di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat.

"Komisi XIII DPR RI meminta Menteri Luar Negeri untuk membentuk Tim Investigasi Independen yang melibatkan keluarga dan pihak terkait sebagai bagian dari tanggungjawab Kementerian Luar Negeri atas kematian seorang diplomat Almarhum Arya Daru Pangayunan," kata Andreas di Jakarta, Selasa (30/9).

Selain itu, Menteri Hak Asasi Manusia (MenHAM) Natalius Pigai diminta untuk menyampaikan permintaan resmi kepada Presiden Prabowo Subianto agar menginstruksikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membuka kembali ekshumasi.

"Untuk dilakukan penyelidikan kasus ini secara menyeluruh, transparan, dan akuntabel, serta memastikan adanya perlindungan bagi keluarga korban," ujarnya.

Sebelumnya, Pengacara keluarga Arya Daru Pangayunan (39), Nicholay Aprilindo menyampaikan sejumlah catatan atas kematian Arya Daru. Hal ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XIII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Nicholay mengatakan, dalam kematian Arya Daru pihaknya memiliki landasan pada hasil pemeriksaan psikologi forensik dikatakan bahwa kejadian tersebut harus ditindaklanjuti.

Pita Istri Diplomat Arya Daru Masih Tak Percaya Suaminya Meninggal: Ini Masih Seperti Mimpi
Pita Istri Diplomat Arya Daru Masih Tak Percaya Suaminya Meninggal: Ini Masih Seperti Mimpi Merdeka.com

"Kalimatnya mengatakan bahwa meski penyebab kematian Daru sudah mengarah pada cara kematian tertentu, tapi diagnosis mental dan dinamika psikososial Daru perlu digali dan dianalisis lebih mendalam dengan melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang secara signifikan dapat menggambarkan diri Daru," kata Nicholay di Jakarta, Selasa (30/9).

Kemudian, bisa dilakukan analisis lebih lanjut terhadap barang pribadi seperti laptop, handphone yang sehari-hari digunakan korban.

"Seperti orang tua dan rekan kerja di bagian yang sama, analisis lebih lanjut terhadap barang pribadi seperti laptop, handphone yang sehari-hari digunakan perlu dilakukan," ujarnya.

Karena, hingga saat ini handphone yang sehari-hari digunakan oleh korban belum juga ditemukan oleh aparat kepolisian yang menangani peristiwa tersebut.

"Namun sampai laporan ini disusun, orang tua dan rekan kerja Daru belum dapat ditemui karena masih dalam keadaan berduka. Handphone yang sehari-hari digunakan juga belum ditemukan keberadaannya, sehingga semakin sulit untuk mendapatkan gambaran yang lebih definitif terkait diagnosis kesehatan mental Arya Daru," ungkapnya.

Menurutnya, pada zaman sekarang ini bukan menjadi perkara sulit bagi petugas untuk dapat menemukan handphone milik korban yang memang digunakan dalam kesehariannya.

"Nah ini berarti masih membuka peluang karena ortu pun belum pernah didiagnosis diambil keterangannya dan handphone pun sampe saat sekarang masih dinyatakan hilang oleh pihak kepolisian. Padahal untuk menemukan handphone itu di alam yang canggih skrg ini sangatlah mudah bagi pihak kepolisian. Nah ini menjadi catatan kita bersama," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Nicholay ingin agar dalam kasus ini juga dilakukan pemeriksaan terhadap sejumlah orang lainnya yang memang masih bersama korban sebelum meninggal dunia.

"Dan hal lain yang perlu kami sampaikan adalah kami selalu menyampaikan bahwa tolong didalami pemeriksaan dan dikembangkan pemeriksaan. Pertama terhadap seseorang bernama Farra yang saat itu berada bersama almarhum, ketika dari Kemlu ke makan siang di pos bloc. Kemudian pada sore harinya berada di Grand Indonesia," paparnya.

Pemeriksaan juga disebutnya dilakukan terhadap supir taksi yang sempat membawa atau mengantarkan korban dari Grand Indonesia (GI), Kantor Kementerian Luar Negeri (Kemlu) hingga kembali ke tempat kosan korban.

"Kemudian Dion yang bersama-sama juga dengan almarhum pada saat itu. Kemudian supir taksi yang mengantar almarhum ke GI ke Kemlu dan supir taksi yang mengantar almarhum dari Kemlu ke tempat kos almarhum," pungkasnya.

Rekomendasi