Forum Sesepuh NU Desak Penundaan Pleno Penetapan Pj Ketua PBNU, Soroti Proses Pemakzulan

Forum Sesepuh NU merekomendasikan penundaan pleno penetapan Pj Ketua PBNU, menyoroti dugaan pelanggaran aturan organisasi dalam proses pemakzulan. Ada apa di balik polemik internal ini?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Forum Sesepuh NU Desak Penundaan Pleno Penetapan Pj Ketua PBNU, Soroti Proses Pemakzulan
Polemik Pj Ketua PBNU memanas setelah Forum Sesepuh NU merekomendasikan penundaan pleno penetapan, menekankan pentingnya kepatuhan pada aturan organisasi. (AntaraNews)

Jombang, Jawa Timur – Forum Sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) secara tegas merekomendasikan penundaan rapat pleno penetapan Penjabat (Pj) Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Desakan ini muncul setelah forum tersebut menyoroti dugaan ketidaksesuaian prosedur dalam proses pemakzulan Ketua Umum PBNU yang sedang berlangsung.

Rekomendasi penting ini disampaikan oleh Juru bicara Forum Sesepuh NU, K.H. Oing Abdul Muid Sohib, usai rapat yang digelar di Pesantren Tebuireng, Jombang, pada Sabtu (06/12). Forum tersebut menekankan pentingnya penyelesaian masalah internal sesuai ketentuan organisasi sebelum langkah lebih lanjut diambil.

Langkah ini diambil menyusul adanya informasi kuat mengenai dugaan pelanggaran serius dalam pengambilan keputusan oleh Ketua Umum PBNU yang memerlukan klarifikasi menyeluruh. Forum Sesepuh NU mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan menjaga ketertiban organisasi demi menjaga kewibawaan jamiyah.

Polemik Proses Pemakzulan dan Aturan Organisasi

Forum Sesepuh NU secara eksplisit menyatakan bahwa proses pemakzulan Ketua Umum PBNU yang tengah berjalan tidak sejalan dengan aturan organisasi, khususnya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART). Pernyataan ini disampaikan oleh K.H. Oing Abdul Muid Sohib, yang menegaskan perlunya kepatuhan terhadap prosedur internal NU.

Meskipun demikian, forum juga mengakui adanya indikasi kuat mengenai potensi pelanggaran atau kekeliruan serius dalam pengambilan keputusan oleh Ketua Umum PBNU. Situasi ini, menurut mereka, membutuhkan klarifikasi mendalam melalui mekanisme organisasi yang telah ditetapkan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum PBNU, K.H. Yahya Cholil Staquf, turut menyampaikan pandangannya. Ia menilai keputusan Syuriah PBNU yang mengarah pada pemakzulan tersebut bermasalah, terutama karena tidak adanya kesempatan untuk melakukan klarifikasi.

Gus Yahya juga berpendapat bahwa keputusan Syuriah tersebut berada di luar lingkup wewenang mereka. Ia menegaskan, "Itu juga di luar wewenang Syuriah, maka semua itu bermasalah. Nanti, akan dibicarakan dengan semua pihak dari PWNU, dari PCNU."

Seruan Menahan Diri dan Mekanisme Internal NU

Dalam menyikapi dinamika internal yang terjadi, Forum Sesepuh NU mengeluarkan seruan agar seluruh pihak dapat menahan diri. Mereka menekankan pentingnya menjaga ketertiban organisasi serta menghindari tindakan yang berpotensi memperbesar ketegangan di antara jajaran pengurus dan anggota Nahdlatul Ulama.

K.H. Oing Abdul Muid Sohib, yang akrab disapa Gus Muid, menegaskan bahwa semua persoalan harus diselesaikan melalui mekanisme internal NU. "Forum menegaskan persoalan ini diselesaikan melalui mekanisme internal NU tanpa melibatkan institusi atau proses eksternal demi menjaga kewibawaan jamiyah dan memelihara NU sebagai aset besar bangsa," ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya mediasi, Forum Sesepuh NU juga mengusulkan adanya pertemuan antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Ide ini diharapkan dapat menjadi jembatan komunikasi untuk mencari solusi terbaik, meskipun detail pelaksanaannya masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut.

K.H. Yahya Cholil Staquf sendiri mengklaim selalu membuka komunikasi dengan jajaran Syuriah PBNU. Ia merasa lega bisa bertemu dengan jajaran Syuriah di Pesantren Tebuireng, tempat ia memberikan penjelasan lengkap dengan dokumen pendukung.

Dukungan dan Kehadiran Tokoh Sesepuh NU

Rapat penting yang diselenggarakan di Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut dihadiri oleh sejumlah kiai dan tokoh sesepuh Nahdlatul Ulama. Kehadiran mereka menunjukkan betapa seriusnya persoalan internal yang sedang dihadapi PBNU dan pentingnya mencari jalan keluar secara musyawarah.

Di antara para sesepuh dan mustasyar NU yang turut serta dalam rapat tersebut adalah K.H. Ma’ruf Amin, yang bergabung secara virtual melalui Zoom. Mantan Ketua Umum PBNU, K.H. Said Aqil Siradj, juga hadir secara langsung, memberikan bobot pada diskusi yang berlangsung.

Tokoh-tokoh penting lainnya yang turut hadir atau bergabung secara daring meliputi Pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri K.H. Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Desa Ploso K.H. Nurul Huda Djazuli, serta K.H. Abdullah Ubab Maimoen dan Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, keduanya bergabung via Zoom. Kehadiran mereka memperkuat legitimasi forum dalam mencari solusi terbaik bagi organisasi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi