Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dikenal dengan sebutan sepetak tanah Eropa di Jawa. Pada zaman kolonial, daerah ini memang kawasan penting bagi pihak Belanda.
Advertisement
Surabaya punya Jembatan Merah yang dikenal memiliki sejarah panjang pada masa kolonial. Sementara Banyuwangi memiliki Jembatan Kudung Kendeng Lembu.
Mengutip Instagram @visitbanyuwangi, istilah kudung berasal dari bahasa Indonesia yang artinyapenutup kepala. Penyebutan ini muncul karena jembatan peninggalan kolonial tersebut memiliki atap.
Mengutip situs smkentaf.sch.id, jembatan ini dibangun oleh perusahaan swasta Belanda sebagai bagian dari infrastruktur untuk mendukung operasional perkebunan mereka.
Satu hal yang menonjol dari jembatan ini adalah adanya atap. Atap ini memberikan perlindungan terhadap cuaca bagi pengguna jembatan serta menambah daya tarik estetika jembatan.
Desain yang kokoh dan tangguh membuat jembatan ini tetap kokoh meski usianya lebih dari satu abad. Hingga kini, jembatan ini menjadi jalur lintas penting bagi masyarakat.
Advertisement
Jembatan ini dibangun pada tahun 1914. Berada di jalur masuk Perkebunan Kendenglembu
di Desa Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi atau sekitar 10 kilometer dari jalur nasional.
Meskipun telah berusia lebih dari satu abad, secara keseluruhan konstruksi jembatan yang terbuat dari kayu ini masih kokoh. Hingga kini, jembatan ini masih digunakan masyarakat.
Jembatan Kudung Kendeng Lembu dibangun oleh perusahaan swasta Belanda yang bernama Landbouw Maatschappij Onderneming David Bernie (NV Rubber Cultur Mij Kendenglembu).
Material yang digunakan untuk membangun jembatan didominasi kayu berdiameter besar yang terbukti kokoh hingga kini.
Jembatan dan karakter bangunan masih asli sebagaimana pertama kali dibangun. Bahkan, suasana asri di sekitar jembatan pun mirip dengan masa kolonialisme dulu. Adapun perubahan yang dijumpai adalah warna cat jembatan yang berbeda dari masa ke masa.
Advertisement
Jembatan Kudung Kendeng Lembu memiliki nilai sejarah penting karena merupakan salah satu peninggalan kolonial Belanda di Indonesia. Bangunan ini mencerminkan kejayaan dan peran perusahaan perkebunan Belanda di Banyuwangi pada masa lalu.
Advertisement