Musim Baratan Terpanjang Lumpuhkan Aktivitas Nelayan Batang, 10 Ribu Lebih Tak Melaut

Pendangkalan muara menyebabkan kapal-kapal tidak dapat keluar masuk perairan.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Musim Baratan Terpanjang Lumpuhkan Aktivitas Nelayan Batang, 10 Ribu Lebih Tak Melaut
Musim Baratan Terpanjang Lumpuhkan Aktivitas Nelayan Batang (Istimewa)

Ribuan nelayan di Kabupaten Batang terdampak cuaca ekstrem yang berlangsung lama, ditambah sedimentasi parah di alur Sungai Sambong. Kombinasi dua faktor tersebut membuat aktivitas melaut praktis lumpuh selama lebih dari satu bulan.

Pendangkalan muara menyebabkan kapal-kapal tidak dapat keluar masuk perairan. Akibatnya, sebagian besar nelayan terpaksa menghentikan aktivitas mencari ikan karena risiko kandas semakin tinggi.

"Sudah hampir satu bulan ini sebagian besar nelayan tidak bisa beraktivitas melaut. Tahun ini parah, sudah sebulan ini sama sekali tidak bisa melaut. Kapal juga kandas karena dangkal," kata seorang nelayan, Wedhi di TPI Batang, Senin (9/2).

Ia menunjukkan deretan ratusan kapal yang terparkir di aliran Sungai Sambong hingga muara. Tak satu pun bergerak karena seluruhnya terjebak pendangkalan.

"Tahun kemarin paling kalau cuaca buruk berapa hari, kami bisa berangkat. Meski tidak pasti, kalau cuaca mendukung kapal bisa keluar masuk muara. Sekarang sama sekali tidak bisa bergerak," ungkapnya.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Teguh Tarmudjo, menyebut dampaknya dirasakan hampir seluruh nelayan setempat. Menurutnya, lebih dari 10 ribu nelayan tidak dapat melaut karena armada mereka tertahan di muara.

"Musim baratan tahun ini luar biasa, hujan deras membawa material lumpur dan menyebabkan sedimentasi sangat parah di Sungai Sambong,” kata Teguh saat ditemui di kawasan dermaga nelayan Batang.

Berdasarkan data HNSI, jumlah nelayan di Kabupaten Batang mencapai lebih dari 10 ribu orang dan hampir semuanya terdampak kondisi cuaca dan pendangkalan alur.

“Nelayan se-Kabupaten Batang itu lebih dari 10 ribu, dan dalam satu bulan ini hampir semuanya terdampak,” ujarnya.

Sedikitnya sekitar 200 kapal nelayan kini dalam kondisi kandas atau terhambat pergerakannya akibat sedimentasi, sehingga tidak bisa beroperasi secara normal.

Selain kehilangan waktu melaut, nelayan juga harus menanggung beban biaya tambahan. Proses bongkar muat ikan tidak lagi bisa dilakukan langsung di dermaga, sehingga membutuhkan pengangkutan tambahan.

“Sekarang pembongkaran ikan tidak bisa langsung di dermaga, sehingga muncul biaya lansir kapal dan lansir ikan,” jelasnya.

Tambahan biaya tersebut berdampak pada sistem bagi hasil antara nelayan dan awak kapal.

“Biaya-biaya baru ini tentu mempengaruhi sistem bagi hasil yang selama ini kami jalani,” katanya.

Menurut perhitungan HNSI, kenaikan biaya operasional bisa mencapai sekitar 10 persen dari kondisi normal.

“Paling tidak ada tambahan sekitar 10 persen dari biaya yang biasa kami keluarkan,” ucapnya.

Bahkan dalam satu kali melaut, tambahan pengeluaran bisa mencapai puluhan juta rupiah.

“Sekali aktivitas bisa hampir 10 jutaan rupiah karena dobel bongkar, di luar dan di tempat pelelangan,” jelas Teguh.

Teguh membandingkan situasi tahun ini dengan musim baratan sebelumnya yang masih memungkinkan nelayan beraktivitas meski terbatas. Kini, sedimentasi membuat muara hampir sepenuhnya tertutup.

“Tahun kemarin gelombang tinggi ada, tapi kami masih bisa berangkat karena muara masih bisa dilewati,” katanya.

"Kata kunci nelayan itu bisa keluar dan masuk muara, tapi sekarang praktis tidak bisa,” ujarnya.

Ia juga mengaku prihatin karena pengerukan yang telah dilakukan belum cukup efektif menahan laju sedimentasi.

“Hampir setengah bulan dikeruk, tapi banjir datang lagi membawa lumpur baru dan terjadi sedimentasi lagi,” katanya.

Karena itu, pihaknya meminta pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan agar melakukan pengerukan secara berkelanjutan.

"Kami sangat berharap kapal keruk atau ekskavator bisa terus bekerja karena kehidupan nelayan sangat bergantung pada alur ini,” ucapnya.

Di tengah kondisi sulit, Teguh mengapresiasi bantuan dari Pemerintah Kabupaten Batang kepada para nelayan.

“Ini bukti bahwa pemerintah daerah hadir dan peduli terhadap nelayan,” ujarnya.

Ia menegaskan, tanpa penanganan serius terhadap sedimentasi Sungai Sambong, persoalan serupa akan terus berulang setiap musim baratan.

"Kalau alur ini tidak diselamatkan, ini akan menjadi masalah besar dan berkepanjangan bagi nelayan,” pungkasnya.

Rekomendasi