Oknum Dokter Spesialis Bedah Anak di RSUD Abdul Moeloek Diduga Minta Uang ke Keluarga Pasien
Sang dokter yang menangani anaknya memberi dua opsi terkait tindakan operasi yang akan dilakukan.
Seorang dokter spesialis bedah anak di RS Umum Daerah Abdul Moeloek Provinsi Lampung diduga meminta sejumlah uang kepada keluarga pasien untuk membeli alat medis.
Diketahui dokter tersebut berinisial BS dengan pasien atas nama Alesha Erina Putri berusia 2 bulan, anak dari pasangan Sandi Saputra (27) dan Nisa Usofie (23) warga Kelurahan Way Urang Kecamatan Kalianda Lampung.
Sandi mengatakan bahwa tanggal 19 Juli dilakukan rontgen dengan diagnosanya hispro. Pada tanggal 18 Agustus 2025, adik Alesha menjalani rawat inap.
"Operasi ditanggal 19 Agustus 2025 dari jam 10.00 pagi sampai 14.00 selesai. Terus dari jam 14.00 - 18.00 WIB anak saya itu nangis terus, intinya menurut saya itu telat penanganan," katanya saat dikonfirmasi.
Lalu pada pukul 18.00 -20.00 WIB, Sandi merasa sang anak mulai istirahat dan tertidur. Namun dia merasa ada yang mengganjal, sebab sang ada tidak pergerakan sakalipum usai menangis.
"Saya tunggu sampai jam 20.00, tapi kok gak ngulet, biasanya kan anak itu ngulet. Dan saya liat mukanya ada ciri-ciri mulai biru dan tangannya sudah mulai dingin. Saya konfirmasi ke perawatnya, 'suster tolong dong anak saya kayaknya sesak napas' katanya susternya 'bentar ya mas saya lagi nanganin pasien lain lagi buat resep obat'. Jujur sakit hati saya lebih mengutamakan resep obat dari pada anak saya yang sesak nafas," jelasnya.
Meski kesal, dia pun menunggu 30 menit hingga pukul 20.20 WIB. Dia pun langsung merekam kondisi sang anak dan memberi tahu perawat yang tengah bertugas.
"Waktu itu anak saya sudah biru 50 persen saking ga kuatnya saya videoin muka anak saya itu dan saya tunjukin kan baru mereka bergerak," ucapnya.
Dokter Beri Dua Opsi
Sebelum dilakukan tindakan, Sandi menyebutkan sang dokter yang menangani anaknya memberi dua opsi terkait tindakan operasi yang akan dilakukan.
"Jadinya dokternya memberikan ada dua opsi, yang pertama itu ada dua kali tindakan operasi pemindahan saluran pencernaan dibagian perut nanti akan dikasih kantong stoma, dan setelah 6 bulan masa pemulihan dikembalikan lagi," ungkapnya.
Sementara itu, untuk opsi dilakukan tindakan sekali operasi namun diharuskan membeli sebuah alat yang berdasarkan keterangan dokter alat tersebut tidak di cover oleh BPJS Kesehatan.
"Dan opsi kedua kita harus membeli alat dan dia bilang alatnya tidak di cover BPJS dia hanya menyarankan dua opsi. Saya kemarin baca katanya dokter ini merekomendasikan opsi pertama tapi dia menawarkan dua opsi," tuturnya.
Sandi mengungkapkan jika sang dokter pun tidak menjelaskan secara spesifik sistem kerja alat yang dimaksud. Dia pun tak diberitahu gambaran dan foto alat yang harus dibeli.
"Dia bilang alatnya tidak ada di RS nanti kita carikan, nanti kirim saja melalui rekening saya, di situ saya merasa ada yang mengganjal, tapi ya namanya orang tua apapun itu akan saya lakukan yang terbaik untuk anak. Dia mintanya Rp8 juta," ungkapnya.
Konfirmasi Rumah Sakit
Sandi pun menyesali apa yang dilakukan baik dari sang dokter hingga pelayanan Rumah Sakit yang kesannya meremehkan dan acuh kepada pasien.
"Harapannya ya jangan sampai ada korban, keteledoran perawat atau dokter cukup anak saya dan harus dievaluasi lagi," tandasnya.
Saat dikonfirmasi Direktur Utama RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) dr. Imam Ghozali mengucapkan turut berduka cita atas apa yang menimpa salah satu keluarga pasiennya tersebut.
"Ya pertama saya mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya ananda, perlu diketahui juga bahwa sebenarnya penyebabnya bukan karena bayaran yang Rp8 juta itu, ananda itu ada multikolinelitar kelainannya kolinetarnya bukan hanya hispo tetapi ada kelainan jantung dan itu yang memperburuk kondisi," katanya.
Disinggung terkait permintaan uang yang dilakukan oleh Dokter Spesialis Bedah Anak yang bertugas di RSUD Abdul Moeloek, dr. Imam menyebutkan jika tindakan tersebut dilakukan oleh oknum.
"Untuk permintaan uang di luar sebagai uang tambahan itu dilakukan tindakan oknum dan turut prihatin dan kami melakukan kajian dan kita tidak akan menolelir, dan akan tidak tegas demi layanan dan perbaikan, karena kami sudah sepakat akan berubah dan oknum seperti ini akan kita lakukan tindakan tegas," tandasnya.