Profil Prof Sumitro Purwodipoero, Dosen Pembimbing Skripsi Jokowi di UGM
Kasmudjo ia menegaskan tidak ikut menguji sidang skripsi Jokowi. Soal polemik ijazah palsu Jokowi, Kasmudjo enggan berkomentar.
Kasmudjo membantah kabar menyebut dirinya dosen pembimbing Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi. Ia hanya dosen pembimbing akademi Jokowi semasa berkuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.
Ia mengungkap dosen pembimbing skripsi Jokowi bernama Prof. Sumitro Purwodipoero. Pun, ia menegaskan tidak ikut menguji sidang skripsi Jokowi. Soal polemik ijazah palsu Jokowi, Kasmudjo enggan berkomentar.
"Mengenai ijazah, saya paling tidak bisa cerita karena saya tidak membimbing (skripsi), tidak mengetahui, tidak ada prosesnya, karena pembimbingnya itu Prof. Sumitro. Pembantunya dan yang nguji ada sendiri," kata Kasmudjo di kediamannya, Rabu (14/5).
"Jadi kalau mengenai (tuduhan) ijazah sampai palsu itu saya tidak bisa sama sekali cerita dan saya sama sekali belum pernah melihat ijazahnya itu seperti apa, ya saya mau ngomong apa," imbuh Kasmudjo.
Pernah Jabat Dekan UGM
Dikutip dari laman ugm.ac.id, Prof. Sumitro Purwodipoero lahir di Jakarta 2 Desember 1935. Ia merupakan salah satu guru besar terbaik yang pernah dimiliki UGM.
Namun, Prof. Sumitro telah tutup usia. Ia menghembuskan napas terakhir pada Senin 21 September 2009 sekira pukul 17.30 di RSUO Sardjito, Yogyakarta di usia 74 tahun.
Mendiang Prof Sumitro dimakamkan pada Selasa, 22 September 2009 pukul 14.00 di peristirahatan terakhir keluarga besar UGM, Sawitsari.
Sebelumnya, jenazah almarhum disemayamkan di Balairung UGM untuk mendapatkan penghormatan terakhir.
Prof. Sumitro pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Kehutanan UGM periode 1978-1979, 1980-1981, 1988-1991 dan 1991-1994.
Saat itu, ucapan belasungkawa diberikan Rektor UGM Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D.
"Beliau, Prof. Achmad Sumitro, sangat prihatin dengan adanya illegal logging dan illegal trade. Karena jika illegal logging dan illegal trade tidak dihentikan, revitalisasi industri tidak dapat terlaksana, serta rehabilitasi dan konservasi hutan tidak akan berguna dan pada akhirnya akan sangat mempengaruhi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata Prof. Sudjarwadi saat pelepasan jenazah di Balairung.