Pekerja PT Toba Pulp Lestari Serang Masyarakat Adat di Simalungun, Puluhan Orang Terluka
Bentrokan ini dipicu adanya aktivitas di lahan yang saling klaim. Perusahaan beralasan pekerjanya diadang masyarakat.
Puluhan warga yang merupakan masyarakat adat Lamtoras Sihaporas di Buntu Panaturan, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, menjadi korban penyerangan yang dilakukan oleh pekerja PT Toba Pulp Lestari (TPL), Senin (22/9) kemarin.
Konflik lahan antara perusahaan dengan masyarakat adat ini sudah berlangsung lama. Bentrokan ini dipicu adanya aktivitas di lahan yang saling klaim. Perusahaan beralasan pekerjanya diadang, sementara masyarakat adat menolak adanya aktivitas dari perusahaan seperti menanam.
Biro advokasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tano Batak, Doni Munthe, mengatakan 33 orang warga terluka. Kemudian, posko dan beberapa rumah juga turut dirusak oleh pekerja PT TPL yang memakai senjata kayu dan tameng.
"Awalnya, ratusan orang (pekerja TPL) itu mendatangi posko wilayah adat dengan membawa potongan kayu, tameng, dan mengenakan helm. Warga adat yang ada di lokasi mencoba mengadang lalu meminta diskusi, namun upaya itu ditolak," kata Doni, Selasa (23/9).
Kemudian, aksi saling dorong pun terjadi hingga berujung pemukulan menggunakan kayu dan lemparan batu yang menyebabkan puluhan warga mengalami luka-luka. Doni mengungkapkan ada sekitar 150 pekerja yang terdiri dari sekuriti, buruh harian lepas (BHL) dan sejumlah orang yang diduga preman bayaran yang datang di wilayah adat Sihaporas.
"Beberapa saat kemudian, jumlah pekerja PT TPL yang datang bertambah hingga sekitar 1.000 orang,” ungkap Doni.
Penyerangan itu menyebabkan sejumlah fasilitas milik masyarakat adat dirusak dan dibakar, yaitu posko, gubuk pertanian, rumah, dan sepeda motor.
"Alat pribadi warga seperti ponsel, laptop, mobil, dan mesin pencacah rumput juga dirusak serta dibakar," ujar Doni.
Atas insiden ini sedikitnya 33 orang terluka, 5 di antaranya perempuan yang mengalami luka di bagian kepala, mulut, dan tubuhnya. Lalu, seorang anak dengan disabilitas turut menjadi korban pemukulan yang menyebabkan luka di bagian kepalanya.
Sementara itu, juru bicara PT TPL, Salomo Sitohang, berdalih insiden itu berawal ketika pekerja perusahaannya sedang dalam perjalanan menuju lokasi pemanenan dan penanaman eukaliptus diadang oleh masyarakat, Senin (22/9) sekitar pukul 08.00 WIB.
“Kemudian, sekelompok orang mengadang dan melakukan pelemparan batu yang mengakibatkan enam orang mengalami luka-luka,” kata Salomo.
Salomo menjelaskan para korban luka bernama Rocky Tarihoran selaku karyawan Humas, tiga orang petugas keamanan yakni Saut Ronal, Edy Rahman, dan Markus, serta seorang anggota mitra bernama Nurmaini Situmeang. PT TPL juga telah melaporkan peristiwa ini ke kepolisian.
“Dua unit kendaraan operasional perusahaan turut mengalami kerusakan dan terbakar, yaitu mobil patroli security Aek Nauli dan truck fire safety. Seluruh korban luka telah dibawa ke RSUD Parapat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut,” ucapnya.