Pro Kontra di Balik Wacana Mengubah Fungsi Kebun Binatang Bandung Zoo
Masa depan Bandung Zoo bakal ditentukan dalam dua bulan ke depan. Hal itu diungkapkan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Masa depan Bandung Zoo bakal ditentukan dalam dua bulan ke depan. Hal itu diungkapkan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Dia menyampaikan bahwa saat ini Pemkot Bandung bersama pemerintah provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Pusat, tengah melakukan penjajakan sejumlah aspek dan pengkajian. Hasil sementara, diungkapkan Farhan, terdapat tiga kemungkinan untuk masa depan Bandung Zoo.
Pilihan Mengubah Bandung Zoo
Pilihan pertama adalah mempertahankan kebun binatang dalam kondisi seperti sekarang. Pilihan kedua, mengembangkan kawasan menjadi taman margasatwa dengan jumlah satwa yang lebih terbatas, namun dengan penambahan luas ruang terbuka hijau. Adapun pilihan ketiga, kawasan tersebut diubah sepenuhnya menjadi ruang terbuka hijau.
Farhan menjelaskan, opsi kedua dan ketiga sejalan dengan target Pemerintah Kota Bandung untuk melipatgandakan luasan ruang terbuka hijau.
“Kami bertiga, pemerintah kota, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat sedang mendiskusikan masa depan Kebun Binatang ini. Apakah tetap menjadi kebun binatang dengan konsep seperti sekarang, dengan konsep yang berbeda, atau bahkan bukan kebun binatang,” ujar Farhan, dikutip dari rilis Diskominfo Bandung, Rabu (14/1).
Wacana Mengubah Bandung Zoo Tuai Sorotan
Kendati hasil pembahasan belum sepenuhnya rampung dan tengah digodok secara hati-hati, alias masih terbuka, pernyataan tersebut mendapat sorotan dari beberapa pihak. Salah satunya, dari akademi ilmu sejarah sekaligus penulis yang meneliti histori kebun binatang itu, yakni Yudi Hamzah.
Dia menyayangkan apabila Bandung Zoo beralih fungsi dari bentuknya yang sekarang. Apalagi hingga meniadakan satwa-satwa di sana.
Dalam hematnya, fungsi kebun binatang sekarang terbilang komplit dan masih mampu berfungsi sebagai destinasi rekreasi masyarakat, ruang terbuka hijau, maupun kawasan konservasi.
Secara personal, dia yang lahir dan tumbuh dewasa di Kota Kembang, menyinggung ihwal memori kolektif warga Bandung yang telah di sana sejak tahun 1930-an. Ia menyayangkan apabila fungsi kebun binatang ditiadakan pemerintah dari Bandung Zoo, sebab memori kolektif itu pun lambat laun akan turut pudar.
Hal itu dia ungkapkan di sela diskusi buku gubahannya terkait sejarah Bandung Zoo, dengan judul Kado untuk Bandung: Taman Menjadi Kebun Binatang, di kawasan Dago, Bandung, Rabu (14/1).
“Sedih, ya. Kenapa Pak wali atau siapa pun itu sampai membuka opsi terakhir menghilangkan kebun binatang dari Bandung. Ya sedih saja. Sebagai orang Bandung secara kultural saya merasa memiliki juga, masa kecil saya, remaja, sampai dewasa ya masa sampai begitunya menghilangkan (fungsi) kebun binatang,” ucap dia.
“Ketika kita masih kecil, lihat gajah di mana sih? Ya paling di TVRI, di acara flora dan fauna, nah di Kebun Binatang Bandung ada wujud aslinya,” tuturnya.
Polemik Pengelolaan Harus Dibereskan
Terkait polemik legalitas manajemen pengelola, ia menilai seyogyanya hal itu bisa diselesaikan secara baik di antara pihak yang terlibat. Menurutnya, tujuan besar yang perlu dijaga adalah agar kebun binatang tetap ada dan terus memberi manfaat bagi masyarakat, baik dari sisi rekreasi maupun edukasi.
Ia menilai kebun binatang saat ini masih menjalankan fungsi penting, termasuk konservasi satwa. Selain itu, kawasan tersebut juga telah memiliki ruang terbuka hijau dengan taman, pepohonan besar, serta satwa yang dilindungi, sehingga perannya bagi lingkungan dan publik masih relevan.
Karena itu, ia mempertanyakan munculnya opsi menjadikan kawasan tersebut sepenuhnya sebagai ruang terbuka hijau. Menurutnya, kondisi eksisting kebun binatang sudah mencakup fungsi RTH, konservasi, dan taman bermain.
“Kan RTH-nya ada, tamannya ada, pohon-pohon besarnya banyak juga, ada satwa yang dilindunginya juga ada, kenapa mesti ada opsi ketiga?” kata dia.