Korban Bencana Aceh Bertambah: 349 Meninggal, 92 Hilang Akibat Banjir dan Longsor

Data terbaru Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh melaporkan jumlah korban meninggal akibat bencana Aceh kini mencapai 349 jiwa, dengan 92 orang masih hilang.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Korban Bencana Aceh Bertambah: 349 Meninggal, 92 Hilang Akibat Banjir dan Longsor
Data terbaru Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh melaporkan jumlah korban meninggal akibat bencana Aceh kini mencapai 349 jiwa, dengan 92 orang masih hilang. (AntaraNews)

Banda Aceh, Merdeka.com - Data terbaru dari Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh menunjukkan peningkatan signifikan jumlah korban jiwa. Hingga Jumat malam, 06 Desember, total 349 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut.

Selain korban meninggal, sebanyak 92 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim gabungan. Bencana hidrometeorologi ini telah berlangsung sejak 18 November 2025, menyebabkan dampak luas di berbagai kabupaten/kota di Aceh.

Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin, mengonfirmasi penambahan jumlah korban tersebut berdasarkan laporan terkini dari daerah. Pihak berwenang terus berupaya melakukan evakuasi dan pencarian korban yang belum ditemukan.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh sejak pertengahan November 2025 ini telah menyebar ke 18 kabupaten/kota. Total 234 kecamatan dan 3.978 gampong (desa) di seluruh Aceh merasakan dampak dari peristiwa alam ini.

Menurut Murthalamuddin, jumlah warga yang terdampak mencapai 321.134 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 1.404.130 jiwa. Dari angka tersebut, 194.233 KK atau 775.346 jiwa di antaranya merupakan pengungsi yang tersebar di 824 lokasi.

Data korban jiwa menunjukkan 2.872 jiwa mengalami luka ringan dan 576 orang menderita luka berat. Angka 349 korban meninggal dunia dan 92 orang hilang menjadi fokus utama penanganan darurat saat ini, mengingat pencarian masih terus berlangsung.

Dampak bencana hidrometeorologi ini tidak hanya terbatas pada korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas umum dan harta benda. Murthalamuddin merinci bahwa 205 unit perkantoran mengalami kerusakan serius akibat banjir dan longsor.

Selain itu, 201 tempat ibadah, 243 sekolah, dan 15 pondok pesantren juga tidak luput dari kerusakan. Infrastruktur vital seperti jalan di 452 titik dan jembatan di 312 titik juga mengalami kerusakan, menghambat akses dan mobilitas.

Fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas sebanyak 245 unit turut terdampak, menyulitkan penanganan medis. Kerugian harta benda juga sangat besar, meliputi 115.228 unit rumah warga, 65.024 hektare lahan persawahan, dan 12.513 hektare perkebunan yang rusak.

Pemerintah bersama tim gabungan terus mengintensifkan upaya pencarian terhadap korban yang masih hilang. Fokus utama saat ini adalah evakuasi, pencarian, dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga yang mengungsi di berbagai lokasi.

Distribusi bantuan untuk korban bencana alam Aceh terus dimaksimalkan melalui berbagai jalur transportasi. Murthalamuddin menjelaskan bahwa untuk daerah yang masih terisolir dan belum bisa dijangkau jalur darat, bantuan dikirim melalui udara dan laut.

Wilayah seperti Aceh Tamiang, Langsa, dan Aceh Timur menerima pasokan bantuan melalui jalur laut maupun udara. Sementara itu, daerah seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara dipasok menggunakan helikopter dan pesawat Hercules.

Pemerintah Aceh, didukung oleh TNI, Polri, BNPB, dan seluruh pihak terkait, berkomitmen untuk menjangkau dan mendistribusikan bantuan secara merata kepada seluruh masyarakat terdampak. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan pasca bencana.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi