Nestapa Sang Pahlawan Devisa, Jauh-Jauh Cari Kerja hingga Kamboja Pulang Malah Tinggal Nama
Mayoritas mereka nekat menjadi TKI di Kamboja hanya demi memperbaiki perekonomian keluarga.
Mimpi Ikhwan Sahab (27) sederhana. Dia ingin memperbaiki perekonomian keluarganya. Meski harus menempuh perjalanan jauh hingga menyeberang negara. Baginya tak mengapa, asal orang tuanya bisa hidup bahagia.
Tetapi, harapan Ikwan nyatanya tak seindah kenyataan. Setelah tiba di Kamboja, mendadak keluarga kehilangan kabarnya.
Sampai tiba-tiba, ponsel berdering. Di bagian layar muncul nama Ikhwan memanggil. Keluarga mengira, Ikhwan lah yang ada di ujung telepon. Nyatanya, yang terdengar suara orang asing. Orang asing itu yang diduga bos Ikhwan meminta uang tebusan puluhan juta.
"Ada yang telepon pakai nomor dia (Ikhwan), itu kayak bosnya gitu, dia minta uang tebusan sekitar Rp60 juta, itu untuk biaya pemulangan kata bosnya, saya curiga, saya bilang ke mama saya jangan ditransfer, apalagi transfernya ke rekening kakak saya, enggak ditransfer lah sama orang tua saya," kata perwakilan keluarga Ikhwan, Subyantoro (23).
Telepon yang dikira akan menjadi jawaban kerinduan mereka, malah berujung kecemasan. Rasa risau keluarga bercampur aduk. Pikiran negatif mulai menghantui isi kepala Subyantoro dan keluarga. Mereka mulai bertanya-tanya nasib Ikhwan di sana.
Setelah itu tidak ada lagi kabar tentang Ikhwan. Sebulan kemudian, keluarga hanya mendapat Ikhwan sudah pindah kerja. Tak hanya itu, keluarga juga mendapat kabar kalau Ikhwan menjadi korban penjualan orang.
"Kakak saya pindah tempat, ya mungkin dijual atau dikemanain gitu, itu selama awal tahun bulan Januari sudah enggak bener, sudah enggak beres, pokoknya dia jarang video call, cuma telepon-telepon doang, video call jarang, terakhir itu posisinya dia ada di Buffet di Venus, terakhir video call, terakhir telepon," ucap adik korban.
Menurut dia, kakaknya itu mendapat diiming-iming bekerja di perusahaan besar dengan gaji sekitar Rp30 juta sampai Rp40 juta. Tetapi, ekspetasi Ikhwan hancur lebur. Tempat kerja yang diharapkannya ternyata hanya sebuah perusahaan gelap. Dia dipekerjakan sebagai pegawai jaringan penipuan lintas negara.
"Tapi tahu-tahunya masuk perusahaan scam, scam itu perusahaan penipuan, market dia orang Indonesia, itu kayak penipuan-penipuanlah, kayak nipu-nipu orang lewat telepon, lewat link gitu," katanya.
Disiksa Bos Asal Indonesia
Selama bekerja, tidak jarang pemuda asal Bekasi itu mendapatkan prilaku buruk bahkan disiksa secara sadis. Subyantoro sempat mendesak kakaknya agar kembali ke Tanah Air.
Kepada adiknya, Ikhwan menyebut orang yang menyiksanya selama ini adalah bosnya. Usut punya usut, bosnya itu rupanya berasal dari Indonesia.
"Siapa (yang menyiksa)? (Disiksa ) sama bosnya, bosnya dia ngejelasib orang Indonesia, saya nanya, bosnya orang Indonesia? 'Iya, orang Indonesia, orang Manado', dia bilang," katanya.
"Biasanya dipanggil satu perusahaan itu Bos Alam, nah terus saya tanya lagi, itu ada berapa orang yang ngeroyok? Dia bilang sekitar 15 orang," tambah Subyantoro.
Tanpa diduga, keluarga bak disambar petir. Mereka tiba-tiba mendapat akbar Ikhwan sudah meninggal dunia.
Keluarga curiga kematian Ikhwan karena penyiksaan. Apalagi, pihak rumah sakit mengabarkan pada tubuh almarhum terdapat sejumlah luka.
"Banyak (luka), kayak muka di mata itu lebam, terus di tangan banyak luka, di kaki, di badan, dan di bagian belakang di bokong itu kayak luka kebakar, lalu luka melepuh juga, terus di bagian kepala dia pendarahan otak," kata Subyantoro
Rizal Dipekerjakan di Perusahaan Judi Online
Bukan cuman Ikhwan saja yang menjadi korban TPPO di Kamboja dan berakhir tragis meninggal dunia. Rizal Sampurna (28) pemuda asal Banyuwangi yang juga berniat ingin memperbaiki ekonomi keluarga dengan bekerja di luar negeri mengalami nasib yang sama.
Pemuda polos ini terjebak sindikat perdagangan orang. Ia terperangkap dan dipekerjakan di sindikat judi online yang bermarkas di Phnom Phen, Kamboja dengan sasaran orang Indonesia.
Sulastri, ibu korban bersyukur karena akhirnya bisa bertemu dengan anaknya meski dalam kondisi yang sudah tak bernyawa dan disimpan dalam peti mati. Ia hanya bisa pasrah menerima kenyataan, putra kebanggaannya yang hendak berjuang mengubah nasib ekonomi keluarga, kini justru pulang dalam keadaan tak bernyawa.
Sulastri pertama kali mendengar kabar kematian sang putra pada 17 Maret 2025. Informasi resmi dari kepolisian Kamboja, pria yang bekerja sebagai admin di perusahaan judi online yang dilegalkan di Kamboja itu, meninggal karena sakit jantung. Namun, diduga karena berangkat dari jalur yang non prosedural, pemulangan Rizal harus melalui jalan berliku. Korban langsung dimakamkan ke pemakaman umum di dekat rumahnya.
"Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Saya sampaikan terima kasih sedalam-dalamnya," pungkas Sulastri.