Misteri Penampakan Tiga Harimau Sumatera Kampar: BBKSDA Riau Turun Tangan Selidiki Laporan Warga
BBKSDA Riau menindaklanjuti laporan warga yang mengaku melihat tiga ekor Harimau Sumatera Kampar di kebun sawit. Tim gabungan diterjunkan untuk verifikasi dan edukasi, memicu rasa penasaran publik.
Pekanbaru, Riau – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau segera merespons laporan masyarakat terkait dugaan penampakan tiga ekor Harimau Sumatera di wilayah Kampar. Tim gabungan telah diterjunkan ke Desa Penghidupan, Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Kabupaten Kampar, untuk melakukan verifikasi langsung di lokasi kejadian.
Laporan ini datang dari warga yang mengaku berjumpa dengan satwa dilindungi tersebut di area kebun sawit, tepatnya di lahan milik mitra PT Flora Wahana Tirta. Kejadian yang dilaporkan terjadi pada akhir September 2024 ini menimbulkan kekhawatiran sekaligus menjadi perhatian serius pihak berwenang.
Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menegaskan bahwa penugasan tim gabungan ini bertujuan untuk memastikan kebenaran informasi serta mengambil langkah-langkah antisipatif. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen BBKSDA dalam menjaga keseimbangan antara konservasi satwa liar dan keamanan masyarakat.
Penelusuran Laporan Penampakan Harimau Sumatera Kampar
Menindaklanjuti laporan yang masuk, tim gabungan yang terdiri dari perwakilan BBKSDA, kepolisian, dan pemerintah desa segera bergerak menuju lokasi. Setibanya di Desa Penghidupan, tim melakukan identifikasi awal dan mewawancarai tiga pelapor utama.
Hendri Gule, Rito Widodo, dan Andri Miko adalah warga yang mengaku melihat tiga ekor Harimau Sumatera pada sekitar pukul 18.00 WIB. Menurut kesaksian mereka, satu harimau berukuran dewasa terlihat bersama dua anakan. Namun, karena panik dan takut, warga tidak sempat mengambil foto atau dokumentasi lain sebagai bukti.
Supartono menjelaskan, setelah dilakukan pengukuran, lokasi penampakan harimau ini diketahui berjarak sekitar 45 kilometer dari kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Area tersebut memang dikenal sebagai habitat alami bagi Harimau Sumatera, sehingga kemungkinan kemunculannya tetap perlu diwaspadai.
Meskipun demikian, hasil pemeriksaan menyeluruh yang dilakukan oleh tim gabungan di lokasi tidak menemukan tanda-tanda fisik keberadaan harimau. “Tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan harimau, seperti jejak kaki, cakaran, atau kotoran,” ujar Supartono.
Tindakan Antisipasi dan Edukasi untuk Warga Kampar
Walaupun tidak ditemukan bukti fisik langsung, BBKSDA Riau bersama tim gabungan tetap meningkatkan pengawasan di area tersebut. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi konflik antara manusia dan Harimau Sumatera, serta menjaga keselamatan warga.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, tim BBKSDA juga memberikan sosialisasi dan imbauan penting kepada masyarakat setempat. Warga diminta untuk selalu waspada dan menghindari beraktivitas sendirian di kebun, terutama pada jam-jam rawan.
Imbauan tersebut secara spesifik menyarankan warga untuk tidak beraktivitas setelah pukul 17.00 WIB dan sebelum pukul 07.00 WIB. Periode waktu ini dianggap sebagai jam aktif bagi satwa liar, termasuk Harimau Sumatera, untuk mencari makan atau bergerak di habitatnya.
Selain kepada warga, pihak PT Flora Wahana Tirta juga diberikan imbauan khusus. “Pihak PT Flora Wahana Tirta juga diimbau untuk memasang papan peringatan di area yang dilaporkan sebagai lokasi kemunculan harimau,” kata Supartono. Pemasangan papan peringatan ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan para pekerja dan pengunjung di sekitar kebun sawit.
Sumber: AntaraNews