Jeritan Hidup Sengsara Nelayan Miskin Teluk Naga: Kapal Rusak Karena Pagar Laut
Kondisi cuaca yang tidak menentu, kelangkaan solar dan sulitnya menjual hasil ikan yang didapat masih menjadi persoalan.
Kondisi masyarakat pesisir yang menggantungkan harapan tinggi terhadap kondisi laut hanya bisa pasrah dan termenung ketika sumber mata pencaharian mereka terganggu.
Kondisi cuaca yang tidak menentu, kelangkaan solar dan sulitnya menjual hasil ikan yang didapat masih menjadi persoalan yang kerap menimpa masyarakat nelayan Tangerang.
Bukan saja faktor alam yang mengancam keamanan dan keselamatan ekonomi masyarakat nelayan. Tapi faktor-faktor lain juga menjadi pendorong masyarakat pesisir bisa leluasa beraktifitas memenuhi kebutuhan hajat kehidupannya.
“Rasa-rasanya kehidupan nelayan ke depan semakin keras. Bukan karena kerasnya alam, tapi hal-hal lain yang di luar kendali kami sebagai nelayan miskin,” ujar Fahrul, ditemui kawasan Tanjung Pasir, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang.
Tak Punya Akses ke Pembeli
Pria yang bekerja sebagai pencari kerang laut ini mengaku ketidakpastian mencari rejeki di alam laut adalah hal yang biasa dia maklumi. Namun, dia berharap negara baik pemerintah daerah dan pusat hadir memberikan harapan-harapan baik bagi masyarakat nelayan.
“Setidaknya ada kepastian solar buat kapal-kapal nelayan selalu tersedia, jangan tiba-tiba langka. Kalau kondisi alam menjadi kendali Tuhan kami pasrah, tapi yang bisa dikendalikan pemerintah kami mohon serius, benar-benar beri kemudahan buat kami,” ujar Fahrul.
Pria tak lulus Sekolah Dasar ini mengaku juga terkendala pemasaran hasil laut yang dia peroleh. Sebab selama ini, dia hanya menjual kerang-kerang yang dicari di lautan Tangerang dengan menjual ke tengkulak.
“Kalau ke pengepul ya seenak mereka hargainya, sementara kan dia jual jauh lebih mahal dari dia beli di kita. Kita mau enggak mau, enggak ada akses ke pembeli langsung,” ujar dia.
Kapal Rusak Duit Tak Punya
Derita serupa juga dialami nelayan di Desa Kohod, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang. Pria yang mengaku tidak bisa bekerja lain selain pekerjaan di laut itu kini hanya terdiam memandangi kapal kecilnya yang terpaksa ditarik ke pantai akibat rusak terkena patahan pagar bambu yang tidak tercabut dari dasarnya.
“Kapal ku rusak kena patahan bambu bekas pagar laut. Ada tiga kapal lain punya nelayan Kohod yang juga rusak kena bambu-bambu bekas pagar ,” ujar dia.
Akibat kerusakan itu, Soleh yang belum memiliki dana untuk memperbaikinya terpaksa memakirkan kapal untuk diistirahatkan. Dia pun berharap sisa-sisa pencabutan pagar bambu bisa bersih dari area laut Kohod, sebab mengancam keamana dan keselamatan para nelayan berikut kapalnya.
“Yang bahaya itu patahan-patahan sisa pencabutan, itu kan engga kelihatan sama kita. Kita terabas tahunya ada sisa bambu kena kapal jadi merusak, bahaya juga,” kata dia.
Sementara kapalnya diistirahatkan, Soleh kini hanya bisa menumpang atau diajak teman nelayan yang ingin sama-sama mencari ikan. “Mancing bagan, ikut-ikut orang saja dulu. Kalau ada yang ngajak,” ucap dia.
Bahaya Pagar Laut
Marto, nelayan Kohod yang kapalnya sempat disewa Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk pencabutan pagar laut kala itu tak kalah jengkelnya.
Sebab, pencabutan pagar-pagar laut di wilayah Laut Kohod masih belum 100 persen.
“Saya pikir kemarin itu semua dicabut, nyatanya kan enggak. Kalau yang kelihatan masih kita bisa hindari. Yang patahan-patahan enggak kecabut itu yang bahaya,” ujar dia.
Dia yang mengetahui jika kendala tidak tercabutnya sisa pagar laut di Kohod itu karena efisiensi anggaran pemerintah, berharap agar pagar-pagar bambu tersebut bisa bersih 100 persen.
“Kalau saya dengan dari PSDKP waktu itu karena efisiensi anggaran, itu memang harus pakai alat berat. Karena Arsin kemarin pasangnya kan pakai eksavator. Beberapa kali ditarik pakai kapal waktu itu percuma, gagal terus,” ujar dia.