57 Bhikkhu Thudong Lintas Negara Tiba di Solo, Bertemu KGPAA Mangkunegara X
Para bhikkhu itu tengah menjalani perjalanan suci Thudong sejauh 666 kilometer dari Bali menuju Candi Borobudur.
Sebanyak 57 biksu lintas negara atau Bhikkhu Sangha dari Thailand, Malaysia, Laos, Singapura, dan Indonesia tiba di Pura Mangkunegaran, Solo, Sabtu (23/5) petang. Kedatangan para bhikkhu yang tengah menjalani perjalanan suci Thudong sejauh 666 kilometer dari Bali menuju Candi Borobudur itu disambut langsung oleh KGPAA Mangkunegara X.
Gusti Bhre, sapaan akrab KGPAA Mangkunegara X, menerima para bhikkhu di Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran. Para peserta Thudong tersebut menempuh perjalanan spiritual lintas kota dan negara dengan berjalan kaki sebagai bagian dari praktik dalam ajaran Buddha.
Tradisi Thudong dikenal sebagai latihan spiritual yang menekankan kesederhanaan, disiplin, ketekunan, serta pengendalian diri.
Thudong Jadi Simbol Perjalanan Batin
Perjalanan Thudong tidak sekadar dimaknai sebagai perjalanan fisik. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi simbol perjalanan batin yang membawa pesan damai, welas asih, kerendahan hati, dan nilai kemanusiaan kepada masyarakat di setiap daerah yang dilalui.
Dalam sambutannya, KGPAA Mangkunegara X menyampaikan penghormatan mendalam kepada para bhikkhu atas keteguhan dan ketekunan mereka dalam menjalani perjalanan spiritual menuju Borobudur.
“Langkah-langkah Yang Mulia melintasi negara, kota, dan komunitas membawa sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia saat ini, kedamaian, welas asih, kerendahan hati, dan kemanusiaan,” kata Gusti Bhre.
Harmoni dan Toleransi Jadi Pesan Utama
Gusti Bhre juga menekankan pentingnya menjaga harmoni, toleransi, dan persatuan di tengah dunia modern yang bergerak semakin cepat, namun kerap diwarnai perpecahan dan intoleransi.
Menurut dia, budaya dan tradisi semestinya menjadi ruang yang mendekatkan manusia satu sama lain, sekaligus memperkuat rasa pengertian dan empati antarsesama.
“Kami percaya budaya seharusnya tidak memisahkan manusia, melainkan mendekatkan satu sama lain. Tradisi tidak seharusnya menciptakan jarak, tetapi memperdalam pengertian dan empati antarmanusia,” katanya.
Kehadiran para bhikkhu dari berbagai negara Asia Tenggara di Kota Solo juga dinilai mencerminkan semangat kawasan yang dibangun di atas penghormatan, hidup berdampingan, dan kebijaksanaan budaya yang diwariskan lintas generasi.
Kesederhanaan Jadi Fondasi Perdamaian
Dalam kesempatan itu, KGPAA Mangkunegara X menyebut kesederhanaan, disiplin, dan ketulusan yang ditunjukkan melalui perjalanan Thudong menjadi pengingat bahwa perdamaian dibangun melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Kebaikan, rasa hormat, kesabaran, welas asih terhadap sesama, dan menciptakan harmoni merupakan nilai-nilai sederhana yang menjadi fondasi bagi terciptanya perdamaian,” ungkapnya.
Ia pun menutup sambutannya dengan doa bagi keselamatan dan kedamaian para bhikkhu dalam melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur. Selain itu, ia berharap Hari Raya Waisak tahun ini menjadi momentum refleksi, perdamaian, dan pencerahan bagi masyarakat luas.
“Semoga setiap langkah Yang Mulia membawa berkah kedamaian bagi setiap tempat yang dilalui,” pungkasnya.
Perjalanan Menuju Borobudur untuk Waisak
Perwakilan Bhikkhu Thudong asal Indonesia, Bhante Tejapunno Mahathera, menjelaskan bahwa para bhikkhu yang mengikuti Thudong tahun ini berasal dari sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Thailand, Laos, dan Indonesia, dengan total peserta mencapai 57 orang.
Mereka melakukan perjalanan dari Singaraja menuju Candi Agung Borobudur dalam rangka memperingati Hari Trisuci Waisak pada 31 Mei 2026.
“Kami sampaikan banyak terima kasih untuk sambutannya. Terima kasih untuk semua sarana fasilitas yang diberikan dari semenjak kami memasuki area Keraton dan juga tentunya harapan kami semua para biksu yang hadir juga membawa manfaat bagi semuanya,” kata dia.