Pemilik Pesantren di Sumenep Diduga Perkosa 10 Santriwati, DPR Desak Hukuman Maksimal
Kasus ini mencuat ke permukaan setelah para orang tua korban melaporkan kejadian tersebut pada 3 Juni 2025.
Kasus kekerasan seksual kembali mencoreng dunia pendidikan agama di Indonesia. Seorang pemilik sekaligus pengurus pondok pesantren di Sumenep, Jawa Timur, Moh. Sahnan (51), ditangkap oleh Polres Sumenep pada Selasa (10/6) atas dugaan memperkosa sejumlah santriwati di bawah asuhannya.
Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, mengungkapkan bahwa kasus ini mencuat ke permukaan setelah para orang tua korban melaporkan kejadian tersebut pada 3 Juni 2025. Dari hasil penyelidikan sementara, tercatat setidaknya 10 santriwati menjadi korban dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku.
Kabar memilukan ini memicu kemarahan publik, termasuk dari kalangan legislatif. Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, menyuarakan keprihatinan sekaligus kemarahannya terhadap peristiwa tersebut.
“Polisi jangan ragu, jangan beri ruang sedikit pun pada pelaku bejat seperti ini. Hukum maksimal tanpa ampun. Sangat disayangkan para santriwati yang datang untuk belajar dan menimba ilmu justru menjadi korban pemerkosaan. Ini luka besar bagi masyarakat dan para orang tua yang menitipkan anaknya. Tindakan pelaku adalah contoh nyata pengkhianatan terhadap nilai-nilai agama,” tegas Sahroni dalam keterangan tertulis, Minggu (16/6).
Sahroni juga menyoroti pentingnya langkah preventif untuk menghindari kejadian serupa di masa depan. Ia mendesak Kementerian Agama bersama Polri serta seluruh pihak terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan di lingkungan pesantren.
“Jangan sampai pesantren dijadikan sarang dan tempat berlindung bagi pelaku kejahatan seksual. Ini juga bukan pertama kali terjadi. Sampai kapan kita mau diam? Negara harus ambil sikap. Maka saya dorong Kemenag dan kepolisian untuk kerja sama dalam memberantas kejahatan seksual di pesantren. Bisa dengan edukasi menyeluruh hingga pembentukan satgas yang melibatkan pihak pesantren,” tambahnya.
Politikus Partai NasDem itu menegaskan bahwa institusi pendidikan, termasuk pesantren, harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Ia berharap tragedi serupa tidak pernah terjadi lagi di masa mendatang.