Tradisi Gotong Royong Unik: Petani Badui Kembali 'Ngaseuk Padi Huma Badui' di Lahan Darat

Petani Badui kembali melakukan tradisi 'Ngaseuk Padi Huma Badui' di lahan darat Lebak, Banten. Penasaran bagaimana mereka menjaga ketahanan pangan dengan cara unik ini?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tradisi Gotong Royong Unik: Petani Badui Kembali 'Ngaseuk Padi Huma Badui' di Lahan Darat
Petani Badui kembali melakukan tradisi 'Ngaseuk Padi Huma Badui' di lahan darat Lebak, Banten. Penasaran bagaimana mereka menjaga ketahanan pangan dengan cara unik ini? (AntaraNews)

Masyarakat adat Badui di Kabupaten Lebak, Banten, kembali menjalankan tradisi "Ngaseuk Padi Huma Badui" di lahan darat. Ritual penanaman padi ini dilakukan di wilayah Blok Cicuraheum Gunungkencana, menandai dimulainya jadwal adat pertanian mereka.

Kegiatan "Ngaseuk Padi Huma Badui" ini telah berlangsung selama sepekan terakhir dan akan terus berlanjut hingga dua minggu ke depan. Penanaman padi huma ini diawali oleh tetua komunitas Badui Dalam, kemudian diikuti oleh masyarakat Badui Luar.

Tradisi ini tidak hanya sekadar menanam padi, melainkan juga merupakan wujud gotong royong dan kebersamaan yang kuat di antara masyarakat Badui. Padi yang dihasilkan nantinya akan menjadi cadangan pangan keluarga, tidak untuk diperjualbelikan.

Tradisi "Ngaseuk Padi Huma Badui" merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat Badui yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Proses penanaman padi huma di lahan darat ini dilakukan secara bersama-sama tanpa upah, mencerminkan kepedulian antarwarga.

Santa (55), seorang petani Badui, menjelaskan bahwa kegiatan "Ngaseuk Padi Huma Badui" melibatkan sekitar 10 orang untuk lahan seluas satu hektare. "Kami ngaseuk padi huma dilakukan secara gotong royong dan kebersamaan sebanyak 10 orang dengan lahan ladang atau kebun darat seluas satu hektare," ujarnya.

Jadwal penanaman padi ini diatur berdasarkan adat, dengan Badui Dalam memulai terlebih dahulu sebelum dilanjutkan oleh Badui Luar. Hal ini menunjukkan ketaatan mereka terhadap sistem sosial dan pertanian tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.

Petani Badui menerapkan sistem tumpang sari yang cerdas untuk memaksimalkan lahan pertanian mereka. Sebelum menanam padi huma, mereka terlebih dahulu menanam jahe dan kencur di kawasan ladang yang sama.

Setelah padi huma ditanam, lahan tersebut akan kembali dimanfaatkan untuk menanam pisang, jagung, aneka sayuran, cabai, hingga tanaman keras seperti Albasia. Sistem ini memastikan lahan selalu produktif dan memberikan hasil yang beragam.

Pendapatan ekonomi masyarakat Badui sangat bergantung pada hasil tanam tumpang sari ini, dengan panen yang bervariasi dari tiga bulan, enam bulan, 12 bulan, hingga lima tahun. Namun, ada satu aturan penting: padi huma yang dipanen tidak boleh dijual dan harus dijadikan cadangan pangan keluarga, menjamin ketahanan pangan mereka.

Pulung (55), petani Badui lainnya, mengungkapkan bahwa ia telah menyelesaikan "Ngaseuk Padi Huma Badui" di lahan seluas satu hektare di Gunungkencana. Padi huma yang ditanam menggunakan benih lokal ini diperkirakan akan panen dalam waktu enam bulan.

"Kita tanam padi huma Oktober 2025 dan panen dipastikan April 2026," kata Pulung, memberikan gambaran mengenai siklus pertanian mereka. Penanaman padi huma ini menunjukkan komitmen mereka terhadap pertanian berkelanjutan.

Sekretaris Desa Kanekes, Medi, mengapresiasi cara hidup masyarakat Badui yang mengandalkan pertanian ladang dan sistem tumpang sari. Dengan populasi sekitar 11.600 jiwa, masyarakat Badui menunjukkan bahwa mereka mampu menjaga ketahanan pangan tanpa kerawanan. Selain pertanian, mereka juga mengandalkan perdagangan kerajinan seperti tenun dan tas koja untuk menopang ekonomi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi