MUI Sarankan Indonesia Keluar dari BoP jika Dinilai Tidak Efektif
Wakil Ketua Umum MUI Muhammad Cholil Nafis meminta Indonesia mempertimbangkan keluar dari Board of Peace karena dinilai tidak efektif meredakan konflik.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhammad Cholil Nafis meminta pemerintah mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace (BoP).
Menurutnya, keberadaan Indonesia di dalam forum tersebut perlu dievaluasi apabila dinilai tidak memberikan dampak nyata terhadap upaya perdamaian.
"Saya kira soal BoP juga sama, kita minta ini tidak efektif ya keluar saja. Kemudian bagaimana bisa berperan Indonesia itu untuk masing-masing menghargai terhadap kedaulatannya masing-masing," kata Cholil Nafis kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Ia menilai konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah dapat menimbulkan kerugian bagi berbagai pihak, terutama masyarakat sipil yang terdampak langsung oleh perang.
"Jangan sampai perang ini menimbulkan pada rakyat sipil. Kemudian kita berharap juga ini bisa menciptakan perdamaian dengan memaksimalkan peran PBB dan oleh karena itu karena semua akan rugi kalau ini perang terus berlangsung," ujarnya.
Dorong Peran Aktif Indonesia dalam Diplomasi
Cholil menegaskan bahwa keberadaan Indonesia dalam Board of Peace dinilai tidak akan efektif apabila forum tersebut tidak menunjukkan komitmen kuat dalam menciptakan perdamaian.
"Kalau kita nanti lihat seperti apa pak presiden. Jadi kalau kita kan melihatnya tidak efektif di BoP itu," tegasnya.
"Karena ternyata penggagasnya juga tidak memberikan semacam gambaran baik track record maupun sekarang yang memihak pada perdamaian," sambungnya.
Ia juga menyatakan bahwa keputusan negara lain untuk tetap berada dalam forum tersebut merupakan kebijakan masing-masing pemerintah.
"Ya kalau mereka kan urusan mereka di BoP, ang kita pikirkan sekarang bagaimana bisa menghentikan perang. Karena mungkin Iran enggak mau berhenti sebelum membalas, sementara Amerika dan juga Israel juga akan ada perlawanan," ungkapnya.
Dirinya menilai Indonesia dapat memainkan peran yang lebih aktif melalui pendekatan diplomasi internasional dengan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif.
"Bagaimana bisa berperan aktif, ya bebas aktif Indonesia bisa mendorong perlawanan, memaksimalkann peran PBB, memaksimalkan peran," pungkasnya.