Ribuan nelayan di Kabupaten Pandeglang dan Lebak, Banten, terpaksa tidak melaut selama sebulan terakhir akibat cuaca ekstrem. Angin kencang disertai gelombang tinggi dan curah hujan yang intens membuat aktivitas penangkapan ikan sangat berbahaya. Kondisi ini telah berdampak signifikan pada kehidupan ekonomi para nelayan tradisional di wilayah tersebut.
Sejak awal Januari 2026, perairan pesisir Selat Sunda bagian barat dan selatan dilanda gelombang setinggi hingga 4 meter. Situasi ini memaksa ribuan nelayan untuk menambatkan perahu mereka guna menghindari potensi kecelakaan laut. Keselamatan menjadi prioritas utama bagi mereka di tengah kondisi laut yang tidak bersahabat.
Para nelayan, seperti Amat (55) dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Labuan, Pandeglang, memanfaatkan waktu ini untuk memperbaiki peralatan. Sementara itu, banyak yang beralih mencari mata pencarian alternatif demi memenuhi kebutuhan keluarga. Peringatan dini dari pemerintah daerah juga telah dikeluarkan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Advertisement
Advertisement
Amat (55), seorang nelayan dari TPI Labuan, Pandeglang, mengungkapkan bahwa mereka memilih tidak melaut karena kondisi yang membahayakan. Angin kencang dan gelombang tinggi membuat hasil tangkapan nihil dan berpotensi merugikan. Selama tidak melaut, ia dan rekan-rekannya menghabiskan waktu untuk memperbaiki jaring yang rusak. Keputusan ini diambil demi keselamatan dan menghindari kerugian lebih besar di laut.
Kondisi cuaca buruk ini tidak hanya terjadi di Pandeglang, tetapi juga meluas ke Kabupaten Lebak. Nelayan tradisional di kedua wilayah tersebut menghadapi tantangan serupa. Mereka yang mengandalkan perahu kecil dengan mesin motor tempel sangat rentan terhadap gelombang tinggi dan angin kencang.
Wading, Ketua Koperasi Nelayan Bina Muara Sejahtera Binuangeun Kabupaten Lebak, membenarkan bahwa anggotanya tidak melaut. Ia menjelaskan bahwa para nelayan memilih tinggal di rumah karena gelombang laut yang mencapai 4,0 meter. Ini adalah langkah antisipasi untuk menghindari kecelakaan di laut yang berisiko tinggi.
Advertisement
Advertisement
Meskipun tidak melaut, para nelayan tradisional tidak berdiam diri. Banyak dari mereka yang merupakan anggota koperasi, kini mencari usaha lain untuk menopang ekonomi keluarga. Ini menunjukkan ketahanan dan adaptasi mereka dalam menghadapi kesulitan ekonomi akibat cuaca ekstrem.
Kepala Bidang Pengelolaan Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Lebak, Rizal Ardiansyah, telah mengeluarkan imbauan penting. Ia mengingatkan seluruh nelayan untuk selalu menggunakan alat keselamatan seperti pakaian pelampung saat melaut. Imbauan ini sangat krusial mengingat risiko tinggi di perairan.
Dinas Perikanan Kabupaten Lebak juga telah menyebarkan surat peringatan dini kewaspadaan gelombang tinggi. Surat ini ditujukan ke seluruh TPI dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Langkah ini bertujuan untuk mencegah kecelakaan laut dan memastikan semua pihak waspada terhadap potensi bahaya.
Advertisement
Advertisement
Jumlah nelayan yang terdampak di pesisir selatan Kabupaten Lebak mencapai sekitar 3.600 orang. Mereka tersebar di berbagai lokasi seperti Pantai Binuangeun, Karangmalang, Bagedur, Cihara, Suka Hujan, Pasput, Cibobos, Panggarangan, Bayah, Karangtaraje, Pulomanuk, dan Sawarna. Kondisi gelombang tinggi yang mencapai 4,0 meter membuat aktivitas melaut sangat terbatas.
Relatif kecilnya jumlah nelayan yang berani melaut menunjukkan tingkat keparahan cuaca. Sebagian besar memilih untuk tidak mengambil risiko demi keselamatan diri dan keluarga. Hal ini juga berdampak pada pasokan ikan di pasar lokal.
Situasi ini menekankan pentingnya dukungan pemerintah dan komunitas untuk membantu nelayan mengatasi masa sulit ini. Program bantuan atau pelatihan keterampilan alternatif dapat menjadi solusi sementara bagi mereka yang tidak dapat melaut.
Advertisement
Sumber: AntaraNews