Kerusakan Banjir Nagan Raya Capai Rp1,1 Triliun, Pemkab Berharap Bantuan Pusat
Pemerintah Kabupaten Nagan Raya melaporkan total kerusakan akibat bencana banjir bandang pada November 2025 mencapai lebih dari Rp1,1 triliun, dengan harapan pemerintah pusat dapat mengakomodasi pemulihan pasca Kerusakan Banjir Nagan Raya.
Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, mengumumkan total kerusakan. Angka ini akibat bencana banjir bandang yang terjadi pada akhir tahun lalu. Kerugian diperkirakan mencapai lebih dari Rp1,1 triliun.
Banjir bandang tersebut melanda wilayah Nagan Raya pada Rabu, 26 November 2025. Dampak kerusakannya sangat signifikan di berbagai sektor. Data ini telah disampaikan kepada pemerintah pusat.
Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan, berharap pemerintah pusat dapat mengakomodasi. Bantuan diperlukan untuk memulihkan semua kerusakan yang terjadi. Pernyataan ini disampaikan pada Sabtu (7/2) di Suka Makmue.
Rincian Kerugian Lintas Sektor Akibat Kerusakan Banjir Nagan Raya
Kerugian akibat banjir bandang di Nagan Raya mencakup berbagai sektor vital. Kerusakan permukiman warga mencapai lebih dari Rp131 miliar. Angka ini menunjukkan dampak langsung pada tempat tinggal masyarakat.
Sektor infrastruktur mengalami kerugian terbesar. Total kerusakan mencapai lebih dari Rp572,7 miliar. Ini meliputi jalan, jembatan, dan fasilitas publik lainnya yang vital bagi mobilitas.
Dampak ekonomi juga tidak kalah parah, dengan kerugian lebih dari Rp278,8 miliar. Selain itu, sektor sosial menderita kerugian lebih dari Rp75,9 miliar. Kerusakan lintas sektor lainnya tercatat sebesar Rp39,6 miliar.
Data komprehensif ini menjadi dasar bagi Pemerintah Kabupaten Nagan Raya. Tujuannya adalah untuk mengajukan permohonan bantuan rekonstruksi kepada pemerintah pusat.
Dampak Luas pada Masyarakat dan Fasilitas Publik
Bencana banjir bandang ini tidak hanya menimbulkan kerugian finansial. Sebanyak 25.608 jiwa atau 8.325 KK di Nagan Raya terdampak langsung. Tiga orang dilaporkan hilang dan satu korban meninggal dunia.
Fasilitas umum dan infrastruktur juga mengalami kerusakan parah. Sebanyak 29 kantor, tiga rumah ibadah, dan 12 dayah/pesantren tradisional rusak. Empat puluh enam sekolah dan empat fasilitas pelayanan kesehatan turut terdampak.
Kerusakan infrastruktur vital lainnya mencakup tujuh titik jalan putus. Tiga unit jembatan juga tidak dapat dilalui akibat terjangan banjir bandang. Hal ini sangat mengganggu konektivitas antar wilayah.
Rumah warga yang terdampak mencapai 1.807 unit. Rinciannya adalah 487 unit rumah dilaporkan rusak berat, 283 unit rumah dalam kondisi rusak sedang, serta rusak ringan sebanyak 1.043 unit rumah.
Koordinasi dan Harapan Pemulihan Pasca Kerusakan Banjir Nagan Raya
Pemerintah Kabupaten Nagan Raya terus berkoordinasi aktif. Komunikasi intensif dilakukan dengan BNPB dan Pemerintah Aceh. Tujuannya adalah melaporkan setiap perkembangan pascabencana banjir bandang.
Upaya ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam penanganan bencana. Mereka berharap laporan kerusakan ini menjadi pertimbangan utama. Pertimbangan tersebut penting untuk pembangunan kembali.
Pembangunan kembali meliputi berbagai prasarana dan sarana yang hancur. Pemulihan infrastruktur dan permukiman menjadi prioritas utama. Hal ini demi mengembalikan kehidupan normal masyarakat.
Dukungan dari pemerintah pusat sangat diharapkan untuk mempercepat proses ini. Dengan sinergi yang baik, Nagan Raya dapat bangkit kembali. Pemulihan pasca Kerusakan Banjir Nagan Raya menjadi fokus utama.
Sumber: AntaraNews