Pengakuan Sekolah Penerima Chromebook Era Menteri Nadiem: Spek Standar, Internetnya Suka Lemot
Kejaksaan Agung sedang menyelidiki dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook tersebut yang nilai penganggarannya mencapai Rp9,9 triliun
Kejaksaan Agung sedang menyelidiki dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook senilai Rp9,9 triliun. Proyek ini diadakan tahun 2019-2023 saat Nadiem Makarim menjabat menteri pendidikan.
Total pengadaan laptop Chromebook mencapai 1,1 juta. Padahal saat dilakukan uji coba di tahun 2019 pada 1.000 unit Chromebook untuk pengembangan digitalisasi pendidikan, dinyatakan tidak efektif.
Salah satu sekolah yang mendapatkan penyaluran laptop Chromebook dari Kemendikbud adalah SLB Semarang. Sejak diterima pada Desember 2024, laptop itu masih dipakai murid setiap harinya saat kegiatan belajar.
"Bantuan laptop dari dinas provinsi diterima akhir desember 2024 sebanyak 12 unit," Kepala SLB Semarang, Sri Sugiarti, Rabu (11/6).
Menurutnya, laptop Chromebook biasa dipakai siswa-siswi tuna netra dan tuna daksa di kelas X, XI dan XII SLB Semarangdisabilitas. Bila dibanding laptop merek lainnya yang populer seperti Accer, Samsung, menurutnya Chromebook sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan siswa saat pelajaran dasar TIK.
"Chromebook dengan spek yang ada masih standar, sekali kalau untuk anak-anak cukuplah," ungkapnya.
Sejauh ini, katanya, tidak ada yang terlalu kendala dari laptop tersebut. Hanya saja, diakuinya sesekali lemot.
"Internetnya kadang nge-lag gitu. Tapi mungkin dari servernya bukan dari perangkatnya," ujarnya.
Selain menerima 12 laptop chromebook, pihaknya juga memperoleh alokasi DAK Kemenristekdikti senilai Rp370 juta.
"Jadi ada bantuan dari dinas induk yang sumbernya dari kementerian pusat. Kita langsung didroping. Dapatnya Rp370 juta, diberikannya terpisah dengan RKP," pungkasnya.
Nadiem Buka Suara, Siap Diperiksa
Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim membantah proyek pengadaan laptop Chromebook saat menjabat Menteri menyalahi kajian. Nadiem menjelaskan alasan pemilihan proyek pengadaan laptop Chromebook dianggap banyak pihak tidak cocok untuk diaplikasikan di sekolah.
Menurut Nadiem, uji coba laptop Chromebook telah dilakukan sebelum masa kepemimpinannya di Kemendikbud-Ristek. Namun hasil uji coba itu berbeda sasaran dengan proyek pengadaan laptop Chromebook dilakukannya.
Nadiem menegaskan, program pengadaan 1,1 juta laptop masa kepemimpinannya tidak ditargetkan untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) sebagaimana uji coba pejabat sebelumnya. Sasaran kebijakannya adalah hanya sekolah-sekolah yang memiliki akses internet.
"Itulah alasannya juga pengadaan ini bukan hanya laptop, tapi juga ada modem wifi 3G, dan juga proyektor dan lain-lain yang diberikan untuk bisa mengakses internet itu. Jadi, Kemendikbudristek membuat kajian yang komprehensif, tapi targetnya itu adalah bukan daerah 3T. Dan di dalam juknis sangat jelas hanya boleh diberikan kepada sekolah yang punya internet," ujar Nadiem.
Sementara untuk daerah 3T, Nadiem menyatakan bahwa program yang diterapkan adalah Awan Penggerak, yakni upaya membantu sekolah di sana mendapatkan koneksi internet.
"Dan itu adalah program di mana kita memberikan device khusus, local cloud kepada sekolah-sekolah yang tidak punya internet. Jadi beda programnya dengan pengadaan Chromebook, di mana itu untuk mayoritas sekolah yang punya koneksi internet," kata Nadiem.
Nadiem mengaku bersikukuh memakai laptop Chromebook tersebut karena dianggap harganya yang lebih murah dan secara spesifikasinya kurang lebih sama dengan laptop pada umumnya.
"Satu hal yang sangat jelas pada saat saya mencerna laporan ini adalah dari sisi harga Chromebook itu kalau speknya sama selalu 10-30% lebih murah," kata Nadiem.
"Dan bukan hanya itu saja operating systemnya Chrome OS itu gratis Sedangkan operating system lainnya itu berbayar, dan bisa berbayar sampai 1,5 sampai 2,5 juta tambahan," Nadiem menambahkan.
Dari sisi sistem operasi Chromebook juga tidak memerlukan biaya tambahan seperti sistem operasi menggunakan Windows.
Penggunaan laptop Chromebook itu juga dianggap guru-guru bisa mengkontrol agar murid-muridnya tidak menyalahgunakan seperti memakainya untuk pornografi, judi online, dan digunakan untuk gaming dan lain-lain.