Pemkot Kediri Ajak Warga Lestarikan Jembatan Lama Kediri, Cagar Budaya Bersejarah
Pemerintah Kota Kediri mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan Jembatan Lama Kediri, sebuah cagar budaya peninggalan Belanda yang kini telah memiliki hak kekayaan intelektual dan menjadi saksi bisu sejarah kota.
Pemerintah Kota Kediri mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta menjaga kelestarian Jembatan Lama Kediri, sebuah cagar budaya peninggalan era kolonial Belanda yang kaya akan nilai sejarah. Imbauan ini disampaikan oleh Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, menekankan pentingnya peran aktif warga dalam merawat warisan berharga ini. Jembatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghubung, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan waktu di Kota Kediri.
Permintaan ini muncul seiring dengan status Jembatan Lama Kediri yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 58/M/2022, 59/M/2022, 60/M/2022, 61/M/2022, dan 145/M/2022. Penetapan ini memberikan landasan hukum yang kuat untuk upaya pelestarian. Selain itu, jembatan bersejarah ini juga telah memiliki hak kekayaan intelektual, semakin mempertegas urgensi untuk melindunginya dari kerusakan atau perubahan yang tidak semestinya.
Jembatan yang berlokasi strategis di atas Sungai Brantas ini, tepatnya di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, akan merayakan hari jadinya yang ke-157 pada 18 Maret 2026. Perayaan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik akan nilai historis dan arsitekturalnya. Wali Kota berharap, dengan partisipasi aktif masyarakat, Jembatan Lama Kediri akan terus berdiri kokoh sebagai ikon kota dan sumber kebanggaan.
Sejarah dan Kedudukan Jembatan Lama Kediri
Jembatan Lama Kediri, yang juga dikenal dengan nama resmi Brug Over den Brantas te Kediri, memiliki usia yang mengesankan, yakni 157 tahun sejak pertama kali dioperasikan pada tahun 1869. Jembatan ini merupakan bagian integral dari jalur Groote Postweg, atau jalan raya utama, pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Keberadaannya menandai sebuah era penting dalam perkembangan infrastruktur di Jawa.
Secara historis, jembatan ini diakui sebagai salah satu mahakarya teknik sipil paling signifikan pada abad ke-19. Struktur bangunannya menggunakan konstruksi besi yang inovatif, ditopang oleh tiang sekrup yang kokoh tertanam di dasar Sungai Brantas. Desain dan material yang digunakan pada masa itu menunjukkan kemajuan teknologi yang luar biasa.
Menurut Imam Mubarok dari Komunitas Juru Wotan, Jembatan Lama Kediri bahkan dianggap sebagai jembatan besi pertama di Jawa, bahkan di dunia pada masanya. Insinyur Sytze Westerbaan Muurling adalah sosok di balik adikarya teknik ini, yang pada saat itu mengundang decak kagum. Keistimewaan ini menempatkan Jembatan Lama Kediri sejajar, bahkan lebih tua, dari struktur ikonik dunia seperti Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat, yang selesai dibangun pada tahun 1883.
Pengakuan akan nilai historis dan arsitekturalnya juga diperkuat dengan penetapan Jembatan Lama Kediri sebagai cagar budaya. Penetapan ini berdasarkan rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 12 Maret 2019. Keputusan ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai warisan yang harus dilindungi.
Dimensi dan Peran Budaya Jembatan Lama Kediri
Jembatan Lama Kediri membentang sepanjang sekitar 160 meter dengan lebar 5,80 meter, serta memiliki tinggi sekitar 7,50 meter dari permukaan air Sungai Brantas. Dimensi ini menunjukkan skala pembangunan yang monumental untuk zamannya. Lokasinya yang strategis di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, menjadikannya penghubung vital antar wilayah.
Selain nilai historis dan teknisnya, Jembatan Lama Kediri juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat. Wali Kota Vinanda Prameswati menegaskan bahwa jembatan ini adalah saksi perjalanan sejarah, kehidupan masyarakat, serta perkembangan budaya di Kota Kediri. Hal ini menjadikannya lebih dari sekadar infrastruktur fisik, melainkan juga simbol identitas kota.
Dalam upaya melestarikan dan mengintegrasikan warisan budaya ini, telah diluncurkan motif tenun ikat Bandar yang terinspirasi dari Jembatan Lama. Motif ini merupakan hasil karya perajin tenun ikat asal Bandar Kidul, Slamet Sugiyanto dari Palugada. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, melestarikan sejarah melalui seni kriya.
Motif tenun ikat Jembatan Lama ini tidak hanya berfungsi sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai simbol pelestarian warisan sejarah. Harapannya, motif ini akan memperkuat identitas budaya Kota Kediri dan mempromosikan kekayaan lokal. Melalui tenun ikat, cerita dan keagungan Jembatan Lama dapat terus disampaikan kepada generasi mendatang.
Sumber: AntaraNews