Menteri Hanif Ungkap Perubahan DAS Bali, Hutan Tersisa Hanya 1.500 Hektare
Perubahan tersebut, menurutnya, telah memberikan dampak serius terhadap ketahanan lingkungan di wilayah tersebut.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurrofiq, mengungkapkan bahwa kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Bali telah mengalami transformasi besar sejak satu dekade terakhir. Perubahan tersebut, menurutnya, telah memberikan dampak serius terhadap ketahanan lingkungan di wilayah tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Hanif dalam rapat penanganan banjir bersama Gubernur Bali, Wayan Koster, di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Sabtu malam (13/9).
"Sebenarnya ini lanskap (DAS) sudah berlangsung lama, mungkin di zaman Pak Gubernur (Koster) atau Pak Gubernur sebelumnya. Tapi kondisi Bali memang lanskapnya berubah sedikit yah. Tapi ini Bali, kalau yang lain berubah sampai ratusan hektare, ribuan, tidak terlalu ngaruh, tetapi Bali ini sangat berbeda," kata Hanif.
Hanif memaparkan, Pulau Bali memiliki sejumlah DAS utama, termasuk Tukad Ayung dan empat sub-DAS lainnya: Tukad Mati, Tukad Badung, Tukad Singapadu, serta satu DAS tambahan yang hulunya bermuara di Tukad Ayung.
Total luas kawasan DAS yang dimaksud mencapai sekitar 49.500 hektare. Namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar 1.500 hektare atau 3 persen yang masih memiliki tutupan hutan yang memadai.
"Jumlah totalnya 49.500 hektare. Kemudian dari 49.500 hektare itu yang ada pohonnya hanya sekitar 1.500 hektare atau boleh dikatakan hanya 3 persen," jelasnya.
Ia menekankan bahwa secara ekologis, setidaknya dibutuhkan tutupan pohon sebesar 30 persen agar DAS dapat mempertahankan fungsi ekologisnya secara optimal. Minimnya tutupan hutan ini menjadi penyebab utama berkurangnya daya dukung lingkungan, khususnya dalam menghadapi curah hujan ekstrem.
"Nah, ini DAS Ayung ini salah satu DAS yang penting. Karena di bawahnya ada Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan jadi itu cukup serius," lanjutnya.
Komitmen Pemerintah Bali dan Ancaman Bencana Hidrometeorologi
Menanggapi situasi tersebut, Gubernur Bali bersama para bupati dan wali kota se-Provinsi Bali sepakat untuk mengambil langkah serius dalam mengembalikan fungsi ekologis DAS. Salah satu fokus utama adalah memperkuat daya tahan wilayah terhadap bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim global.
"Hidrometeorologi ini mestinya tidak hanya hari ini saja... Bali harus siap. Kenapa Bali ribut sih? Ya memang iya, karena semua mata ini selalu menuju ke Bali. Sampah sedikit ribut, apalagi ini bencana yang menelan korban jiwa," ucap Hanif.
Menurutnya, selain fokus pada penanganan pasca bencana, pemerintah daerah juga akan meningkatkan pengawasan terhadap perubahan fungsi lahan yang tidak sesuai peruntukan.
"Kita semua akan melakukan pengawasan ketat, termasuk upaya dari kita semua untuk menghindari sejauh mungkin konversi-konversi lahan yang tidak diperlukan."
Hujan Ekstrem dan Kritisnya Kondisi Serapan Air
Dalam kesempatan itu, Hanif menyoroti curah hujan ekstrem yang terjadi pada 9 September lalu, yang mencapai hampir 245,75 mm dalam satu hari, atau setara dengan 245 liter per meter persegi tanah.
"Ini alam sudah mengkalibrasi dengan hujan yang ekstrim jadi kalau total general untuk DAS Ayung tadi, yang 49.500 itu ada 121 juta meter kubik yang turun di DAS itu," katanya.
Sayangnya, banyak sistem drainase dan saluran air di kawasan tersebut sudah tidak mampu menampung debit air karena sedimentasi dan tumpukan sampah, sebagaimana disampaikan oleh Wali Kota Denpasar.
"Upaya serius Bapak Gubernur Bali untuk membangun penyelesaian sampah di hilir atau di sumbernya sepertinya wajib, tidak boleh lagi ditunda," tegasnya.
Alih Fungsi Lahan: Ancaman Serius di Bali
Hanif mengonfirmasi bahwa salah satu penyebab utama berkurangnya tutupan hutan adalah konversi lahan dari kawasan hutan menjadi non-hutan, seperti untuk permukiman, pertanian, hingga pembangunan vila dan penginapan wisata. Proses ini telah berlangsung sejak tahun 2015.
"Itu sudah berlangsung lama yah, itu terjadi konversi lahan dari hutan menjadi non hutan itu seluas 459 hectare," ujarnya.
Ia menyebut, meskipun angka tersebut terlihat kecil secara nasional, namun di Bali dengan sisa hutan hanya 1.500 hectare dampaknya sangat signifikan.
"Awalnya hampir 2.000 (hektar) tetapi berkurang 400 (hektar) hingga saat ini tinggal 1.500 (hektar ). Itu cukup sangat serius," kata dia.
Pemerintah Bali pun diminta segera mengambil langkah reforestasi dan revegetasi untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem DAS, sekaligus meninjau ulang kondisi sedimentasi di sepanjang aliran sungai dan irigasi.
"Tetapi secara teknisi sipil, bapak gubernur tadi sudah memerintahkan kepada PU untuk meninjau kembali sedimentasi. Kemudian daerah ini sepanjang sungai, irigasi ini menjadi penting karena korban kemarin salah satunya karena itu," jelas Hanif.
Korban Banjir Bali: 17 Tewas, 5 Masih Dicari
Bencana banjir besar yang melanda Bali sejak 10 September 2025 menyebabkan kerusakan parah dan menelan korban jiwa. Hingga Sabtu (13/9), 17 orang dinyatakan meninggal dunia, dan 5 lainnya masih dalam pencarian.
Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suryawan, merinci bahwa korban terbanyak berasal dari Kota Denpasar (11 orang), disusul Gianyar (3 orang), Jembrana (2 orang), dan Badung (1 orang).
"Dalam pencarian 5 orang. (Diantaranya) di Kota Denpasar 2 (orang), di Kabupaten Badung 3 (orang). Ini update kami sampai pukul 06.00 WITA," ujar Suryawan dalam keterangan tertulis.