Klarifikasi Lengkap Putra Mahkota Keraton Surakarta soal ‘Nyesel Gabung Republik’
Sebelumnya, dalam sebuah unggahan, dirinya menuliskan pernyataan 'Nyesel Gabung Republik'.
Putra Mahkota Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibyo Putro Rajaputra Narendra Mataram akhirnya memberikan klarifikasi.
Sebelumnya, dalam sebuah unggahan, dirinya menuliskan pernyataan ‘Nyesel Gabung Republik’. Kalimat tersebut diunggah di story Istagram kgpaa.hamangkunegoro miliknya Jumat (28/2) lalu.
Dalam pernyataan yang dibacakan Pengageng Sasana Wilapa Keraton Solo, KPA H Dany Nur Adiningrat menegaskan, jika unggahan tersebut merupakan kritik kepada pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
KGPAA Hamangkunegoro sendiri tak bisa hadir dalam konferensi pers yang digelar di keraton.
“Ini sebuah kekecewaan sekaligus kritikan dari anak muda terhadap pemerintah. Meski mengkritik, beliau tetap mendukung pemerintahan Pak Prabowo dan Mas Gibran dan tetap setia ke Republik ini,” ujar Dany.
Berikut pernyataan lengkap putra mahkota KGPAA) Hamangkunegoro Sudibyo Putro Rajaputra Narendra Mataram:
Klarifikasi Lengkap
Bahwa sehubungan dengan pembahasan yang berkembang di berbagai media sosial maupun media massa terkait dengan unggahan saya di fitur Story Instagram, dengan ini saya, Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram, menyampaikan klarifikasi guna memberikan kejelasan mengenai maksud dan tujuan dari unggahan tersebut.
I. Latar Belakang
Bahwa unggahan saya di Instagram tidak dapat dilepaskan dari rangkaian unggahan sebelumnya, yang dalam hal ini berkaitan dengan perkembangan situasi terkini, khususnya terkait pemberitaan mengenai kasus Pertamina yang telah menimbulkan kekecewaan luas di masyarakat, termasuk bagi saya Sebagai bagian dari generasi muda.
II. Maksud dan Tujuan Unggahan
Bahwa ekspresi kekecewaan saya tersebut saya tuangkan dalam unggahan di akun Instagram pribadi saya, yang salah satunya memuat pernyataan mengenar penyesalan bergabung dengan Republik. Pernyataan tersebut bukanlah cerminan dari hilangnya semangat nasionalisme, patnotisme, atau jiwa bela negara dalam diri saya, melainkan suatu bentuk kritik dan sindiran terhadap para penyelenggara negara saat ini.
Bahwa maksud dari unggahan tersebut adalah untuk menyoroti bahwa tata kelola pemerintahan saat ini jauh dari harapan para leluhur kami yang dahulu turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kritik Pemerintah
III. Konteks Sejarah
Bahwa berdasarkan fakta sejarah, para leluhur kami, khususnya para Sri Susuhunan di Surakarta, memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Di antara mereka adalah Sri Susuhunan Pakoe Boewono VI (1823-1830), dan Sri Susuhunnn Pakoe Boewono X (1893-1939) yang telah diakui sebagai Pahlawan Nasional, serta Sri Susuhunan Pakoe Boewono XII (1945-2004) yang dengan sukarela menggabungkan negerinya yang telah berdaulat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bahkan menyerahkan harta benda dan kekuasaannya demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang pada saat itu masih dalam tahap awal pembangunan.
IV. Kritik terhadap Kondisi Pemerintahan
Bahwa namun demikian, kami merasakan kekecewaan yang mendalam terhadap tata kelola pernerintahan saat ini, yang dinilai telah jauh menyimpang dari nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa.
Penyelenggaraan negara yang tidak mengindahkan kepentingan rakyat menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab terhadap amanah sejarah dan pengorbanan para pendahulu.
Seharusnya para pemimpin negara memiliki kesadaran moral dan etika dalam mengelola pemerintahan demi kepentingan rakyat banyak.
Kesadaran Sejarah
V. Ajakan untuk Kesadaran Sejarah
Bahwa dengan demikian, saya menegaskan bahwa unggahan saya tersebut merupakan bentuk ekspresi kekecewaan sekaligus kritik terhadap kondisi pemerintahan saat ini.
Oleh karena itu, saya mengajak seluruh generasi muda untuk meningkatkan kesadaran terhadap sejarah dan berperan aktif dalam mengisi kemerdekaan ini dengan kebijakan serta tindakan yang bijaksana demi masa depan bangsa yang lebih baik.
Bahwa kami mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran dalam upaya pemberantasan korupsi serta penegakan prinsip-prinsip ketatanegaraan sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa dan nilai-nilai luhur Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Isu Korupsi
Menurut Dany, ada 4 isu yang menjadi perhatian KGPAA Hamangkunegoro sehingga menuliskan unggahan kritikan. Lanjut Dany, keempat isu tersebut adalah korupsi di PT Pertamina Patra Niaga, kasus PHK dan tutupnya PT Sritex Sukoharjo, korupsi di PT Timah serta kasus pagar laut di perairan Tangerang, Banten.
Selain keempat isu tersebut, lanjut Dany, Hamangkunegoro juga mempertanyakan status Daerah Istimewa Surakarta (DIS) yang masih ditangguhkan oleh pemerintah.
"Mungkin ini pemikiran yang melatar belakangi beliau untuk memberikan peringatan keras kepada pemerintah. Kritik ini merupakan bentuk kepedulian terhadap pemerintah," tandasnya.