Pembangunan Spiritualitas di Balik Rencana Pemasangan Chattra di Stupa Induk Candi Borobudur
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengapresiasi penyelenggaraan diskusi terpumpun ini dan menyebutnya sebagai langkah penguatan arah kebijakan pemerintah.
Upaya mengembalikan chattra payung suci yang melambangkan pencerahan dan kemuliaan dalam ajaran Buddha ke puncak Stupa Induk Candi Borobudur kembali mengemuka dalam Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) yang digelar di Graha Utama Kementerian Kebudayaan, Rabu (3/12).
Forum lintas kementerian dan lembaga ini menghadirkan dimensi baru, bahwa rencana pemasangan chattra bukan sekadar proyek konservasi, tetapi juga pemulihan spiritual situs suci terbesar umat Buddha di dunia.
Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, menegaskan bahwa proses menuju pemasangan chattra telah ditempuh melalui perjalanan panjang dan penuh kehati-hatian.
"Kami telah melakukan berbagai langkah sesuai aspirasi, kebutuhan, dan harapan umat. Keputusan untuk menunda pemasangan chattra merupakan bagian dari proses kehati-hatian, agar setiap tahapan dapat dipastikan tepat secara regulasi, teknis, maupun nilai-nilai keagamaan dan pelestarian cagar budaya," ujar Supriyadi, Kamis (4/12).
Koordinasi intensif
Menurutnya, koordinasi intensif terus dilakukan menyusul adanya perubahan struktur kementerian dan lembaga pemerintah yang kini terlibat dalam proses tersebut. Ia berharap, forum diskusi kali ini menjadi titik temu yang membawa pencerahan bersama.
"Melalui pertemuan dan diskusi hari ini, kami berharap lahir pemahaman bersama dan pencerahan, sehingga harapan umat Buddha dapat terwujud dengan baik, tertata, dan sesuai ketentuan," tambahnya.
Supriyadi mengibaratkan stupa induk tanpa chattra sebagai “raja tanpa mahkota.” Dalam tradisi Buddhis, chattra bukan hanya ornamen fisik, tetapi simbol luhur yang memayungi dan menyempurnakan fungsi spiritual Borobudur sebagai pusat ziarah dunia.
Respons Positif dari Menteri Kebudayaa
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengapresiasi penyelenggaraan diskusi terpumpun ini dan menyebutnya sebagai langkah penguatan arah kebijakan pemerintah.
Ia menegaskan bahwa perhatian negara terhadap pemasangan chattra semakin besar, terlebih setelah Presiden Prabowo Subianto menyinggung perkembangan rencana tersebut saat mendampingi kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Candi Borobudur pada Mei 2025.
"Kami sangat mendengarkan aspirasi umat Buddha melalui Ditjen Bimas Buddha yang secara pemerintahan mewakili umat Buddha di Indonesia. Ini menjadi perhatian utama,” ujar Fadli.
Fadli yang baru-baru ini meninjau langsung material chattra di kompleks Borobudur mengungkapkan bahwa sebagian besar batu penyusunnya masih tersisa.
"Kami mencoba melakukan rekonstruksi kembali dan ternyata sebagian besar batu yang diperlukan masih ada. Beberapa chattra juga pernah dipasang kembali pada era 1940-an oleh para ahli saat itu. Jadi, jika langkah rekonstruksi ini memang membawa kebaikan, mengapa tidak dilaksanakan?" katanya.
Ia menegaskan bahwa rencana pemasangan chattra harus mengacu pada pakem yang jelas, termasuk otoritas yang berwenang menetapkannya. Selain itu, pendekatan multidisipliner dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara konservasi dan fungsi agama.
"Jika material asli tidak cukup, bisa dibuat batu baru yang menyerupai aslinya. Pendekatan seperti ini sudah dilakukan sejak masa kolonial, bahkan setelah kemerdekaan,” ujar Fadli Zon
Diskusi terpumpun ini diikuti oleh jajaran Kementerian Menteri Kebudayaan, perwakilan dari Kemenko Bidang Perekonomian, Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Badan Riset dan Inovasi Nasional, lembaga terkait, juga elemen umat Buddha yakni utusan WALUBI, perwakilan PERMABUDHI, perwakilan Sangha Agung Indonesia, serta perwakilan Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Bupati Magelang yang tergabung dalam forum secara daring.