Dampak Bencana, Petani Agam Siap Beralih Tanam Jagung Demi Pemulihan Ekonomi

Petani di Palembayan Agam terpaksa beralih tanam jagung setelah sawah mereka rusak parah akibat banjir bandang dan longsor, mencari solusi ekonomi sembari menanti perbaikan irigasi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dampak Bencana, Petani Agam Siap Beralih Tanam Jagung Demi Pemulihan Ekonomi
Petani di Palembayan Agam terpaksa beralih tanam jagung setelah sawah mereka rusak parah akibat banjir bandang dan longsor, mencari solusi ekonomi sembari menanti perbaikan irigasi. (AntaraNews)

Petani di Jorong Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kini menghadapi tantangan besar. Mereka bersiap untuk beralih menanam jagung sebagai solusi pemenuhan kebutuhan hidup. Keputusan ini diambil setelah areal persawahan mereka tertimbun lumpur dan sistem irigasi mengalami kerusakan parah akibat bencana alam.

Pergeseran pola tanam ini merupakan respons langsung terhadap dampak banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada 27 November 2026. Bencana tersebut menyebabkan hancurnya lahan sawah dan terputusnya aliran air irigasi. Para petani berharap, dengan menanam jagung, mereka dapat tetap produktif sembari menunggu perbaikan infrastruktur pertanian.

Salah seorang petani, Sudirman (65), mengungkapkan bahwa jagung dianggap lebih mudah tumbuh karena tidak memerlukan pasokan air yang melimpah seperti padi. Langkah ini menjadi pilihan realistis untuk menjaga kelangsungan ekonomi keluarga di tengah kondisi lahan yang tidak memungkinkan untuk budidaya padi. Peralihan ini juga didukung oleh harga jagung yang sedang membaik di pasaran.

Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada akhir November 2026 meninggalkan kerusakan parah pada sektor pertanian di Palembayan, Agam. Lahan persawahan milik petani, termasuk sawah Sudirman seluas satu hektare, kini tertimbun material lumpur dan bebatuan. Kondisi ini membuat aktivitas menanam padi menjadi tidak mungkin dilakukan.

Selain tertimbun lumpur, saluran air dari irigasi juga tidak berfungsi karena banyak yang rusak. Kerusakan infrastruktur irigasi ini menjadi kendala utama bagi petani untuk kembali menanam padi, yang sangat bergantung pada pasokan air yang stabil. Akibatnya, banyak petani kehilangan mata pencarian utama mereka.

Sudirman menceritakan bahwa biasanya ia bisa memanen 75 karung padi dalam enam bulan dari sawahnya. Namun, dengan kondisi saat ini, harapan untuk bersawah telah pupus. Kerugian ini mendorong para petani untuk mencari alternatif tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan yang rusak dan minimnya air.

Dalam situasi sulit ini, jagung muncul sebagai pilihan utama bagi petani di Agam untuk menjaga kelangsungan ekonomi mereka. Tanaman jagung dikenal tidak membutuhkan aliran air sebanyak padi, sehingga lebih cocok ditanam di lahan yang irigasinya rusak. Peralihan ini menjadi strategi adaptasi yang penting bagi para petani.

Faktor lain yang mendukung keputusan beralih ke jagung adalah waktu panen yang lebih cepat dibandingkan padi. Jagung dapat dipanen dalam waktu sekitar 4,5 bulan, sementara padi membutuhkan waktu enam bulan. Selain itu, harga jagung di pasaran saat ini cukup menjanjikan, mencapai Rp5.700 per kilogram di tingkat petani.

Doni (48), seorang pedagang pengumpul jagung, membenarkan bahwa harga jagung sedang membaik dan banyak masyarakat yang mulai bertanya tentang harga tersebut. Ini mengindikasikan minat yang tinggi dari petani untuk beralih ke komoditas ini. Potensi keuntungan yang lebih cepat dan stabil menjadi daya tarik utama bagi mereka.

Para petani di Palembayan Agam sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk mendukung peralihan mereka ke tanaman jagung. Bantuan bibit jagung sangat dibutuhkan demi kelangsungan ekonomi keluarga. Dukungan ini diharapkan dapat meringankan beban petani yang terdampak bencana.

Bupati Agam, Benni Warlis, mengakui bahwa bencana alam telah menyebabkan sekitar 1.700 hektare lahan persawahan tertimbun tanah. Selain itu, 3.000 hektare lahan lainnya terdampak karena infrastruktur irigasi menuju sawah rusak. Kondisi ini menyebabkan banyak warga kehilangan mata pencarian.

Bupati Benni Warlis menegaskan bahwa sektor ekonomi yang terdampak bencana akan menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Ia juga mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah pusat melalui provinsi agar pemulihan ekonomi masyarakat dapat berjalan optimal. Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat membantu petani bangkit kembali.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi