Mempertahankan Kearifan Lokal, Masyarakat Badui Jaga Tradisi Leluhur di Lebak
Tetua adat Badui menegaskan komitmen masyarakat dalam menjaga kearifan lokal sebagai titipan leluhur. Ketahui lebih lanjut tentang kehidupan sederhana dan tradisi unik Masyarakat Badui.
Jaro Oom, tetua adat sekaligus Kepala Desa Kanekes di Lebak, Banten, menyatakan bahwa masyarakat Badui teguh mempertahankan budaya kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur mereka. Pelestarian nilai-nilai luhur ini menjadi prinsip utama dalam kehidupan sehari-hari komunitas adat tersebut. Pernyataan ini disampaikan saat menerima kunjungan wartawan dalam kegiatan Kemah Budaya Wartawan.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang diselenggarakan di Lebak, Banten. Para wartawan berkesempatan untuk bersilaturahmi dan mengenal lebih dekat tatanan sosial serta budaya Masyarakat Badui. Inisiatif ini diapresiasi sebagai upaya mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada khalayak luas.
Permukiman Badui, yang terletak di pedalaman Kabupaten Lebak, mencakup area seluas 5.190 hektare, terdiri dari hutan lindung dan kawasan permukiman. Dengan populasi sekitar 16 ribu jiwa yang tersebar di 68 kampung, termasuk tiga kampung Badui Dalam, masyarakat ini hidup dalam kesederhanaan yang penuh kedamaian. Mereka dikenal karena toleransi serta sikap saling menghargai dan menghormati antar sesama.
Pelestarian Budaya dan Kehidupan Sederhana Masyarakat Badui
Masyarakat Badui secara konsisten menjaga kearifan lokal sebagai warisan tak benda dari para leluhur yang wajib dilestarikan. Kehidupan mereka dicirikan oleh kesederhanaan, dengan rumah-rumah panggung terbuat dari bambu dan beratap alami. Pola hidup ini mencerminkan filosofi mereka yang selaras dengan alam dan jauh dari modernisasi.
Nilai-nilai kedamaian dan toleransi sangat dijunjung tinggi dalam interaksi sosial sehari-hari. Mereka memiliki tata krama yang kuat, termasuk dalam menyambut pengunjung. Oleh karena itu, setiap pengunjung yang datang harus mematuhi aturan adat setempat demi menjaga kesucian dan ketertiban wilayah.
Penting untuk diketahui bahwa tidak semua area di kawasan Badui dapat diakses oleh umum. Beberapa lokasi, seperti rumah pemangku adat, memiliki batasan akses yang ketat. Hal ini menunjukkan komitmen kuat mereka dalam menjaga privasi dan tradisi sakral komunitas.
Kemandirian Ekonomi dan Ketahanan Pangan Badui
Mata pencarian utama Masyarakat Badui adalah bercocok tanam ladang, sementara para perempuan aktif sebagai perajin menenun dan membuat aksesori. Kegiatan ekonomi ini tidak hanya memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menjadi bagian integral dari pelestarian budaya mereka. Berbagai kerajinan tangan seperti kain tenun, tas koja, souvenir, lomar, dan baju kampret banyak dijual oleh pelaku usaha setempat.
Komunitas Badui dikenal memiliki ketahanan pangan yang sangat baik dan belum pernah mengalami kelaparan. Mereka memiliki sistem cadangan pangan yang kuat dari hasil panen padi gogo. Padi gogo yang telah dipanen disimpan dalam 'leuit' atau rumah pangan khusus.
Setiap 'leuit' mampu menampung lima hingga sepuluh ton gabah, memastikan ketersediaan pangan yang melimpah. Bahkan, terdapat cadangan padi yang dapat bertahan hingga 500 tahun dengan kondisi berwarna hitam, menunjukkan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya. Jaro Oom menegaskan bahwa stok pangan mereka selalu melimpah, sehingga warga tidak pernah mengalami kekurangan makanan.
Menjaga Batasan dan Apresiasi Budaya Badui
Masyarakat Badui secara tegas menyatakan keberatan jika wilayah mereka dijadikan sebagai destinasi wisata. Mereka merasa bahwa kondisi alam dan kehidupan mereka tidak ditata untuk pariwisata, tanpa infrastruktur jalan, penerangan, maupun pendidikan yang mendukung. Istilah "Saba Budaya" lebih disukai untuk menggambarkan kunjungan silaturahmi yang menghargai adat istiadat mereka.
Sekretaris PWI Banten, Fahdi Khalid, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap Masyarakat Badui yang konsisten menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Reputasi mereka dalam melestarikan budaya telah dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional. Oleh karena itu, Kemah Budaya Wartawan menjadi platform penting untuk memahami kehidupan sosial mereka.
Perwakilan PWI Pusat, Kadir, mengungkapkan kekagumannya terhadap topografi alam Badui yang berbukit dan bergunung. Ia merasa senang diterima dengan baik oleh tetua adat Badui dalam rangkaian HPN 2026. Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi para wartawan untuk menulis dan membukukan tentang kehidupan Masyarakat Badui, yang nantinya akan dipublikasikan pada HPN di Serang.
Sumber: AntaraNews