Khofifah Tegaskan Ulama dan Umara Jadi Pilar Kekuatan Utama Jawa Timur
Gubernur Khofifah Indar Parawansa menekankan peran sentral ulama dan umara sebagai pilar kekuatan penting bagi kemajuan serta keberkahan Jawa Timur, menarik perhatian pada nilai-nilai spiritual dan pembangunan.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, baru-baru ini menegaskan peran krusial ulama, pondok pesantren, dan umara sebagai pilar kekuatan utama di provinsi tersebut. Penegasan ini disampaikan Khofifah dalam sebuah keterangan resmi di Surabaya, menyoroti kontribusi signifikan mereka dalam menjaga stabilitas dan kemajuan wilayah.
Menurut Khofifah, keberadaan para ulama dan pemimpin spiritual, termasuk ustadz, ustadzah, serta guru Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) An-Nahdliyah Langitan, merupakan fondasi kuat bagi dunia dan akhirat. Ia mengungkapkan rasa syukur karena Jawa Timur diberkahi dan dikuatkan oleh kehadiran pesantren serta para ulama terkemuka.
Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen pemerintah provinsi dalam menjaga stabilitas dan kemajuan wilayah melalui sinergi antara kepemimpinan spiritual dan pemerintahan. Khofifah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung peran vital para ulama dan umara dalam pembangunan daerah.
Sinergi Ulama dan Umara sebagai Pilar Penguat Jatim
Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa Jawa Timur senantiasa dijaga dan dikuatkan melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan Al Quran. Ia menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya, sebuah jejak yang diikuti oleh banyak pihak di Jawa Timur.
Gubernur perempuan pertama Jawa Timur ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendoakan para ulama. Doa ini diharapkan agar para ulama senantiasa menjadi pilar penguat Islam dan kehidupan bermasyarakat di Jawa Timur.
Sinergi antara ulama dan umara, atau pemimpin pemerintahan, menjadi kunci dalam mewujudkan pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Khofifah berharap kemudahan dalam menjalankan berbagai tugas serta turunnya rahmat dan ridha Allah SWT pada proses pembangunan di Jawa Timur.
Warisan Intelektual Gus Dur dan Pondok Pesantren Langitan
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menyampaikan bahwa Pondok Pesantren Langitan telah lama menjadi pusat kepondokpesantrenan yang sangat dihormati di Jawa Timur. Pesantren ini memiliki sejarah panjang dalam mencetak ulama dan cendekiawan.
Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, disebutnya kerap menjadikan pengasuh generasi keenam Pondok Pesantren Langitan, KH Abdullah Faqih atau Kiai Khos Nahdlatul Ulama (NU), sebagai rujukan dalam berbagai persoalan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran Langitan dalam kancah nasional.
Khofifah mengungkapkan kerinduan akan sosok Kiai Khos yang sering menjadi referensi jika ada masalah-masalah, baik masalah kebangsaan, kenegaraan, maupun keumatan. Peran ulama sebagai penasihat spiritual dan intelektual sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan zaman.
Jawa Timur: Wilayah Penuh Cahaya dan Keberkahan
Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia itu juga mengisahkan cerita ulama terkemuka Universitas Al-Azhar Mesir, Syaikh Muhammad Abdusshomad Mehanna. Syaikh Mehanna menyebut Jawa Timur sebagai wilayah yang penuh cahaya dan keberkahan.
Kisah tersebut disampaikan langsung oleh Syaikh Mehanna kepada Khofifah saat ulama tersebut berada di Jawa Timur. Pengakuan dari ulama internasional ini semakin menguatkan posisi Jawa Timur sebagai pusat spiritual dan keagamaan di Indonesia.
Khofifah kembali menekankan pentingnya peran ulama dan umara dalam menjaga keberkahan ini. Ia berharap masyarakat terus mendoakan para ulama agar senantiasa menjadi pilar penguat Islam dan kehidupan bermasyarakat, serta agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih besar oleh masyarakat.
Sumber: AntaraNews