Kursi Pimpinan Memanas, Ini Daftar Ketum PBNU dari Masa ke Masa
Beredar hasil risalah rapat harian Syuriyah PBNU mendesak Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengundurkan diri dari kursi ketua umum.
Kursi pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memanas. Beredar hasil risalah rapat harian Syuriyah PBNU mendesak Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengundurkan diri dari kursi ketua umum.
Ada sejumlah poin hasil risalah menjadi sorotan hingga akhirnya menjadi alasan permintaan agar Gus Yahya mengundurkan diri.
Pertama, rapat memandang bahwa diundangnya narasumber yang terkait dengan jaringan Zionisme Internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) sebagai narasumber kaderisasi tingkat tertinggi NU telah melanggar nilai dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah serta bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi NU.
Kedua, rapat memandang bahwa pelaksanaan AKN NU dengan narasumber yang terkait dengan jaringan Zionisme Internasional di tengah praktik genosida dan kecaman dunia internasional terhadap Israel telah memenuhi ketentuan Pasal 8 huruf a Peraturan Perkumpulan NU Nomor 13 Tahun 2025 tentang Pemberhentian Fungsionaris, Pergantian Antar Waktu dan Pelimpahan Fungsi Jabatan, yang mengatur bahwa pemberhentian tidak dengan hormat dilakukan terhadap fungsionaris dikarenakan yang bersangkutan melakukan tindakan yang mencemarkan nama baik Perkumpulan.
Ketiga, rapat memandang bahwa tata kelola keuangan di lingkungan PBNU mengindikasikan pelanggaran terhadap hukum syara', ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, Pasal 97-99 Anggaran Rumah Tangga NU dan Peraturan Perkumpulan NU yang berlaku, serta berimplikasi yang membahayakan pada eksistensi Badan Hukum Perkumpulan NU.
Dengan mempertimbangkan poin 1, 2 dan 3 di atas, maka Rapat Harian Syuriyah memutuskan menyerahkan sepenuhnya pengambilan keputusan kepada Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam.
Musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam memutuskan Gus Yahya harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PBNU dalam waktu tiga hari terhitung sejak diterimanya keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU. Jika dalam waktu tiga hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU. Risalah rapat harian syuriyah tersebut ditandatangani Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar.
Respons Gus Yahya Didesak Mundur
Gus Yahya angkat bicara tentang isu pemakzulannya dari kursi Ketum PBNU. Gus Yahya mengaku tengah berkoordinasi dengan pengurus dalam agenda Rapat Koordinasi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia di Hotel Navator Surabaya, Sabtu (22/11) malam.
“Silaturahmi, koordinasi pengurus organisasi,” ujar Gus Yahya.
Dikonfirmasi tentang isu pemakzulannya yang terungkap melalui dokumen Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU tanggal 20 November 2025, Gus Yahya mengaku mengaku belum tahu. Dia beralasan belum menerima dokumen risalah ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar itu.
"Saya sendiri belum terima. Tapi lihat nanti apakah ada yang dipersiapkan. Tunggu informasinya ya," kata dia.
Gus Ipul Soal Gus Yahya Didesak Mundur
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Saifullah Yusuf (Gus Ipul) buka suara soal isu pemakzulan Ketua Umum (Ketum) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang tengah berembus. Ia meminta seluruh elemen pengurus NU untuk tenang menyikapi hal itu.
Isu pemakzulan itu terungkap melalui dokumen Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU tanggal 20 November 2025 yang beredar. Dokumen itu sendiri ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Menyikapi dinamika itu, Gus Ipul mengimbau seluruh pengurus NU di semua tingkatan mulai dari PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga Ranting NU tetap tenang dan menjaga suasana tetap kondusif.
Gus Ipul menegaskan, apa yang terjadi saat ini merupakan perkara organisasi biasa yang sedang ditangani oleh jajaran Syuriah PBNU sesuai mekanisme internal yang berlaku.
Ketum PBNU dari Masa ke Masa
Gus Yahya diketahui terpilih menjadi Ketum PBNU periode 2021-2027 menggantikan posisi Said Aqil Siradj. Gus Yahya terpilih pada Muktamar ke-34 NU diselenggarakan di Lampung pada Desember 2021. Sementara itu, KH. Miftachul Akhyar kembali terpilih sebagai Rais Aam PBNU.
Diketahui, Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia yang didirikan pada tahun 1926. Sejak awal berdirinya, NU telah dipimpin oleh sejumlah tokoh ulama terkemuka.
Kepemimpinan di NU dibagi ke dalam dua peran utama, yaitu Rais Aam dan Ketua Umum, yang keduanya berperan penting dalam menjalankan organisasi.
Dalam struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), terdapat pembagian tugas yang jelas antara Rais Aam (Syuriyah) dan Ketua Umum (Tanfidziyah).
Rais Aam merupakan istilah yang merujuk pada pemimpin tertinggi di dalam jam’iyah NU. Secara lengkap, jabatan tersebut dikenal sebagai Rais Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Rais Aam memiliki fungsi, wewenang, dan tugas penting dalam jam’iyah. Sebagai kepala Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), Rais Aam memegang peran utama dalam menetapkan keputusan-keputusan strategis.
Semua keputusan yang diambil secara kolektif dalam syuriyah bersifat mengikat dan wajib ditaati oleh seluruh anggota organisasi. Sedangkan, Ketua Umum memimpin tanfidziyah, yaitu lembaga pelaksana yang beranggotakan pengurus yang bertugas menjalankan administrasi dan operasional organisasi.
Dengan pembagian peran ini, PBNU dapat menjaga keseimbangan antara kebijakan keagamaan yang berbasis nilai-nilai tradisional dan pengelolaan organisasi yang modern.
Berikut adalah daftar Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dari masa ke masa
Daftar Rais Aam PBNU
KH. Hasyim Asy'ari (1926-1947)
KH. Wahid Hasyim (1947-1950)
KH. Abdul Wahab Hasbullah (1950-1971)
KH. Bisri Syansuri (1971-1980)
KH. Abdul Ghofur (1980-1984)
KH. Ahmad Shiddiq (1984-1991)
KH. Ali Yafie (1991-1992)
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (1992-1999)
KH. Sahal Mahfudz (1999-2014)
KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) (2014-2015)
KH. Ma'ruf Amin (2015-2018)
KH. Miftachul Akhyar (2018-2027).
Daftar Ketua Umum PBNU
KH. Hasan Gipo (1926-1929)
KH. Ahmad Noor (1929-1937)
KH. Mahfudz Siddiq (1937-1946)
KH. Nahrawi Thohir (1946-1951)
KH. Abdul Wahid Hasyim (1951-1954)
KH. Muhammad Dahlan (1954-1956)
KH. Idham Chalid (1956-1984)
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (1984-1999)
KH. Hasyim Muzadi (1999-2010)
KH. Said Aqil Siradj (2010-2021)
KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) (2021-2027)