Petani Singkong di Lampung Didukung Beralih ke Jagung, Dinilai Lebih Menguntungkan
Menteri Pertanian Andi Amran menetapkan harga singkong di angka Rp1.350 per kilogram.
Pemerintah Provinsi Lampung tengah menggalakkan transformasi sektor pertanian dengan mendorong petani singkong untuk mulai membudidayakan jagung. Langkah ini dipicu oleh perbedaan signifikan harga jual antara kedua komoditas tersebut.
Sebagaimana diketahui, Menteri Pertanian Andi Amran menetapkan harga singkong di angka Rp1.350 per kilogram. Sementara itu, jagung bisa dijual dengan harga jauh lebih tinggi, yakni antara Rp4.500 hingga Rp5.500 per kilogram.
Dorongan untuk migrasi komoditas ini disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam kegiatan Penanaman Jagung Serentak Kuartal IV Tahun 2025 yang digelar secara daring di Gudang Ketahanan Pangan Polda Lampung, Desa Purwotani, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, Rabu (8/10).
"Kami akan mulai memigrasikan beberapa luasan lahan singkong menjadi jagung. Untuk itu, kami memohon dukungan terutama untuk bantuan bibit jagung dan pompa air dalam mempercepat alih komoditas ini,” katanya.
Gubernur menjelaskan bahwa jagung memiliki prospek yang lebih menjanjikan, terutama karena adanya kepastian pembelian hasil panen oleh Bulog. Pemerintah daerah juga siap memberikan dukungan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bekerja sama dengan Bank Lampung serta menjalin kemitraan dengan off-taker dari industri pakan ternak.
"Nantinya kami akan melakukan penyuluhan bagi petani yang akan melakukan migrasi dari singkong ke jagung,” ucapnya.
Tak hanya dari sisi pemerintah daerah, dukungan terhadap ketahanan pangan juga datang dari jajaran kepolisian. Kapolda Lampung Irjen Pol Helmy Santika menyampaikan bahwa pihaknya telah membangun Gudang Ketahanan Pangan sebagai bagian dari komitmen membantu program strategis pemerintah.
“Gudang ini berdiri di atas lahan seluas 7.000 meter persegi dan mampu menampung sekitar 1.400 ton jagung. Dengan fasilitas empat alat pengering, empat mesin pemipil jagung mobile, dan empat hand tractor yang dapat digunakan masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, para petani mulai merasakan dampak positif dari peralihan ini. Triono, salah seorang petani yang hadir dalam kegiatan tersebut, menilai jagung sebagai komoditas yang lebih menjanjikan dibanding singkong.
“Dulu kami menanam singkong, tapi harganya tidak stabil dan kadang hanya balik modal saja. Sekarang mulai beralih ke jagung karena prospeknya lebih baik," katanya.