BNPB Percepat Penanganan Empat Kubangan Gempa di Nokilalaki Sigi, Antisipasi Banjir Bandang

BNPB bergerak cepat menangani empat kubangan raksasa di Nokilalaki Sigi akibat gempa bumi, dengan metode khusus untuk menjaga kelestarian Taman Nasional Lore Lindu dan mencegah potensi banjir bandang yang mengancam warga.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BNPB Percepat Penanganan Empat Kubangan Gempa di Nokilalaki Sigi, Antisipasi Banjir Bandang
BNPB bergerak cepat menangani empat kubangan raksasa di Nokilalaki Sigi akibat gempa bumi, dengan metode khusus untuk menjaga kelestarian Taman Nasional Lore Lindu dan mencegah potensi banjir bandang yang mengancam warga. (AntaraNews)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah sigap untuk mempercepat penanganan empat kubangan besar yang terbentuk akibat gempa bumi di wilayah Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Upaya ini dilakukan untuk mitigasi risiko bencana lanjutan, terutama potensi banjir bandang yang dapat mengancam keselamatan warga setempat. Kepala BNPB Suharyanto langsung meninjau lokasi pada Sabtu (20/6) untuk memastikan penanganan berjalan efektif.

Keberadaan kubangan-kubangan ini, yang sebagian besar berada di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, menjadi perhatian utama karena berpotensi memicu banjir bandang jika tidak segera diatasi. Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sigi pada Selasa (16/6) menjadi pemicu utama terbentuknya fenomena alam ini. Penanganan khusus diperlukan mengingat lokasi yang sensitif dan sulit dijangkau alat berat.

Penanganan ini melibatkan pendekatan yang hati-hati dan terkoordinasi, termasuk penggunaan pompa alkon untuk menjebol longsoran tanpa merusak ekosistem hutan. Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae menegaskan pentingnya izin khusus untuk aktivitas di Taman Nasional Lore Lindu. Fokus utama adalah melindungi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan alam yang berharga.

Strategi Penanganan Kubangan di Kawasan Lindung

Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan bahwa penanganan kubangan di Nokilalaki Sigi menghadapi tantangan unik karena lokasinya berada di Taman Nasional Lore Lindu. Akses alat berat ke area tersebut sangat terbatas dan berpotensi merusak ekosistem hutan yang dilindungi. Oleh karena itu, pendekatan non-invasif menjadi prioritas utama dalam upaya mitigasi ini.

Untuk mengatasi longsoran yang membentuk kubangan, disepakati penggunaan pompa alkon sebagai metode utama. Teknik ini memungkinkan penjebolan material longsoran secara terkontrol tanpa perlu mengerahkan alat berat yang masif. Langkah ini diambil untuk memastikan kelestarian lingkungan Taman Nasional Lore Lindu tetap terjaga selama proses penanganan berlangsung.

Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae menekankan pentingnya kehati-hatian dalam setiap tahapan penanganan kubangan ini. Ia juga menegaskan bahwa segala aktivitas di kawasan Taman Nasional Lore Lindu memerlukan izin khusus dari pihak berwenang. Keselamatan masyarakat dan perlindungan lingkungan menjadi dua aspek krusial yang harus sejalan dalam setiap kebijakan yang diambil.

Dampak Gempa dan Upaya Pemulihan di Sigi

Gempa bumi magnitudo 6,7 yang melanda Sigi pada Selasa (16/6) tidak hanya menyisakan kubangan, tetapi juga menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur dan menimbulkan korban jiwa. Data dari BPBD Sigi per 20 Juni mencatat total 2.335 unit rumah mengalami kerusakan. Rinciannya meliputi 1.955 rumah rusak ringan, 226 unit rusak sedang, dan 154 unit rusak berat.

Selain kerusakan fisik, bencana ini juga berdampak pada ribuan jiwa di Kabupaten Sigi. Tercatat ada penambahan total korban dan terdampak sebanyak 8.586 jiwa dari 2.775 kepala keluarga. Angka ini mencakup 17 orang mengalami luka berat dan 108 orang menderita luka ringan. Tragisnya, tiga warga dilaporkan meninggal dunia akibat gempa tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa tektonik ini terjadi pada pukul 10.27 WIB dan turut mengguncang wilayah lain di Sulawesi Tengah. Selain Sigi, daerah yang merasakan dampak gempa meliputi Parimo, Donggala, dan Kota Palu. Koordinasi lintas sektor terus dilakukan untuk memastikan pemulihan pasca-gempa berjalan optimal.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi